
Suasana ruang makan demikian hening ketika itu.
Radhi bersikap seolah ia tengah tenang dan baik-baik saja. Padahal...... sorot matanya menunjukkan banyak emosi ganjil.
Apapun yang terjadi di masa lalu, tidak satu pun yang terlewat begitu saja dari awasannya.
Kesannya, Radhi adalah sosok yang tenang dan terkesan cuek terhadap banyak hal. Namun nyatanya, ia menyimpan banyak teka-teki dan pengetahuan yang tidak di ketahui semua anggota kelurganya.
Sebagai kepala keluarga, Radhi tentu telah memantau banyak hal mengenai satu per satu keturunannya.
"Opa, Minggu depan aku tak jadi ikut papa ke Aussie.
Ada tugas sekolah yang harus Aksa selesaikan, dan harus segera di nilai paling lambat akhir bulan."
Ucap Aksa. Suasana mendadak hening.
Hanum yang semula memancarkan sinar kebahagian, kini mendadak murung. Niat hati dirinya ingin menenun bahagia bersama putranya yang tak pernah di ijinkan tinggal dengannya, tapi harus mendadak kacau akibat tugas sekolah.
Jelita-Radhi hanya tersenyum tipis, namun tidak dengan hatinya yang terbahak.
Semua ini, memang ulah kedua paruh baya itu yang seolah tak membiarkan Aksa lepas dari jangkauan mereka.
"Tapi..... papa sudah merancang jadwal ini dari sebulan lalu, Aksa. Mama mu juga sudah rindu akan kebersamaan kita".
Kara berkata lembut. Ia tak mau mendapat semprotan amarah dari Jelita bila sedikit saja Kara berbicara nada sedikit tinggi terhadap putranya.
Semua orang saudara-saudari juga keponakan-keponakannya hanya menyaksikan tanpa berniat ikut campur.
"Tapi didikan opa adalah Aksa harus disiplin, pa.
Mengutamakan yang berhubungan dengan pendidikan dari pada harus berlibur yang bisa di lakukan kapanpun.
Maaf, lain waktu Aksa akan bersedia piknik bersama papa dan mama".
Aksa berkata pelan. Kebijaksanaan Radhi mulai terlihat menurun saat ia, berusaha membesarkan hati kedua orang tuanya.
Suasana kembali hening.
Hingga suara Aridha memecah kesunyian yang melingkupi mereka.
"Ehm.... Yasmin..... kau benar.... teman dekat keponakanku?".
Yasmin berusaha tenang. Tapi tidak di mata Jelita, Kara, Radhi dan Aridha. Tingkahnya semakin terlihat gugup.
"Iya, nyonya. Kamu saling dekat".
"Panggil aku Tante".
"Baiklah, Tante".
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana?"
"Di sebuah kompleks yang tak jauh dari sekolah kami".
Aridha hanya mengangguk dan berdaham pelan.
Beruntung Alex dapat menyembunyikan rasa ketidak nyamanan ini setelah Yasmin menyebutkan, bahwa Yasmin adalah putri Inora dan Dion.
"Aksa..... Kau boleh bermain-main. Tapi tidak dalam mempermainkan wanita".
Jelita tiba-tiba berkata demikian.
Wanita paruh baya yang nampak masih terlihat seperti wanita berusia awal tiga puluhan karena awet muda, berkata datar. Pikirannya tengah berkecamuk akan kejadian masa lalu yang menimpa dirinya. Ia tak mau masa kelam itu, juga menimpa pada cucunya.
Radhi tau itu.
Tapi ia hanya diam. Tak satu pun yang menimpali ucapan jelita, kecuali Aksa yang memang di ajaknya bicara.
"Iya, Oma. Aksa akan selalu menjaga batasan Aksa.
Tapi..... Aksa benar-benar mencintai Yasmin".
Pernyataan Aksa yang begitu mengejutkan Yasmin itu, mampu membuat Yasmin melotot ke arahnya.
