
Ada sebuah luka gak kasat mata yang saat ini menghantam kesadaran Hana. Wanita cantik dengan pola hidup teratur karena didikan Daniel itu, merasa bahwa Tuhan tidak sedang berpihak padanya. Bagaimana tidak? Setiap lelaki yang ia dan orang tuanya kehendaki untuk dekat, selalu memiliki penghalang yang besar.
"Apa yang kau pikirkan, Hana?" tanya Daniel, saat mendapati Hana tengah melamun di dalam ruang kerjanya.
"Papa? Hana hanya sendang memikirkan beberapa pekerjaan." Jawab Hana dengan tenang. Sayangnya, Daniel bukanlah orang bodoh yang akan mudah dibohongi.
"Papa tahu, kau masih kepikiran tentang Aksa." Ungkap Daniel. "Juga Marcel yang tak boleh kau sentuh."
Hana tertawa renyah. "Meski awalnya aku sangat mendambakan sosok pangeran, dan berniat menggunakan cara-cara kotor, sekarang aku sadar bahwa aku memiliki risiko yang besar. Sudahlah, pa. Hana lelah. Mungkin memang Hana belum di pertemukan dengan jodoh Hana."
"Bagaimana jika papa mengatakan, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu?" Tanya Daniel.
"Siapa?" Hana bertanya balik.
Daniel tak menjawab, lelaki paruh baya itu bangkit dan membuka pintu.
__ADS_1
Aksa sudah berdiri disana bersama dengan seorang pria yang entah itu siapa. Yang jelas, Hana merutuk dan memaki Aksa habis-habisan.
"Hai, Hana. Bagaimana kabarmu?" Tanya Aksa. Lelaki itu rupanya tak hnay membawa temannya, melainkan juga Yasmin yang berdiri paling belakang.
"Jangan hanya diam. Kau mengundangku untuk makan siang bersama, bukan? Kali ini aku yang akan memaksamu untuk makan siang."
Baru saja Hana hendak membuka mulut, Aksa sudah kembali bangkit, memberi kode Daniel agar segera membawa Hana ikut dengannya.
"Ikut aku ke ruangan opa Chandra." Tukas Aksa kemudian. Cucu Jelita itu lantas membawa Hana untuk ia kenalkan dengan seorang teman lama Aridha, lebih tepatnya adik angkatan di bawah Aridha dua tahun.
"Dia seorang pengusaha muda yang terkenal royal. Cukup sukses dan sedang mencari istri. Kurasa tak ada salahnya kau bisa mengenalnya lebih dulu."
Wajah Hana merah padam. Bagaimana mungkin Aksa yang usianya dibawah dirinya, mengatur-atur dirinya dan menjodohkan Hana dengan lelaki tua . . . oh tak bisa dikatakan tua juga. Nyatanya meski usia Tirta dua tahun di bawah Aridha, namun perawakannya cukup bugar dan terlihat awet muda.
"Apa-apaan, ini? Aksa, jangan kau pikir kau . . . ."
__ADS_1
"Kau tahu aku bukanlah lelaki yang suka dibantah, Hana. Sudahlah, jika kau tak menurut padaku, kau akan menyesal nanti." Tukas Aksa dengan terkekeh. Pandangan lelaki itu lantas beralih pada Daniel.
"Lagipula Tante Dita dan om Daniel sudah setuju. Kau akan hidup tenang tanpa obsesi buta. Percayalah, aku dan Yasmin awalnya tak saling mencintai. Hanya saja, intensitas kebersamaan, membuat cinta telah tumbuh di hati kami."
"Pa, apa ini benar?" Tanya Hana.
"Ya. Kali ini, papa dan Aksa yang menjodohkan." Jawab Daniel tersenyum simpul.
"Jadi, aku akan menikah dengan lelaki separuh baya?" Tanya Hana yang tercengang.
"Aku tidak setua yang kau pikirkan, nona Hana. Ini sebuah amanat dan pesan dari tuan Radhi dan tuan Chandra, agar aku menjagamu sebagai cucu mereka. Percayalah, andai aku tak diminta langsung oleh dua tuan besar kakak beradik itu, aku tak akan mau untuk duduk semeja denganmu." Suara bariton, khas dan dalam terdengar di telinga Hana, membaut Hana merinding seketika.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Aksa.
"Baiklah, aku pasrah." jawab Hana lirih sambil menunduk. Mungkin, takdirnya sudah seperti ini. Hana hanya akan menjadi bahan olok-olok suatu saat nanti, menikah dengan lelaki yang Lebih tua darinya.
__ADS_1
**