Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Emosi asing Aridha


__ADS_3

Seorang wanita muda tengah berada di ruang oleh raganya Wanita yang berusia pertengahan dua puluhan itu tengah melampiaskan kekesalannya pada semua alat-alat yang ia pergunakan dengan cepat.


Tak peduli bahwa keringat telah membanjiri seluruh tubuhnya, ia tetap mengayuh treadmill dengan kecepatan tinggi.


Bibir mungilnya sesekali mengumpat sebuah nama yang akhir-akhir ini selalu membayanginya.


Memaki sebuah wajah yang selalu hadir berkelebat dalam mimpi maupun dunia nyata nya.


Aridha demikian kesal tanpa sebab yang jelas. Ia menumpahkan kekesalannya dengan berolah raga.


"Sialan kau Alex. Bila nanti dunia kembali mempertemukan kita, aku bersumpah akan menuntutmu karna terus membayangiku dengan wajah sialanmu itu!!"


"Dasar brengsek!! Kau pikir siapa dirimu telah menginjak harga diriku dengan mengembalikan kompensasi yang ku berikan atas jasamu? Kau berani padaku?"


"Hei dasar player. Kau pikir dengan reputasi mu yang sangat buruk itu bisa dengan mudah membobol pertahanan ku? Akan ku kejar kau hingga ke ujung dunia karna telah berani membayangiku!!"


"Aku akan mengutukmu menjadi batu seperti Malin Kundang, karna telah berani membuat pikiranku kacau dan membuat ku tak fokus pada pekerjaanku!!"


"Dasar Alex bekas, biadab, jahannam, pria bangsat!!!.........."


Dan semua jenis makian keluar dengan begitu lancar dari bibir Aridha.


Cukup sudah, Aridha tak tahan lagi.


Belakangan ini, Alex selalu hadir dalam bayangan Aridha. Bahkan saat tidur, tak jarang Alex hadir dalam mimpi-mimpi Aridha.


Pertemuan mereka beberapa waktu lalu, ternyata telah mampu membawa dampak buruk pada Aridha. Aridha tak habis pikir, bagaimana mungkin ia terlalu terbawa perasaan usai penolakan yang Alex lakukan padanya.


Sebuah emosi asing perlahan mulai terbentuk. Benang-benang halus dalam hatinya seperti saling tersambung ketika ia teringat wajah Alex.


Ada apa dengan Ridha? Entahlah, Aridha tak mengerti.


"Apa yang kau pikirkan, Ridha?".


Jelita tetiba muncul. Ada sebersit rasa curiga atas dengan tingkah laku putrinya ini yang tiba-tiba saja menggerutu tak jelas.


Sayup-sayup Jelita tadi menangkap suara putrinya ini tengah mengumpat.


"Tidak ada, ma".


Ridha segera menurunkan kecepatan treadmill nya, berniat untuk menyudahi sesi pelampiasan akan kemarahannya yang tak jelas itu.


"Jangan berbohong.


Mama yang mengandung dan mengasuhmu.


Mama tau bila perasaanmu tengah kacau".


"Oh tuhan, apa mama akan ikut-ikutan menjadi orang yang menyebalkan? Jangan mendesakku. Aku sedang tak ingin bercerita apapun saat ini".


Pada akhirnya, Jelita mendesah pasrah.


Aridha Putri Praja Bekti.


Anak ini adalah cerminan diri Jelita.


Bila wajah nya lebih dominan mewarisi wajah Radhi, sang papa......


Namun tidak demikian dengan sifatnya. Sifat keras kepala dan mudah meledak-ledak bila ketenangannya terusik.


Namun dia juga bisa bersikap dan berpenampilan anggun layaknya putri.


"Memangnya siapa yang menyebalkan selain mama?"


"Bila emosi ku telah stabil, aku akan menceritakannya pada mama. Tapi tidak sekarang."


Ungkap Ridha tegas.

__ADS_1


"Baiklah. Mama akan turun."


Jelita tak bisa lagi memaksa putrinya berterus terang.


Biarlah, Jelita hanya butuh mencari udara segar.


Hingga sore menjelang. Radhi baru tiba dari kantor cabang, mengecek beberapa urusan disana. Jelita berjalan beriringan memasuki rumah.


Saat tiba di ruang tamu, mereka berpapasan dengan Aridha yang telah rapi dengan penampilan casual nya.


"Mau kemana Ridha?"


Radhi bertanya dengan mengernyitkan keningnya. Tak biasanya Ridha keluar rumah di sore hari seperti ini. Sesuatu yang jarang di lakukan oleh putrinya yang keras kepala ini.


"Keluar sebentar, pa. Papa baru pulang?"


Ridha segera memelluk Radhi, bergelayut manja di lengan papanya yang kekar dan tetap terjaga.


Jelita menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sudah sebesar ini, Ridha tetaplah bersikap manja bila dengan papanya. Bahkan anak-anak lebih dekat dan lebih terbuka bila dengan Radhi di banding Jelita.


"Ya. Kau mau keluar kemana?".


