
Siang ini, seperti biasa, Yasmin dan Aksa tengah istirahat berdua saja. Semenjak ada Yasmin yang berubah status menjadi pacar bohongan Aksa, Aksa seperti tidak lagi butuh teman-temannya. Lelaki itu lebih nyaman berdua saja dengan Yasmin, dan entah apa sebabnya.
Dulu, Aksa tidak seperti ini. Tapi belakangan sehari saja tanpa menghabiskan waktu bersama Yasmin, otaknya mendadak tak bisa diajak kompromi. Moodnya bisa mendadak ambyar.
"Kau mau makan apa siang ini, Yasmin?" tanya Aksa sesaat setelah mereka telah tiba di kantin. "Aku bosan sebenarnya makan disini, kurasa makan di resto depan lebih nyaman." Tambah Aksa sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Halah, alasan! Dengan tampangmu yang seperti ini, sekalipun kau berada di kutub Utara, kau akan tetap menjadi pusat perhatian. Jangan bodoh, Aksa. Tidak di kantin, tidak di resto, kau akan tetap digilai banyak wanita. Benar-benar kehidupan yang membosankan." Seloroh Yasmin kemudian. Bila gadis umumnya menyukai memiliki kekasih tampan, tapi berbeda dengan Yasmin.
"Beginilah risiko orang tampan." empat kata yang meluncur dari mulut Aksa, membuat Yasmin menghentikan langkah dan memutar bola matanya jengah. "Atau mungkin kekasih Bohonganku ini terlalu terbawa peraaaan? Bersyukurlah karena kau masih bisa dekat denganku, Yasmin. Ada banyak wanita yang saat tergila-gila padaku, namun mereka tak bisa mendapatkan posisimu."
Aksa berbisik lirih, takut-takut jika ada yang mendengar apa yang ia ucapkan baru saja.
"Hah? Tampan apanya? bahkan aku tak berminat sama sekali meskipun kau tersuguh di depan mataku."
__ADS_1
"Oh benarkah? Sepanjang hidupku, banyak wanita yang sangat menggilai aku.
Sayangnya,kau adalah satu-satunya wanita yang menolak mentah-mentah pesonaku." ujar Aksa datar sembari membenarkan letak kacamata hitamnya. Lelaki itu lantas berbalik pergi, meninggalkan Yasmin Yangs udah lelah akibat selalu mengekor di belakang Aksa
"Hei, tunggu. Kau mau kemana?" tanya Yasmin setengah berteriak, tanpa peduli tatapan selidik dari para siswa-siswi lainnya.
"Ke kelas. Ayo " Aksa melambaikan tangannya ke arah Yasmin. Tentu saja Yasmin menurut dan setengah berlari mengejar kekasihnya itu.
"Kau tadi bilang lapar, tapi kenapa kau justru kembali ke kelas?" tanya Yasmin yang mempercepat langkahnya, menyejajarkan langkahnya dengan langkah Aksa agar ia tak ketinggalan.
"Wow, kurasa kau ajaib, Aksa. Biasanya, lelaki normal pasti akan dengan senang hati bila dikejar oleh bangsa wanita. Sayangnya, agaknya kau ini luar biasa dan istimewa."
"Maka, bersyukur dan bermimpi lah untuk menjadi istriku di masa depan." tambah Aksa lagi.
__ADS_1
"Cuih," Yasmin berpura-pura meludah karena Aksa terlalu banyak mimpi baginya. "Menjadi istrimu bukan mimpi, tuan muda Praja Bekti. Tetapi mencintaimu adalah bagian dari tragedi."
Tanpa terasa, mereka kini telah tiba di dalam kelas, membiarkan beberapa murid perempuan tersisa dalam kelas sembari memakan bekal mereka dari orang tua. Ketika Aksa dan Yasmin masuk kelas, mereka tampak sekali tengah berbisik-bisik
"Yasmin, aku ingin bicara beberapa hal padamu, termasuk untuk mengajakmu datang ke acara ulang tahun rekan bisnis papaku di hotel dekat salon Oma." ajak Aksa sembari mendudukkan tubuhnya.
"Bicara saja, kurasa kau tak perlu izin karena memang sejak dulu suka bicara." ucap Yasmin asal, alih-alih marah, Aksa justru terkekeh mendengarnya. Namun sejurus kemudian, Yasmin baru sadar dengan kalimat Aksa tadi.
"Hah? Acara lagi?" menjadi kekasih bohongan Aksa, cukup merepotkan dengan banyak acara.
"Ada sebuah kejutan untukmu."
"Untukku? kejutan apa?"
__ADS_1
"Kau akan tau nanti. Jika kuberi tau sekarang, bukan kejutan namanya."
**