
"Mas, bagaimana ini? Aku tidak ingin bertemu dengan Alex dan istrinya. Ya Tuhan, kamu ini kenapa mengambil keputusan tanpa bicara dulu denganku?" Inora memprotes Dion yang ngomel sejak sebelum dalam perjalanan.
Kini, kedatangan Dion dan Inora tengah ditunggu oleh Aridha dan Alex. Meski sebelum berangkat tadi, baik Alex maupun Aridha terlibat drama pemaksaan yang berakhir Alex harus mengalah. Tak dipungkiri, Aridha sangatlah kecewa terhadap Alex. Namun meski begitu, Aridha tak ingin mengenyam bahagia seorang diri, sedang ada Inora dan putranya yang menderita.
Andai Aridha tahu sejak dulu.
"Selesaikan masalah masa lalu kalian. Jangan dipendam lagi dan jangan menyembunyikannya apapun. Ingat, sayang. Dua puluh tahun telah berlalu. Kau tak perlu menyembunyikan semuanya. Marcel juga harus tau mengapa ia disembunyikan selama dua puluh tahun dari publik."
Inora membuang muka. Perjalanan yang terasa cepat bagi Inora, membuatnya mau tak mau harus siap untuk menghadapi Alex.
Getaran cintanya tak pernah pudar sedikit pun. Rindunya juga semakin menggebu setiap kali ia ditatap salam oleh Alex. Namun Inora tak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Begitu pula Alex yang sudah menemukan cinta sejatinya.
Biarlah, Inora tak keberatan meski ia harus mengenaskan akibat mencintai lelaki yang tak mencintainya hingga akhir hayat. Inora akan membersamai Dion saja yang mencintainya dan menerima dirinya apa adanya.
Sesampainya Inora dan Dion di sebuah kafe berkelas dengan ruangan VVIP, Inora sudah pasrah, jika fakta yang disembunyikannya selama ini, harus dibuka.
"Selamat malam, tuan Dion, nyonya Nora. Senang bertemu dengan anda, kami berterima masih karena anda sudah bersedia memenuhi undangan kami." Aridha menyambut kedatangan Dion dan Inora yang yang tampak tegang.
Di tempatnya, Alex sangat tak nyaman dengan situasi ini. Entah bagaimana caranya, ia ingin sekali bersujud di kaki Inora karena telah berdosa terhadap wanita masa lalunya itu, dan juga Marcel, putra mereka.
"Terima kasih." Dion menuntun Inora untuk duduk. Tak ada pembicaraan sama sekali setelahnya, dalam waktu sebentar. Canggung nan hening, jelas membuat mereka tak nyaman sebenarnya.
__ADS_1
"Bicaralah, mas. Katakan apa yang ingin kau katakan. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan pada nyonya Inora."
Alex menatap istrinya sebentar, sebelum menatap Inora dengan perasaan campur aduk.
"Nora, aku minta maaf." Hanya itu kalimat ungkapan Alex. Lelaki itu seolah tak memiliki banyak kata untuk dibahasakan, namun memiliki segudang tanya dalam hatinya.
"Untuk apa?" Inora menatap Alex dan Aridha bergantian.
"Benarkah, Marcel anakku?"
Luluh lantak sudah perasaan Inora. Tapi Inora tak mau kah begitu saja.
"Tidak. Marcel anakku seorang diri, sampai seorang pria datang bersedia menjadi ayah Marcel. Maka sejak saat itulah, Marcel anakku dengan Dion."
"Mengapa tak kau katakan saja, Nora? Mengapa kau tak jujur saja padaku? Aku ayah biologisnya. Mengapa sejak kau tau bahwa kau mengandung Marcel, kau tak memintaku untuk bertanggung jawab?"
"Aku tak mau berakhir mati sia-sia di tangan keluarga Praja Bekti. Aku tak ingin merebut calon suami putri Praja Bekti. Itulah alsan aku enggan untuk mencarimu. Aku harap kau tak lupa dengan bahasamu saat memutuskan aku begitu saja, setelah kau renggut segalanya dariku."
Aridha terkejut bukan main. Ternyata, dialah alasan dibalik mundurnya dan menghilangnya Inora.
"Sedangkal itu anda menilai keluarga Praja Bekti?" tanya Aridha tak mengerti.
__ADS_1
"Memangnya apa lagi, nyonya? Aku ahnyalah wanita miskin yang menggilai seorang putra Atmadja. Andai Alex tak memilihmu, aku mungkin akan tetap mengejarnya untuk sebuah tanggung jawabnya."
"Tapi aku tak akan membiarkan wanita lain terlunta-lunta demi......"
"Sudahlah, nyonya. Semua telah berlalu dan tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Biarkan seperti ini. Aku mohon jangan mengusikku dan Marcel. Kalian harus bahagia dengan Hesti. Dan aku, biarkan aku bahagia dengan keluarga kecilku. Toh semua akan baik-baik saja. Aku tak akan menuntut apa pun. Memiliki Dion dalam hidupku adalah permata yang cerah meski Dion hanya bekerja sebagai karyawan biasa."
Dengan menggenggam tangan suaminya, Inora kembali berkata, "Dengan tangan inilah, aku bisa hidup membesarkan Marcel. Kasih sayangnya yang membuatku sembuh dari depresi, Alex. Maaf juga padamu, nyonya Aridha. Aku tak berniat ataupun memiliki obsesi untuk memiliki Alex. Aku hanya ingin bahagia tanpa merusak cinta kasih kalian. Jadi aku mohon, jangan mengusikku. Anggap saja Marcel bukan anakku, melainkan anakku bersama Alex."
"Bagaimana bisa begitu, nyonya Inora. Marcel juga memiliki hak limpahan kasih sayang dari ayahnya." Aridha melontarkan keinginannya.
"Kasih sayang? Kasih sayang dengan apa?" Inora menatap Ridha.
"Alex harusnya menanggung seluruh kebutuhan mar....."
"Sudah aku duga." Inora mendadak berani melawan Aridha. wanita itu berdiri mendadak hingga membuat kursi yang tadi diduduki, mundur hingga menciptakan suara berdecit.
"Pembicaraan ini, hanya akan bermuara pada uang. Aku pikir anda akan lebih bijaksana seperti tuan Radhi Praja Bekti. Sayangnya, anda menilai segala sesuatunya dengan sangat dangkal. Uang memang terbatas untukku, tapi maaf, aku dan Dion tak butuh sepeser pun bila hanya untuk menghidupi dan membesarkan Marcel. Permisi. Selamat malam."
Di saat itulah, tangis yang sejak tadi Inora tahan, pecah seketika. Langkah wanita itu terseok-seok. Dion yang menyadari Inora tak baik-baik saja, segera bangkit dan setengah berlari mengejar Inora.
Sontak saja hal itu membuat Aridha dan Alex berdiri.
__ADS_1
Belum sempat langkah Inora menuju pintu, Inora tertawa puas dengan sorot matanya yang pedih. Tidak diragukan lagi, Depresi lama Inora yang tak pernah kambuh itu, hari ini kambuh juga.
**