"Ke suatu tempat untuk bertemu kawan lama. Baiklah, aku pergi dulu".


Ridha berlalu pergi tanpa menatap Jelita dan Radhi. Ia tak mau kedua orang tuanya mengetahui bahwa ia telah berbohong kali ini.


*****


Di sebuah rumah kontrakan sederhana, Daniel dan Alex tengah menghitung uang yang tadi siang Daniel cairkan dari salah satu bank swasta. Uang yang menjadi tabungan dirinya.


Juga Alex yang juga mencairkan tabungannya.


Kejamnya hidup di ibukota bagi orang kelas bawah seperti status mereka saat ini, membuat Alex dan Daniel kesulitan mencari pekerjaan.


Bahkan tak jarang dari mereka yang enggan meski sekedar menemui.


Maka, Daniel memutuskan untuk menggunakan kemampuan adiknya di bidang otomotif.


Dengan menyatukan tabungannya dan tabungan Alex yang masih tersisa, maka Daniel memutuskan untuk mendirikan sebuah usaha bengkel bersama Alex berbekal kemampuan Alex yang cukup mumpuni.


Biarlah, Daniel akan belajar dari Alex mengenai ilmu otomotif.


"Maaf, selamat sore. Emmm apa...apa tuan Alex ada?"


Suara Aridha terdengar dari luar, alhasil Alex dan Daniel menghentikan aktifitasnya.


"Ada. Kau putri dari keluarga Praja Bekti, bukan?".


Suara Sundari, istri Wira Atmadja terdengar lembut.


Tentu ketika nama Praja Bekti di sebut, Alex dan Daniel bangkit dan membereskan uang yang sedari tadi di hitungnya.


"Ya. Aku... aku Aridha. Putri dari keluarga Praja Bekti. Aku.... maaf sebelumnya, aku..


aku ingin bertemu dengan Alex."


"Oh apakah putraku membuat masalah denganmu?".


Aridha terhenyak ketika di tanya mengenai masalah.


Tapi Aridha memang datang karna sebuah masalah, bukan?


"Ya. Dan aku perlu menegaskan sesuatu dengannya".


Wajah Sundari memucat seketika.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Oh baiklah, silahkan masuk dulu, nona. Namun rumah kami.... oh tidak.


Ini bahkan lebih pantas di sebut sebagai pondok".


Sundari merasa tertekan saat itu juga.


Alex telah mengusik keluarga Praja Bekti dengan membuat masalah pada putrinya.


Ya tuhan, petaka apa lagi yang hendak menimpa keluarga mereka?


Sundari kebingungan.


"Ada apa ini?".


Suara bariton Daniel membuat Aridha diam. Wajah mereka sama-sama datar. Tak menampilkan raut apapun.


"Aku ada urusan dengannya".


"Masuklah".


Tubuh tegap Daniel menyingkir dan keluar. Duduk di sebuah kursi memanjang di Depan jendela. Memberikan privasi pada dua orang yang sedang terlibat masalah itu.


Sedang Sundari bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Berniat memberi suguhan pada nona cantik yang tengah mengunjungi putranya kali ini.


Aridha mendadak merasa tak nyaman. Jantungnya berdegub tak beraturan. Darahnya berdesir hebat. Entah apa yang ia rasakan saat ini.


Duduk berdua dengan Alex membuat Aridha kehilangan kendali dirinya.


"Apa yang kau mau, nona? Bukankah aku tak membuat masalah denganmu?


Aku tak tertarik berurusan dengan wanita mana pun saat ini!"


Alex berucap datar.


"Sayangnya, kau telah membuat masalah denganku".


Aridha tersenyum sinis. Mati-matian ia menahan gejolak dalam dirinya.


Entah emosi apa yang ia miliki saat ini terhadap Alex. Yang jelas emosi ini asing dan tak pernah Ridha rasakan sebelumnya.


"Masalah apa?".


"Tempo hari. Saat kau menolongku membetulkan mobilku yang mogok".


"Bukankah aku ikhlas membantumu?"


"Bukan itu".


"Lantas, kau memaksaku menerima uang sebagai imbalannya? Maaf aku tak tertarik".


"Bukan itu".


"Lantas apa?".


"Kau harus bertanggung jawab karna telah membuat ku muak ketika bayanganmu selalu hadir di otakku. Kau juga harus bertanggung jawab karna kau selalu hadir dalam mimpiku hampir tiap malam!".


Sundari yang baru memasuki ruang tamu, juga Daniel yang menguping pembicaraan mereka dari jendela, Terperangah.


Begitu juga Alex yang terbengong.


"Apanya yang harus ku pertanggung jawabkan?


Aku tak mengirimimu bayangan atau apapun".


Tegas Alex.


"Tapi aku terganggu dengan semuanya, Alex. Segala aktifitas ku dan fokusku terganggu sejak sore itu. Seakan dirimu yang telah mengalihkan seluruh fokusku, mengalihkan duniaku. Aku ingin hidup normal tanpa bayang-bayang mu!!!!".

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2