
Lama Yasmin menunggu Aksa di dalam mobil seorang diri. Tetapi agaknya Aksa memang tak tau diri dan mengabaikan istrinya itu. Ingin sekali rasanya Yasmin. berteriak pada Aksa, memberi tahu lelaki itu bahwa Yasmin ingin pulang. Sayangnya, Yasmin tak sebar-bar itu.
Dengan perasaan murka dan wajah tak enak dipandang, Yasmin kembali membuka pintu mobilnya dan memanggil Aksa. tentunya dengan perasaan dongkol setengah mati.
"Kita jadi pulang atau tidak? Jika tidak, aku akan berjalan kaki." Ungkap Yasmin, membuat Aksa menepuk jidatnya karena lupa akan keberadaan Yasmin yang ia abaikan sejak tadi.
"Ya sudah, Hana. Lain waktu aku akan membawa istriku ke rumah opa Chandra. Sampaikan salamku pada opa Chandra dan Oma Dewi. Aku merindukan mereka."
Gadis itu adalah Hana, putri Dita dan Daniel yang dulu pernah disembunyikan dari publik untuk menutupi kebobrokan Dita demi harga diri Adi Prama. Tak ada perasaan apa pun dari hana untuk Aksa. ia hanyalah menganggap Aksa sebagai saudara. Tak lebih.
"Ya, baiklah. Jangan lupa untuk kenalkan aku dengan istrimu, Aksa. Aku pamit, pekerjaanku sudah menungguku." Wanita yang di panggil Hana itu berlalu begitu saja dari hadapan Aksa. Yasmin tentu tak nyaman dengan pemandangan yang baru saja ia dapati. Tapi entah karena apa, Yasmin tak mengerti.
"Maaf sudah lama menunggu." Aksa memasuki mobilnya dengan perasaan campur aduk. Pemuda itu juga mendapati raut wajah Yasmin yang berubah tak nyaman. "Ada apa? Kenapa begitu? Kau sakit?"
'Ya, aku sakit hati. kau puas?' Tentu Yasmin mengatakannya dalam hati. Sedikit pun gadis itu tak mengeluarkan ujaran kebenciannya pada sikap Aksa tadi.
Sekilas Yasmin tercenung. Mengapa bisa ia sepanas itu saat Aksa bersama wanita lain? Astaga, Yasmin tak benar-benar jatuh cinta, kan?"
"Yasmin, kau mendengarku?" Tanya Aksa dan Yasmin menatapnya sekilas, sebelum ia kembali fokus pada jalanan di depan.
"Aku lelah dan aku ingin pulang, Aksa."
"Moodmu berubah buruk secara tiba-tiba. Kupikir jika tak sakit, kau sedang lapar, atau sedang ingin Jajan." Lihat saja, Aksa masih tak peka dengan apa yang tengah Yasmin rasakan. Ingin rasanya Yasmin mencakar Aksa dengan kuku-kukunya yang tak seberapa panjang itu.
"Aku tak suka kau bicara terlalu akrab dengan wanita lain, Aksa." Tandas Yasmin sambil memalingkan wajahnya.
Tanpa di duga, Aksa spontan menginjak pedal rem dengan sangat kencang saking terkejutnya.
Debaran di dada Aksa sangat cepat.
Desiran darah di dada Aksa kian deras.
Detak jantung Aksa kian mengentak liar.
Dan semua itu akibat kejujuran Yasmin padanya.
Apa memangnya yang mau Yasmin katakan selain mengakui semuanya? Yasmin merasa ia perlu jujur agar tak terulang lagi di masa depan. Ingin memberontak dan menyangkal semua yang ia rasakan, namun Yasmin tak mampu dan itu semua berjalan secara alami dan naluriah.
__ADS_1
"Apa? Apa itu artinya kau cemburu?" Aksa bertanya dengan raut terkejutnya. Biasanya, Aksa seperti Radhi yang pandai sekali menyembunyikan riak emosinya. Tapi bersama Yasmin, semuanya terasa lain.
Yasmin memang benar-benar telah mampu mengaduk segala pikiran nya.
"Cemburu? cuih. Yang benar saja?" Ungkap Yasmin kemudian yang membuat Aksa merasa terhempas seketika. "Aku tak cemburu. Hanya saja aku tak mau terlambat pulang nanti."
Yasmin berusaha menyanggah ketika ia sadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Tapi sayangnya, Aksa cukup cerdas dan tak bisa dibohongi begitu saja.
"Aku ingin kau jujur sekali ini saja, Yasmin. Oh ayolah, jangan terlalu gengsi. Kita sama-sama tahu jika tak ada yang bisa dikatakan pendosa jika hanya mencintai lawan jenis. Lagi pula, itu adalah hal yang wajar. Jadi jangan ada yang di tutup-tutupi."
Aksa berusaha mendesak Yasmin. Sejujurnya, Aksa sangat senang dengan apa yang baru saja di dengarnya. Tapi tak ada salahnya jika Aksa ingin memastikan apa yang di dengarnya dengan jelas. Aksa sungguh merasa hatinya terasa berbunga-bunga.
"Apanya? Sejak awal aku tak menyukaimu, Aksa." Yasmin masih setia menyanggah apa yang Aksa tanyakan.