Mengapa harus totalitas sekali? Begitu pikir Yasmin.
Tingkah Yasmin tak luput dari tatapan semua anggota keluarga Praja Bekti. Tentu hal itu menjadi keanehan tersendiri bagi mereka.
Yasmin mengerang frustasi dalam hati.
Mata Aksa seolah berpendar menyilaukan cahaya cinta dari netranya. Kara dan Hanum saling pandang dan merasa tak percaya.
Benarkah Aksa sudah se-dewasa ini?
"Bagus. Jangan setengah-setengah dalam hatinya mencintai seorang wanita, Aksa.
Dan satu lagi. Jangan membuat hati wanita terluka. Kau juga Soumya saudari dan keluarga wanita. Jangan sampai mereka menerima karma atas perbuatan jahat".
"Aksa mengerti Oma. Yasmin sumber kebahagiaan Aksa saat ini".
Jemari Aksa terulur meraih jemari Yasmin yang bersembunyi di bawah meja. Menyeretnya pelan untuk di atas meja. Memperlihatkan pada keluarganya, betapa erat Aksa menggenggam tangan Yasmin.
Semua mata membelalak tak percaya ke arah Aksa.
"Selesaikan dulu sekolah dan kuliahmu, Aksa.
Setelahnya, opa akan membiarkanmu menikahi nya.
Jangan mengecewakan opa dan buat opa bangga padamu".
__ADS_1
Radhi yang dari tadi hanya bungkam, kini memilih ikut bersuara.
"Tentu, opa".
'Kau sudah dewasa dan mengenal cinta, nak.
Namun mama merasa kurang dalam merawatmu.
Andai Oma mu memberikan mama kesempatan untuk tinggal dengamu' ~Hanum.
**
"Apa maksudmu tadi kau mencintaiku?
Jangan gila tuan muda Praja Bekti yang terhormat.
Aku bukan kekasihmu".
Yasmin menghardik kasar Aksa saat ini. Posisi mereka saat ini tengah berada di dalam mobil Aksa yang akan mengantarkan Yasmin pulang.
Aksa menoleh sekilas ke arah Yasmin. Tatapan matanya datar tanpa riak emosi apapun di dalam netra matanya.
"Ini bagian dari perjanjian, Yasmin. Jangan membantah atau aku akan menendangmu tanpa perasaan dari sekolah terbaik di negeri ini".
Yasmin menggemeletukkan giginya tertahan.
emosinya akan mudah meledak andai Aksa tak mengancamnya hingga sedemikian rupa.
"Kau benar-benar brengsek, Aksa."
"Aku tak peduli. Persiapkan dirimu tiga hari lagi. Tiga hari lagi ada acara ulang tahun pernikahan Tante Luna dan om Seno. Aku mau kau bersikap layaknya kekasih dan menghalau para gadis-gadis ganjen yang berusaha merayuku.
Kalau kau bertanya mengapa harus dirimu?
Maka jawabannya karna dirimu lah satu-satunya yang memiliki wajah judes level tinggi".
Aksa terkekeh pelan.
"Kau....."
Sumpah demi apapun juga. Rasa-rasanya Yasmin ingin ******* Aksa dan memasukkannya ke dalam lambungnya. Ia tak habis pikir mengapa Aksa demikian mengganggu nya.
Hingga mobil Aksa hampir tiba di halaman rumah sederhana milik Yasmin.
"Aku tak mau kau jadikan pionmu. Aku tak mau kau jadikan alat untuk kepentinganmu. Aku juga tak mau kau memanfaatkan ku sedemikian rupa. Aku tak pernah membuat masalah denganmu. Aku tidak......."
Ucapan Yasmin terhenti ketika wajah Aksa hampir saja menempel dengan wajahnya.
Dan debar jantung di dadanya semakin bertali kencang tanpa........
__ADS_1
🍁🍁🍁