
Alex tengah berada dalam fase menakutkan di sepanjang hidupnya. Bila biasanya tak ada yang berani menantang Alex, maka kali ini lain ceritanya. Siapa yang mengira, bahwa Marcel dijadikan sandera oleh musuhnya.
Aridha nampak berjalan tergesa menuju mobil, dan segera menaiki mobil secepat kilat, dengan Ridha sendiri yang tengah menyetir mobil. Saat Alex syok seperti ini, hanya Aridha yang mampu mengendalikan semua permasalahan.
"Ya Tuhan, perlukah kita menghubungi pengawal?" Tanya Alex yang tak bisa menyembunyikan kebingungan dalam hatinya.
"Kita tak boleh menghubungi mereka. Kita akan hadapi mereka semua bersama-sama. Ingat, mas. Salah langkah sedikit saja, maka nyawa Marcel dalam bahaya." Ucap Aridha.
"Siapa kira-kira yang berani bermain-main? Astaga, apa yang harus aku katakan kada Dion dan Inora? Bagaimana mungkin, si
Marcel yang tersembunyi bisa dijadikan sandera?" Alex tak habis pikir.
"Mas, kau membawa senjata?" tanya Ridha kemudian.
"Ada, aku menyimpannya bila nanti sewaktu-waktu nanti aku membutuhkan."
__ADS_1
"Bagus. Kita akan selamatkan Marcel. Ya Tuhan, mengapa jadi begini? Mengapa harus Marcel?" Tanya Aridha kemudian.
"Kau yakin bisa, sayang?" Alex bertanya tak percaya.
"Ya, mataku masih mampu untuk terjaga hingga esok hari."
Kini, keduanya tiba di sebuah alamat yang diberi oleh si penyandera. Sepertinya, mereka hanya sebuah geng malam yang menyukai kesunyian.
"Mas, aku harap setelah ini kau membawa Marcel pulang, pastikan Marcel tak di apa-apakan." Pinta Aridha.
Sebuah bangunan yang cukup menyeramkan menurut Ridha, berdiri tegak dengan banyak semak belukar yang menghiasi dinding dan halaman. Suasana bangunan tampak sepi, layaknya rumah kosong yang tak berpenghuni.
"Apa kau yakin ini alamatnya, mas?" tanya Aridha dengan menatap lingkungan sekitar. Tempat ini bahkan Alex dan istrinya pun berjalan memasuki perlahan bangunan kotor itu.
"Sumpah demi tuhan, alamatnya benar yang ini. Hanya saja, aku masih dilanda rasa keraguan, apa mungkin Marcel di tahan di tempat ini mengingat saat ini, tak memberikan indikasi dan tanda-tanda adanya pengawal yang saling berjaga."
__ADS_1
"Kita ikuti saja dulu permainan mereka. Jika memang darurat, aku akan menghubungi papa agar mengirim bala bantuan."
Alex dan Aridha masuk, melangkah pelan dan menambah kesan kesunyian dan menakutkan. Keduanya sesekali saling lirik, dan juga terfokus dalam pemikiran masing-masing.
"Mas, sepertinya bangunan ini cukup mengejutkan. Tampaknya sepi, tapi lihat saja, bulu kudukku pun berdiri."
Aridha berpikir, akan lebih baik bagi Aridha menghadapi puluhan musuh, namun tidak dengan makhluk astral yang menyeramkan. Aridha bahkan sanggup bertarung tanpa senjata api, asalkan ada ketapel atau lainnya.
Kini, menghadapi sesuatu yang memiliki keamanannya kuat oleh makhluk astral, itu sama saja artinya bunuh diri. Aridha hanya ingin, ia bisa hidup bahagia bersama keluarga kecilnya tanpa harus ada paksaan. Bahkan, untuk mengusik sesuatu, harus seizin pemilik. Tak mungkin juga, bukan, Aridha harus izin pada makhluk astral?
"Mas, ada suara Marcel?" Tanya Aridha lagi, yang telinganya seolah mendengar Marcel berbincang dengan seseorang.
"Astaga, mama, papa? Mama membuntuti aku?" tanya Marcel tiba-tiba, yang saat ini bahkan sudah tersenyum tanpa rasa berdosa sama sekali.
"Marcel? Kau, kau . . . kau baik-baik saja?" Aridha dan Alex sama syoknya. "Mengapa kau ada disini, sayang? Bukankah tadi Kau . . . ."
__ADS_1
**