Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Jejak


__ADS_3

Seorang wanita tengah terbaring lemah di brankar rumah sakit. Wajahnya memucat, meski tak sepucat sebelumnya.


Di sampingnya, sang suami selalu setia mendampingi.


Hanum.......


Dulu, wanita itu merasa sangat mustahil untuk mendapat perhatian dan kasih sayang utuh dari sang suami, Azkara.


Namun kini, seiring berjalannya waktu, juga karna kegigihan dan keyakinannya untuk bisa menaklukkan Kara, pada akhirnya semua usahanya berhasil.


Perasaan bahagia, hangat dan suka cita, serta Merta hadir di serial hari-hari Hanum.


Begitu juga Dengan Kara yang telah mendapati istrinya telah terbangun dari masa kritisnya.


"Mas...."


"Ya, kau mau sesuatu?".


Jemari Kara menggenggam tangan tangan Hanum.


"Aku ingin pulang. Aku tak betah bila tinggal di sini lebih lama lagi. Percayalah, aku akan sembuh seiring berjalannya waktu."


Lirihnya.


"Tidak! Kau akan pulang bila sudah sembuh. Sabarlah, sebentar lagi kau pasti sembuh"


"Aku ingin pulang sekarang".


Hanum mengerucutkan bibirnya.


Gemas, lucu, dan rasa ingin tertawa tertahan, Kara rasakan.


Dulu, ia tak suka dengan tingkah wanita yang seperti ini. Tapi saat Hanum melakukannya, ingin sekali Kara meraih dan mencubit pipinya keras.


Kau tau perbedaan antara benci dan cinta hanya sebatas benang yang menyerupai rambut?


Tipis..... Tipis sekali.


"Baiklah, aku akan bicara pada dokter".


Senyum cerah terbit di bibir Hanum yang masih nampak pucat.


*****


Di sebuah tempat yang terasa asing bagi Seno, Seno tengah berjalan dengan di giring oleh beberapa pengawal.


Langkah mereka tegak dan pasti.


Seno bisa menebak, pasti lah mereka para pengawal pilihan yang telah terlatih lama.


Mata Seno awas memandang seluruh sudu-sudut ruangan.


Rapi.......


Itulah kesan pertama yang Seno tangkap.


Ruangan bercat putih dengan plitur coklat tua di setiap kusen-kusen pintu dan jendela, menambah kesan kuat.


Di tiap sudut ruangan, bufet-bufet kecil menghiasi. Ukiran-ukiran yang menghiasinya juga cukup rumit.


Dari sini sudah bisa di pastikan, bahwa pemiliknya adalah seseorang yang tak sesederhana yang orang pikirkan, cukup rumit dan sulit terdeteksi langkah dan jalan pikirannya.


Jelita......

__ADS_1


Wanita itu adalah wanita yang anggun.


Namun siapa sangka bahwa di balik keanggunannya itu, Jelita memiliki sikap yang sulit di tebak.


Diam-diam, Seno bergidik ngeri.


Pikiran liarnya mulai tak terkontrol.


'Andai aku dan Nona Aluna bersanding, aku tak akan mungkin di perlakukan seperti apa dengan statusku yang seperti ini. Mungkin aku sudah tewas seketika saat nyonya besar mengetahui perasaan terpendamku pada putrinya.


Aku.......


Hanyalah serpihan abu di Padang pasir yang tandus, keberadaanku hanyalah wujud angin lalu yang tiada arti.


Aku........


Seperti setitik embun yang berada diantara hujan deras, keberadaanku tak terlihat, apalagi ternilai.


Aku...... Seperti seonggok daging di tengah sajian mewah, tak ada yang membuat orang lain tertarik padaku.


Nona Luna...... Aku merasa kerdil saat keberadaanku ini sangatlah kontradiktif dengan dirimu yang sangat sempurna.


Aku tak pantas untuk merajut mimpi bersamamu.


Sejatinya, aku akan membuatmu bahagia apapun caranya, bagaimana pun yang kau harap'


Batin Seno meronta penuh luka.


