Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Praduga sementara.


__ADS_3

"Apa kaki mama lumpuh hingga saat ini, itu akibat seseorang di masa lalu mama yang dengan teganya menyiksa mama?" Hana bertanya dengan lembut.


Baik Daniel maupun Dita saling tatap, bertanya tanpa kata, dengan banyak hal yang melintas dalam otak mereka. Sayangnya, tak ada satupun jawaban yang bisa memecahkan perkara ini. Sepasang suami istri itu merasa ada yang aneh dengan putri mereka, Gihana.


"Ada apa, Gihana? Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu. Mama memang sudah lumpuh sejak lama. Tapi kenapa, kau bertanya hal itu?" Dita berusaha menutupi semua rahasia di masa lalu. Entah mengapa, ia memiliki firasat tak nyaman.


"Tidak ada apa-apa, ma. Hanya saja, Hana ingin tahu masa lalu mama dan papa. Apakah ada kesalahan yang mama dan papa lakukan di masa lalu? Jawab saja, Hana hanya ingin tahu, tidak lebih. Andaipun ada yang salah diantara kalian, Hana tak akan menghakimi." Janji Hana.


"Kelumpuhan kaki mamamu, disebabkan karena kecelakaan, Hana. Dulu, mama dan papa memang dilanda masalah yang cukup rumit. Kehadiranmu dulu, papa tak mengetahui, Hinga akhirnya semua terungkap, dan papa berniat menikahi mamamu, dengan segenap cinta. Ya, meski saat itu mamamu sudah mengalami kelumpuhan, tak menjadi penghalang untuk cinta yang mamamu dapat dariku. Tak ada yang aneh dari kisah itu, bukan?"


Daniel juga tak ingin tinggal diam. Meski ia merasa ada yang aneh dari Hana belakangan ini, namun Daniel tetap tak ingin membuka tabir masa lalu Dita yang diperlakukan layaknya binatang oleh Kara.


"Ya. Hanya saja, aku . . . aku sekedar ingin tahu, tidak lebih. Ya sudah jika begitu, aku paham sekarang." Hana tersenyum.


Kelebihan dari seorang Hana adalah, ia menerima apa pun kondisi keluarganya. Meski kondisi Dita lumpuh, Hana tak malu memilikinya. Kendati malu, justru Hana lebih menyayangi mereka.


"Mama yakin, ada sesuatu yang membuatmu bertanya seperti itu. Katakan saja, ada apa?" Dita tetap penasaran. Ia tak mau, Hana mendengar sebuah kisah yang mengerikan di masa lalu.

__ADS_1


"Tak ada, ma. Percayalah. Aku hanya sedang jatuh cinta pada seseorang yang terlarang untuk aku sentuh dan aku miliki. Hanya saja, rasa yang sudah aku tekan ini, semakin tumbuh dan berkembang setiap waktunya. Aku tak mengerti aku harus apa." Ungkap Hana.


"Siapa? Sudah aku bilang, jangan sembunyikan apa pun dari orang tuamu."


"Aksa. Aku mencintainya." Ucap Hana pelan.


Wajah Dita dan Daniel sontak saja pucat pasi. Mereka sangat syok dan tidak menyangka, Hana akan bertindak bodoh. Dita tak ingin, kisahnya di masa lalu terulang kembali. Meski perbedaan pembawaan Kara dan Aksa sangat menonjol, namun biar bagaimana pun, Aksa adalah anak Kara, dimana pasti karakter mereka tidak jauh berbeda.


"Jangan bodoh, Hana. Jangan menciptakan masalah yang tak seharusnya ada. Demi tuhan, demi aku, demi papamu, demi nyawamu sendiri. Aku mohon hentikan perasaanmu itu. Kau bisa menjatuhkan hatimu pada lelaki yang seharusnya mampu membahagiakanmu." Dita berkata tegas. Suaranya naik satu oktav akibat emosi.


Daniel sendiri mengamati perdebatan keduanya, dengan mengusap lembut lengan Dita berulang kali. Daniel harap, Dita bisa sedikit lebih tenang dan mampu mengendalikan emosi.


"Maksud mamamu, hentikan mencintai Aksa. Aksa sudah menikah, ia juga telah menjadi miliki wanita lain. Tolong, jangan membuat masalah, sayang." Daniel mencoba untuk membujuk Hana.


"Aku semakin yakin, bahwa di masa lalu, mama benar-benar terlibat masalah." Hana menyipitkan mata.


"Ya, masalah seringkali datang dan menyebabkan kita belajar dari hal itu. Maka dari itu, kumohon jangan melanjutkan niatmu jika kau tak ingin menderita." Hana menatap Daniel. "Tolong bawa aku ke kamar saja, mas. Aku lelah dan ingin istirahat saja."

__ADS_1


"Ya, baiklah. Berjanjilah kau tak akan memikirkan masalah ini." Ucap Daniel kemudian. Dita hanya mengangguk, dan keduanya berlalu meninggalkan Hana yang termenung sendirian.


Kini, Hana duduk seorang diri, mempertanyakan penyebab dari bungkamnya mereka. Sebuah tekad menyala kuat dalam oendar mata Hana. Inilah akhirnya, Hana tak memiliki pilihan lain selain mencari tahunya sendiri.


"Jika kalian tak ingin terbuka, maka aku akan mencari tahunya sendiri. Aku tak mau, menjadi pihak yang bodoh dan tak tahu apa-apa mengenai masa lalu kalian." Gumam Hana. Ada rasa ingin tahu yang kuat yang mendorongnya.


Andai ada sesuatu yang membuat Dita lumpuh di masa lalu, dan itu karena seseorang, Hana harus tahu. Cerita Dewi baru saja, cukup membuat Hana yakin, bahwa itu adalah kisah ibunya. Meski tak bisa memastikan, namun Hana yakin bahwa Dewi telah mengetahui gelagatnya yang menciby Aksa.


Cinta. Apakah salah jika seandainya Hana jatuh cinta? Hana juga tak pernah meminta, rasa cintanya yang pertama kali tumbuh itu, tertuju untuk Aksa. Hana tak pernah menginginkan hal itu.


Melihat dari bagaimana perbedaan Dita dan juga Arlan, Ariana, membuat Hana ingin memastikan, apakah ibunya dalah putri Simpanan Chandra di masa lalu. Mengingat betapa Dita diperlakukan seolah hanya anak tiri.


"Aku harus tau semuanya." Janji Hana. Gadis itu tak akan menghentikan cintanya pada Aksa, jika ia belum tahu sesuatu.


Semua itu hanya praduga sementara Hana saja. Hana memang secerdas itu dalam menanggapi masalah.


**

__ADS_1


__ADS_2