"Baiklah. Mari kita buktikan di rumah. Oh ya, Yasmin. Kau ingin pulang ke rumah oma, atau di rumah ibu?" Aksa kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. "Jika kau ingin pulang ke rumah ibu, aku tak keberatan."
"Terserah kau saja." Yasmin menjawab singkat. Gadis itu masih berusaha mencerna apa yang baru saja suaminya katakan terhadapnya baru saja, hingga kemudian ia tersadar. Yasmin seperti terancam oleh suaminya sendiri. Oh astagah.
**
Biasanya jika Yasmin tengah bersekolah dan Dion tengah cuti, keduanya akan menghabiskan waktu berdua di tempat itu.
Sebuah rasa kehilangan terasa kian menyentuh hati, saat membayangkan Yasmin akan jarang pulang ke rumah itu lagi.
Entah siapa yang salah dalam hal ini. Tapi Inora bersyukur atas Yasmin yang tak benar-benar hamil di luar pernikahan.
"Aksa, Yasmin. Kalian datang?" Inora menyambut Yasmin dan Aksa dengan antusias. Tentu saja Yasmin berlari menghampiri Inora dan berlari menabrakkan diri pada ibunya itu.
"Jangan seperti anak kecil, Yasmin. Kita akan mengunjungi ibu dan ayah setiap hari." Ungkap Aksa kemudian.
"Bisa tidak, kau diam saja? Aku tak suka kau bicara begitu." Ketus Yasmin kemudian. Inora yang melihat tingkah putrinya, hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sebagai seorang istri, kau tak boleh begitu pada suami. Hormati Aksa karena Aksa adalah kepala keluarga sejak kau dipinangnya. Kau mengerti, Yasmin?" Ungkap Inora kemudian. Aksa tersenyum simpul.
"Baiklah, bu. Yasmin meminta maaf."
"Ya sudah, ayo masuk." Dion menuntun Aksa, Yasmin dan Inora untuk masuk ke dalam rumah. Yang menjadi menantu justru mencibir sikap Yasmin yang berlebihan dan kekanakan. Awas saja nanti, Yasmin akan memberi pelajaran nanti.
__ADS_1
"Ibu, ayah, nanti malam Aksa akan mengajak Yasmin untuk tidur di rumah opa. Oma yang meminta, dan besok malam, Oma mengundang ayah dan ibu untuk makan malam di rumah besar."
Aksa mengungkapkan apa yang tadi disampaikan Radhi padanya.
"Baiklah. Besok ibu dan ayah akan berkunjung kesana. Semoga ibu dan ayah tidak memalukan di depan keluarga Praja Bekti." Inora tertawa renyah. "Maklum, kami orang sederhana Aksa. Berbesan dengan nyonya Jelita dan nyonya Hanum, rasanya sangat segan."
Dion menatap istrinya, dan kini ia menemukan Inora sudah jauh lebih baik jika itu menyangkut tentang keluarga Praja Bekti. Sepertinya, perlahan Inora sudah mulai berdamai dengan takdir. Dion hanya berharap, Inora segera bisa menemukan kebahagiaan dan rasa tenang.
"Jangan begitu, Bu. Oma dan keluargaku memang kelihatannya saja sadis. Tetapi sesungguhnya Oma adalah orang yang baik. Besok papa dan mamaku akan datang dari Aussie. Jadi, ibu dan ayah harus datang."
"Baiklah. Ayah dan ibu akan segera datang besok."
Yasmin yang sejak tadi masih marah pada Aksa, kini masih bungkam dan enggan bicara. Terlebih, Aksa berniat untuk mengajak Yasmin untuk bermalam di rumahnya. Astaga, Yasmin harus apa? Takutnya Yasmin tak bisa tidur. Mengapa Aksa tak membicarakan hal ini dulu padanya?
"Rencananya, kau akan meneruskan pendidikan ke mana setelah ini, nak?" Dion kembali melemparkan suara. Aksa yang ingin bersikap hangat dan berniat bercanda, berhasil membuat Yasmin ingin sekali menjambak rambut Aksa.
"Masih belum terpikir, ayah. Tapi Oma sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mungkin nanti, setelah Yasmin berhasil melahirkan anak untuk Aksa, barulah Aksa akan melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi."
Yasmin tersedak seketika, apa lagi makanan yang di makannya adalah makanan pedas. Tentu saja hal itu berhasil membuat wajah Yasmin memerah.
"Apa-apaan kau ini? Aku bukan mesin pencetak anak, asal kau tau itu." Ucapnya dengan nada tajam.
"Terserah kau saja, jika kau tak bersedia, aku tetaplah akan memaksa."
Inora dan Dion tertawa renyah. Sepertinya pemuda pewaris Praja Bekti bukanlah pria dingin dan kejam seperti yang dirumorkan.
Di tempatnya, Yasmin bersumpah akan membuat Aksa mengemis maaf padanya.
Astaga ..... pasangan pengantin baru yang satu ini benar-benar aneh.
"Lebih baik kau saja yang melahirkan. itu jauh lebih baik."
'Lihat saja, istriku. Aku akan memberimu Pelajaran malam nanti. Pelajaran panas yang akan membuatmu mengemis padaku.' Aksa tersenyum penuh arti.
**
Khusus hari ini updatenya agak panjangan, ya? Mau crazy up kurang semangat, karna yang komen cuman dikit 😎
__ADS_1