Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pertemuan di Pasar


__ADS_3

Hana menarik tangan Aksa secara paksa, dan membuat Aksa semakin was-was dan menajamkan intuisinya.


"Tapi, aku tak bisa Hana. Kita bisa makan siang bersama lain waktu dan aku akan mengajak istriku untuk ikut serta. Jangan khawatir, masih banyak waktu, kan?" Aksa menangkap gelagat lain dari Hana.


Mungkin di mata Hana, Aksa tak bisa membaca raut dan juga kilatan matanya. Sayangnya, itu adalah keahlian yang sudah diasah pada Aksa oleh Radhi untuk bisa mengetahui emosi lawan bicara.


"Yah, tadinya aku pikir kita bisa makan siang bersama." Hana menatap Aksa kecewa. "Lagi pula, istrimu juga mungkin tak suka jika aku mengajakmu makan bersama."


"Jangan begitu Hana, istriku gadis yang baik. Oh ya, agaknya aku sudah waktunya kembali ke kelas. Maaf aku tak bisa lama-lama bicara denganmu. Lain waktu kita bisa bertemu lagi. Bye."


Aksa berlalu pergi, meninggalkan Hana yang berdecak tak suka. Kilat matanya tampak berbahaya. Ada keinginan mencelakai yang kuat dari sorot mata Hana menurut Aksa.


Sepanjang langkah Aksa menuju kelasnya, lelaki itu diam dengan raut wajah datar. Suami Yasmin itu memikirkan tentang apa yang istrinya katakan. Benarkah dengan apa yang Istrinya itu katakan tentang Hana?


Aksa ingin membuktikan ucapan istrinya, namun ia tengah memikirkan caranya.


Yasmin sedang duduk seorang diri di kursinya, saat Aksa datang. Gerombolan siswi seperti tengah membicarakan Yasmin dan Yasmin tak peduli akan hal itu.


"Aksa, aku dengar kau belakangan ini sering jalan dengan Yasmin. Beberapa teman-teman juga membenarkan hal itu. Apakah kalian sepasang kekasih seperti rumor yang beredar?"


Yuna, salah satu teman sekelas Aksa dan Yasmin bertanya, sambil melirik judes ke arah Yasmin.


"Perlukah aku menjawab pertanyaan itu? Pergilah Yuna, bel masuk telah berbunyi dan aku tak ada waktu meladenimu." Aksa berkata pelan dan datar. Matanya melirik Yasmin yang menatap ke arahnya, agar Yasmin menyelamatkannya dari situasi ini.


Bukan hanya Yuna, melainkan ada dua teman Yuna yang kini juga sedang menatap Aksa penuh puja.


"Aku hanya bertanya, Aksa. Lagi pula, kira-kira saja kau sungguhan bersama Yasmin sebagai sepasang kekasih. Aku pikir itu hanya lelucon semata. Bahkan Yasmin kalah jauh denganku."


Yasmin menggebrak meja. Wanita itu menghampiri Aksa dan menggamit lengan suaminya itu.


"Pergilah, Yuna. Bahkan aku dan Aksa akan bertunangan selepas lulus nanti. Jadi jangan mengganggu Aksa dan jangan memancing masalah denganku." Yasmin berkata tegas.


"Kau menantang kami?" Diana, teman Yuna menimpali untuk membela anteknya. Tentu saja Yasmin tak gentar sama sekali. Hidup miskin dan sering bermain dengan banyak anak jalanan, membuat Yasmin sedikit bisa ilmu bela diri ringan.

__ADS_1


"Kau mau berkelahi denganku? Kau tahu bahwa aku pernah mematahkan tangan salah satu siswa sewaktu kelas sepuluh. Andai orang tuamu menuntut, aku tak takut. toh aku calon menantu pemilik yayasan ini, tuan Radhi Praja Bekti."


Yuna dan kedua temannya hanya mendengus sebal seketika. Hingga kemudian guru datang, dan Yuna berlalu dari bangku Aksa. Begitu juga Yasmin yang juga berlalu setelah Aksa memberi cium jauh pada Yasmin yang jengah seketika.


Aksa berhasil membuat Yuna dan kedua temannya mundur, tak lagi berani mengganggunya.


--


Sore telah tiba. Dion tengah mengantarkan Inora untuk pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan mereka untuk dua hari ke depan. Maklum saja, selama ini Dion tak membiarkan Inora pergi sendirian kemana pun, karena riwayat masa lalu Inora yang pernah depresi.


Suasana pasar tengah ramai kali ini. Lihat saja, bahkan Inora juga membeli banyak bahan makanan untuk menjamu besannya nanti malam.


