
"Mengapa murung, ta?
Bukankah kau baru pulang dari pesta?".
Dewi yang telah duduk lama di ruang tamu menyambut kedatangan Dita. Hana telah tertidur satu setengah jam yang lalu. Dan Dewi serta Chandra tak juga bisa tertidur.
"Mmu....murung?".
Dita mencoba menghilangkan jejak kesedihannya. Ia tak mau bila sampai Chandra dan Dewi tau tentang usahanya mendekati Kara.
"Tidak. Hanya kelelahan, ma.
Oh ya......
Aku..... ada hal yang ingin aku ungkapkan pada mama dan papa".
Chandra dan Dewi saling pandang.
Ada banyak tanya yang ingin mereka ucapkan.
"Katakan".
Chandra berkata dengan tenang.
Dewi...... Wanita itu bahkan tak mengucap satu patah kata pun.
Menunggu apa yang hendak Dita katakan.
"Aku ingin tinggal sendiri.
Tidak jauh, pa. Aku akan cari tempat tinggal yang dekat dengan rumah ini agar dengan mudah aku bisa mengunjungi mama dan papa".
Hening. Chandra menatap lekat Dita.
"Istriku mengangkatmu menjadi putri, hidup diantara keluarga kami, semata untuk tinggal bersama, dengan harapan kau menerima kasih sayang kami secara utuh, Dita.
Kau masih ingin pergi setelah besar?".
"Aku akan sering-sering berkunjung, pa".
"Apa kau memiliki rencana yang cukup menyimpang dan tak kami ketahui?".
Dewi mengernyitkan kening, curiga.
Dita tersentak.
"Rencana apa, ma? Aku..... aku hanya ingin mandiri. Itu saja".
"Akan aku pikirkan.
Sepertinya sudah saatnya dia segera tau diri.
Kekeras kepalannya membuatku muak, wi.
Kita besarkan seorang pembangkang dengan kasih sayang, sayangnya..... dia tak cukup memiliki rasa terima kasih.
Sekarang.... biarkan dia pergi, namun jangan harap membawa Hana.
Aku tak mau dia membawa pengaruh buruk pada anak yang tak berdosa itu.".
Chandra berlalu pergi dengan menggenggam tangan Dewi. Chandra tak pernah se-sensitif ini.
Saat tadi Dita berpamitan, insting tajam Chandra telah menangkap gelagat tak baik dari Dita.
Tiba-tiba.....
Nurani Dita berteriak protes dengan histeris.
Hatinya seolah memberontak ambisi yang hendak ia luluskan. Jiwanya memberontak dengan hebat nya. Batinnya mengalami gejolak hebat.
Sayangnya, nuraninya telah terkalahkan oleh ambisinya.
Tidak!!!
Dita tetap akan bertekad untuk tetap teguh pada pendiriannya.
Itu telah final menjadi keputusannya.
********
__ADS_1
Kara tengah berjalan pelan menapaki tangga menuju kamarnya.
Malam belumlah terlalu larut, namun kantuknya tiba-tiba datang menyerang.
Sepertinya, dirinya tengah kelelahan akibat aktifitas sehariannya yang tanpa henti.
"Mas.....".
Suara lembut Aluna tetiba menyapa gendang telinganya. Kara menoleh dan menebar senyum manisnya.
Maka, dengan semangat tinggi, Aluna segera berhambur ke dalam pelukan Kakaknya.
"Kau..... kapan tiba?".
"Tadi saat waktu menjelang makan malam. Papa dan mama tengah pergi berdua untuk mengurus sesuatu, kak Ridha sedang mengerjakan pekerjaannya dan sibuk dengan laptopnya.
Jadilah aku hanya di temani kak Hanum.
Beruntung kak Alma dan mas Arlan baru datang".
Senyum Aluna mengembang dan demikian menyejukkan.
"Sekarang, di mana kak Hanum?".
"Kurasa..... ada di kamarnya. Aku memang menyuruhnya istirahat, karna aku telah di temani kak Alma dan mas Arlan
Ku lihat, kak Hanum menguap beberapa kali".
"Baiklah..... mas istirahat lah.
Sepertinya, Aku juga telah lelah."
Dan Kara memperhatikan adiknya yang telah memasuki kamarnya.
Setelah memastikan Aluna masuk ke dalam kamar, barulah Kara menuju kamarnya.
Entah.....
Ia tengah rindu penyambutan Hanum saat dirinya baru pulang.
Dan benar saja.......
Di mata kara, entah bagaimana caranya, Hanum selalu nampak mempesona setiap saat.
Saat di luar rumah, Gelenyar rindu selalu menggelayuti Kara meski ia baru beberapa melangkah dari rumah.
