Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Ekstra Episode 2


__ADS_3

Senja nyaris saja menghilang, ketika Aksa dan Yasmin baru pulang dari acara berbelanja. Akhir pekan yang menyenangkan, karena setiap harinya mereka selalu disibukkan oleh aktifitas kuliah mereka.


Banyak hal yang ingin sekali mereka lakukan, namun tak bisa mereka lakukan akibat sudah diburu waktu. Meski begitu, keduanya selalu kompak dalam melakukan banyak aktivitas.


"Aksa, aku sudah tak sabar untuk menunggu dua akhir pekan lagi. Kira-kira, bagaimana sekarang dengan wajah Giovanni?" Ungkap Yasmin. Ibu muda itu duduk di kursi meja makan, menatap suami kebanggaannya yang tengah meneguk air putih.


"Bukankah sudah melihatnya setiap pagi melalui panggilan video?" Tanya Aksa. lelaki itu mengelap bibirnya dengan menggunakan tissue.


"Ya. Hanya saja aku belum puas kalau tak melihatnya langsung. Bayangkan saja, aku rindu setengah mati, kau harus tahu Itu. Aku sedih setiap kali mengingat, aku jauh dari anakku sendiri. Kita sudah melewatkan momen-momen emas kebersamaan dengan anak kita." Ungkap Yasmin. Meski tampak tegar, namun Aksa bisa melihat dengan jelas bagaimana rapuhnya perasaan Yasmin.


"Jangan khawatir. Kita akan habiskan waktu bertiga, nanti. Lagi pula hanya dua akhir pekan mendatang. Jika rindunya sudah tak tertahankan lagi, buka saja fotonya yang dikirimkan Oma dan ibu." Sahut Aksa.


Yasmin lantas merogoh saku dasternya, untuk mengambil ponselnya. Dibukanya layar ponsel, dan ia pandangi wajah putra mereka yang sangat lucu menggemaskan itu. Siapa sangka, sudah enam bulan si kecil dibawa Hanum dan Inora pulang ke negara asal.

__ADS_1


"Lihat. Aku mengandungnya selama sembilan bulan, tapi wajahnya sangat mirip denganmu. Bagaimana aku tak merasa sebal?" Ungkap Yasmin kemudian.


Aksa hanya tertawa renyah mendengar penuturan istrinya itu.


"Jangan khawatir, jika anak-anak kita tak ada yang mirip denganmu, kita bisa mencobanya lagi, sampai berhasil terlahir bayi yang mirip denganmu."


"Hei! Kau pikir aku ini mesin pencetak anak? Dengarkan aku, suamiku sayang. Melahirkan itu sakitnya luar biasa. Kau tidak boleh seenaknya mau banyak anak dariku. Aku tidak mau."


"Terserah. Sejak dulu kau memang tipe lelaki yang suka memaksa. Aku tak bisa membayangkan, dan selalu dibuat bertanya-tanya, mengapa aku bisa jatuh cinta padamu."


"Dengarkan aku, sayang. Jatuh cinta tak pernah mengatakan sebelumnya, ia akan jatuh pada siapa. Lagi pula harusnya kau bersyukur karena menjadi permaisuri dari pangeran penerus Praja Bekti. Di luaran bahkan banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihku." Tukas Aksa kemudian.


Yasmin rasanya mual dan ingin muntah.

__ADS_1


"Kau terlalu sombong, suamiku. Aku juga sebenarnya terpaksa karena harus menikah denganmu. Kau memang tampan, tapi ketahuilah, kau selalu mengerjai semua gadis di sekolah dulu."


"Ya Tuhan, kenapa kau bisa menggemaskan seperti ini?" Tanya Aksa kemudian.


"Oh ya, Aksa. Ayah meneleponku kemarin. Kak Marcel benar-benar sudah masuk ke dalam perusahaan ayahnya, om Alex. Bagaimana menurutmu?" tanya Yasmin dengan serius.


"Biarkan saja. Itu jauh lebih baik. Aku juga mendengar dari Tante Ridha, kak Marcel tengah dekat dengan seorang gadis yang bekerja sebagai office girl di sana. Kau sudah dengar?" Tanya Aksa kemudian. Yasmin hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


"Aku tak tahu kalau itu. Jika itu benar, tak masalah bagiku. Apa pun yang menjadi keputusan kak Marcel dan pilihannya, aku akan mendukung demi bahagia saudaraku. Kita juga tak pernah tahu, kapan cinta akan berlabuh.


Sore hari ini, keduanya benar-benar menikmati perbincangan hangat bersama.


**

__ADS_1


__ADS_2