Beberapa hari lalu, Kara berkata akan berkunjung ke rumahnya, namun urung akibat ada urusan mendadak. Jadilah malam nanti Kara akan datang ke rumahnya.


"Sudah, sayang? Ya Tuhan, ini belanjanya banyak sekali. Yang datang hanya ada tuan Kara dan nyonya Hanum, bukan keluarga besar Praja Bekti."


Dion berseru pada istrinya itu.


Baru saja Inora kembali melangkah, tubuh Inora terpaku, saat dilihatnya dengan jelas, sosok lelaki masa lalu yang sedang menatapnya dan berjalan menghampirinya.


"Sore, tuan Dion, nyonya Nora. Apa kabar?" Alex menunduk sebentar untuk memberi hormat. Hingga lantas Dion pun melakukan hal serupa.


"Sore juga, tuan Alex. Sedang berbelanja?" Dion bertanya lirih sambil tersenyum.


"Ya. Hesti sedang ingin makan jajanan tradisional. Mamanya tak sempat mengantar karena ada meeting penting sore ini." Alex menjawab, sembari sesekali menatap ke arah Inora.


"Papa, makanannya belepotan ke pipiku." Hesti menghampiri Alex, papanya dan Alex segera mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan mulut dan pipi Hesti yang belepotan gula merah cair.


Hati Inora seolah terasa di remas seketika. Ia teringat dengan Marcel yang sedikit pun tak merasakan kasih sayang ayah biologisnya. Dion pun jarang menjumpai Marcel karena jarak tempat yang memisahkan. Sungguh Malang nasib Marcel.


"Sayang, papa sudah bilang, tidak bisakah di makan di rumah saja? Lihat, papa bahkan tak membawakan tissue untukmu." Alex berdecak lirih.


"Aku sudah lama tak jajan seperti ini. Mama seolah tak memiliki waktu menemani Hesti. Ayo pa, Hesti ingin beli kue cucur yang di sana. Besar-besar dan Hesti ingin makan itu." Gadis remaja itu tersenyum pada Inora dan Dion sekilas, menundukkan wajah sebentar, sebelum kemudian akhirnya kembali merengek pada Alex.

__ADS_1


"Ya sebentar lagi." Pandangan mata Alex beralih pada Inora dan Dion. "Maaf, nyonya, tuan, saya harus duluan. Mungkin lain waktu, kita bisa berbincang lagi lebih lama. Saya ingin bisa lebih dekat dengan anda."


"Baiklah, tuan Dion. Jika tak keberatan datanglah ke gubuk kami, atau kita bisa bertemu di luar untuk makan malam bersama. Agendakan saja."


Alex mengangguk. "Tentu saja, tuan Dion. Baiklah, mari."


Alex berlalu pergi dari sana, meninggalkan Inora dan Dion. Tentu saja Inora berdecak sebal pada suaminya itu.


"Kau ini. Aku tak akan ikut jika kau mengadakan janji temu dengan Alex. Ingat, mas. Kemungkinan terkuaknya indentitas Marcel sebagai anak biologis Alex, adalah intensitas pertemuan yang sering. Jangan membuat ulah."


Inora memutar bola matanya jengah.


"Sudahlah, lagi pula tadi Alex dulu yang menawarkan."


"Harusnya kau menolak tadi. Aku tak suka bila mereka harus mengorek informasi tentang keluarga kita."


Dion mengangguk dan hanya tersenyum. Bisa Dion rasakan, Inora benar-benar mengunci rapat pintu hatinya untuk masa lalunya. Agaknya, Inora belum bisa berdamai dengan masa lalunya.


"Baiklah, senyamanmu saja. Hanya saja, jika kita sudah berusaha untuk menyembunyikan identitas Marcel sebagai anak tuan Alex, namun takdir tetap mempertemukan mereka, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku harap kau mengerti."


"Jangan membicarakan takdir lagi. Aku tak mau dan tak akan pernah mau membuat Yasmin dan Aksa harus mendapat imbasnya jika Marcel ketahuan sebagai darah daging Alex."


"Ya, baiklah."


Keduanya kembali berlalu dan melanjutkan aktifitas mereka. Tak mereka duga, kini mereka telah berbicara tentang masa lalu, di dekat pengawal Alex yang biasa Alex tugaskan untuk selalu mengawasi Hesti.


Setelah ini, Alex pasti akan mencari tahu dan mengorek hingga jelas maksud dari apa yang mereka perbincangkan saat ini.


Takdir......


Sesungguhnya takdir adalah sesuatu yang tak bisa di lawan.


**

__ADS_1


__ADS_2