Dari sini Kara telah memastikan, bahwa ia mengakui, telah terjerat pesona istrinya.
Tak di ragukan lagi, Kara benar-benar mencintai istrinya sekarang.
"Mas.... Bagaimana meeting nya? Apakah lancar?".
Kara segera membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Ya, begitulah. Aku lelah dan ingin istirahat".
"Apakah ingin membersihkan diri dahulu?".
"Tidak. Langsung berganti pakaian saja.
Ayo tidur, aku kelelahan hari ini".
Dan Hanum segera mengambil piyama untuk suaminya. Kebahagiaan telah Hanum rasakan saat ini. Sayangnya, belumlah sempurna, mengingat ia masih belum mewujudkan harapan suaminya untuk segera menghadirkan anak di tengah-tengah mereka.
Hanum yakin, seiring berjalannya waktu, masa itu pasti tiba.
"Dua Minggu lagi, aku ada perjalanan bisnis ke Jerman. Kau mau ikut?
Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda lama".
Kara tersenyum lembut.
Ketulusan yang selama ini tak pernah Hanum temui, kini nampak terrpancar jelas di mata Kara.
Saat ini, mereka telah berbaring di ranjang dengan posisi berhadapan.
"Baiklah, mas. Aku mau-mau saja. Sepertinya ide yang bagus.
Tapi...... sebelum berangkat, aku ingin kita mengunjungi ibu ku dulu. Mungkin berpamitan.
__ADS_1
Mas ..... Bersedia?"
"Baiklah. Akhir pekan kita kesana. Nanti membeli sesuatu dulu untuk oleh-oleh".
"Mas......".
Raut wajah Hanum mendadak sendu.
"Ada apa?".
"Terima kasih atas segalanya".
Kara tersenyum lembut.
"Hmmm. Ngomong-ngomong..... Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Katakan saja".
"Tentang kakakmu, Callista.......
Mengapa hingga kini ia tak berumah tangga?
Bukankah dia wanita yang cantik dan tak jauh berbeda denganmu?".
Kara bertanya dengan hati-hati. Ia tak mau menyinggung perasaan istrinya.
"Hhhhhh......".
Hanum menghela nafas panjang.
"Kakakku tak tertarik untuk menjalani sebuah komitmen, dan tak ingin mengikat diri dalam sebuah ikatan pernikahan."
"Mengapa demikian?".
"Kakak trauma atas kehancuran ini, mas.".
Air mata Hanum meluruh seketika.
"Keseharian kami, hidup dalam serba kekurangan. Harta yang papa miliki di rampas paksa. Bahkan papa telah tiada di tangan ibu tirinya. Ada banyak lelaki kaya yang datang melamar kak Callista.
Sayangnya.......
Tak satupun yang mampu membobol pertahanan kakak.
Kakak tak ingin mengalami hal yang sama dengan apa yang ibu ku alami.
Itu lah alasannya".
Jemari kara perlahan terulur mengusap lembut pipi istrinya yang berlinang air mata.
Dalam hati Kara berjanji, Akan membahagiakan Istrinya dengan penuh kasih sayang, melimpahkan banyak kemewahan yang tak pernah istrinya itu miliki selama masa-masa kehidupan yang cukup menyulitkan.
"Ya sudah. Sekarang telah berbeda, bukan?
Mati kita ubah cara pandang kakakmu perlahan. Kurasa.....
Mungkin dengan membuka hatinya untuk pria manapun yang singgah di hatinya, akan membuat kakakmu luluh, nanti".
Hanum menganggukkan kepalanya dengan menyertakan senyum.
"Terima kasih, mas".
"Baiklah....
Tapi kurasa....... Malam ini tak bisa terlelap. Terlanjur hilang rasa kantukku".
Hanum yang mendengar pernyataan istrinya, mengangkat kedua alisnya karna bingung.
"Maksudnya?".
"Kurasa aku butuh suntikan vitamin darimu, dan butuh olah raga ranjang untuk memancing rasa kelelahan.".
"Oh mas, bukankah tadi kau ak..... mmphhhh".
Maka, dengan cepat Kara membungkam istrinya dengan meraup bibirnya.
Rencana yang semula untuk segera beristirahat, kini berubah menjadi sebuah aktifitas panas mereka.
Malam ini, mereka kembali memadu kasih dalam syahdunya malam. Menumpahkan rasa cinta lewat tarian alam yang mereka mainkan sendiri, menumpahkan rasa kasih lewat pemenuhan kebutuhan dalam gerakan primitif yang mereka ciptakan melalui naluri yang mereka ciptakan berdua.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