Wajah Seno yang biasa cerah penuh keramahan, kini mendadak mendung.


Langit yang biasa terang, kini tertutup awan kelabu.


"Silahkan".


Warna nya berwarna coklat muda dengan aksen warna kayu alami.


Pliturnya terlihat mahal, terbukti dengan kehalusan setiap sudutnya.


Seni mengangguk saja dan mengetuk pintu perlahan selama tiga kali.


Pintu terbuka dari dalam, pelayan berkepala plontos membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan Seno masuk.


Tangan Jelita mengibas beberapa kali, memberi isyarat agar pengawal pergi dan memberi jelita prifasi bersama Seno.


Hingga pintu tertutup, hanya ada Jelita dengan penampilannya yang elegan.


Sejenak, Seno meneguk ludahnya susah payah.


Rasa canggung dan kaku nampak ia rasakan.


"Duduklah Seno".


Tangan jelita menunjuk sofa di sudut ruangan.


Jelita beranjak dari kursi kebesarannya dan menuju sofa.


Dengan mencuri pandang ke arah penampilan nyonya besar Praja Bekti ini, Seno tak memungkiri bahwa wanita paruh baya ini adalah wanita yang mempesona dan memiliki daya pikat tinggi.


Pantas saja Radhi sangat tergila-gila pada Jelita.


"Terima kasih, nyonya".


"Bagaimana? Kau sudah mendapat informasi kemana si rubah betina yang licik itu pergi?"

__ADS_1


"Ada, nyonya. Keberadaan Nona Dita terakhir kali terlacak berada di Magelang, nyonya".


"Bagus, awasi terus pergerakannya.


Aku curiga, sepertinya ada pihak yang sangat membantu wanita itu untuk melarikan diri.


Bila tidak, mengapa ia bisa luput dari pengawasan kita selama beberapa hari.


Ku rasa, saat ini wanita itu memiliki pelindung"


"Lantas, apa yang harus saya lakukan, nyonya".


"Awasi pergerakan Dita, cari tau siapa yang berada di balik punggung wanita itu.


Dan ingat!!


Jangan sampai ia dan pelindungnya mengetahui bahwa pihak kita mencintai mereka.


Bekerjalah dengan rapi."


"Tidak kah segera kita bertindak cepat demi mengantisipasi kemungkinan terburuknya nanti?"


"Apa kemungkinan terburuknya menurutmu?".


Jelita mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


"Kemungkinan nya adalah, ia akan kembali melukai nyonya muda Hanum, nyonya".


"Bagus, ku rasa kau sudah mulai bisa di andalkan".


Jelita tersenyum bangga. Pendar matanya menyala indah, namun sedikitpun Seno tak dapat melihat emosi apapun yang Jelita miliki melalu matanya.


"Terima kasih, nyonya"


Kebisuan kembalu mendominasi ruangan.


Seno diam-diam memperhatikan wajah Jelita lekat-lekat.


Alisnya terukir indah, matanya menyorot tajam meski usianya tak semuda Dulu.


Tulang pipinya tinggi bak arsiktrokrat sejati.


Rahangnya tegas dan nampak kokoh terawat.


Bibirnya yang bergincu coklat menambah nilainya yang memang sudah bernilai tinggi.


Rambutnya yang membingkai wajahnya, di sanggul sedemikan rupa hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Setelan hitam-hitam yang ia gunakan, menambah kesan kuat, angkuh, kokoh, tak mudah di kalahkan.


Dalam hati, Seno diam-diam mengutuk Dita,


beraninya wanita itu bermain-main dengan Jelita. Ia tak tau saja siapa Jelita.


"Ok ya, Seno.....


Aku memerintahkan dirimu untu membawakan pesananku ke desa, dirumah papa. Kurasa kau tak sibuk akhir pekan nanti".


"Baik, nyonya."


Seno kembali harus memendam perasaan tak nyaman bila harus bersinggungan dengan Aluna.


Karna bersama Aluna, harapan yang Seno susun tinggi, akan terhempas di saat yang bersamaan. Sungguh, Seno tak nyaman rasanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2