
Jelita tiba di kediamannya, di kala waktu telah nyaris memasuki senja. Wanita itu menatap datar sekelilingnya, sembari menghampiri seorang pengawal yang biasa bersama Radhi, suaminya.
"Dimana suamiku? Apakah sudah pulang?" tanya Jelita dengan suara datar, namun lihatlah, semua pengawal bisa melihat bahwa Jelita menyimpan emosinya yang rumit.
"Sudah beberapa waktu yang lalu, nyonya. mungkin tuan sudah selesai membersihkan diri." pengawal menunduk hormat di depan Jelita, seperti biasa, jelita selalu bersikap ramah dan tak selalu dingin pada orang-orang terdekatnya, termasuk semua pengawal maupun para pelayan yang bekerja padanya. Selain itu, Jelita terkenal sebagai pribadi yang royal dan tak pernah pelit.
"Aksa di mana? Kau melihatnya?"
"Tuan muda sedang berolah raga sejak pulang sekolah tadi, nyonya."
"Baiklah, suruh dia menghadapku. aku tunggu di kamar utama."
"Baik, nyonya." Tak membiarkan Jelita menunggu, pengawal berlalu menuju ke ruang olah raga. Semua anak cucu keturunan Radhi, memiliki fasilitas olah raga yang memadai untuk menjaga pola hidup sehat dan tubuhnya agar tetap bugar.
Dengan kilat mata yang rumit, Jelita menuju kamar utama dan berniat untuk menemui suaminya.
"Sayang, ada apa? Kau lelah? Atau sedang tak enak badan?" Tanya Radhi pada Jelita yang baru saja tiba, lalu memeluknya tanpa kata. Tak biasanya, Jelita mendadak sendu begini. "Katakan ada apa? Kau ingin sesuatu?"
"Tidak." Lita menggeleng, kemudian mendongak dan menatap wajah tampan suaminya yang kini dipenuhi dengan kerutan. Meski begitu, tubuhnya masih sebugar dulu. "Aksa sudah berulah. aku tak bisa menoleransinya."
"Berulah?" Radhi mengerutkan keningnya. Apa yang cucu bandelnya itu lakukan. "Ulah apa? Apa pengawal lalai menjaganya?"
__ADS_1
Jelita menggeleng, tatapan matanya sendu dan tampak memancarkan kilat ketakutan.
"Yasmin tadi pingsan, wajahnya pucat dan kata ibunya, Inora, Sejak pagi Yasmin mengeluh muntah-muntah dan perutnya mual, disertai dengan kepalanya yang pening."
"Jadi, Aksa menghamili Yasmin? Benar begitukah?" Pertanyaan Radhi, dijawab anggukan oleh Jelita.
"Sepertinya begitu. kita tak punya cara lain untuk menikahkan mereka kalau begitu, kan?"
Radhi mengerjapkan matanya beberapa kali. lelaki itu benar-benar tak menyangka, sudah dijaga ketat, namun Aksa masih bisa berulah. Bukannya apa, masa depan Aksa masih panjang. Jenjang pendidikan Aksa, juga sudah Radhi persiapkan sejak Aksa masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Apakah sudah di periksa?"
"Inora yang mengurus Yasmin. Sayang, kita tak boleh membiarkan Yasmin terlalu lama dalam situasi seperti ini. Aku dulu pernah merasakan hamil tanpa pernikahan sebelum kau nikahi. Aksa, aku harus memberi pelajaran anak itu."
"Aku sudah memerintah pengawal untuk memanggilnya. Anak nakal itu akan datang sebentar lagi." Jelita duduk dengan lesu dan menyandarkan bahunya pada bahu sofa. Kejadian sore ini, adalah sebuah kejutan menyakitkan bagi Jelita sebagai seorang perempuan.
Sepasang suami istri itu duduk dengan nyaman di sofa, membicarakan masa depan dan langkah apa yang akan mereka ambil setelah ini.
"Kita nikahkan saja mereka berdua, ini pilihan satu-satunya yang bisa menyelamatkan Yasmin dan penerus kita. Biarkan dia tetap sekolah hingga kelulusan. toh kelulusan tinggal tiga bulan lagi. Aku yakin perutnya bisa dimanipulasi dengan pakaian kedodoran."
Radhi tampak berpikir panjang. "Aku juga memutuskan untuk meneruskan pendidikan Yasmin hingga ke jenjang yang tinggi. Masalah anaknya, aku akan meminta Kara dan Hanum untuk membantu mengasuhnya."
__ADS_1
"Ya tuhan, mas. Bagaimana reaksi Kara dan Hanum bila sampai mereka tau, Aksa sudah menghamili kekasihnya?"
"Di hajar habis-habisan, itu sudah pasti. Kita sama-sama tau, bagaimana garang, ganas dan liarnya putra kita jika sudah emosinya memuncak."
Baru saja Jelita hendak membuka mulutnya, pintu di ketuk dari luar. Jelita bangkit dan membuka pintu.
"Oma memanggil Aksa?" tanya Aksa sembari menyingkap rambut kerennya ke belakang. Agaknya, Aksa baru selesai mandi. Penampilannya sangat segar.
Tak menjawab, Jelita justru memandangi cucunya dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Pantas saja Aksa bisa menghamili Yasmin, rupanya cucu Jelita ini sudah beranjak dewasa dengan tubuh proporsional, sixpack dan terawat sempurna. Wajahnya juga cukup tampan, dengan menurun dari Radhi.
"Hemm....." Jelita membuka pintu dan menutupnya kembali setelah Aksa masuk. "Masuklah, opa dan Oma ingin bicara denganmu."
"Ada apa, opa?" Tanya Aksa, sesaat setelah hening beberapa detik. "Apa Aksa melakukan kesalahan?"
"Aksa, sudah berapa lama kau menjalin kasih bersama Yasmin?" tanya Radhi tiba-tiba, membuat Aksa mengerutkan keningnya. Kenapa opanya ini tiba-tiba menanyakan hubungannya dan Yasmin? Kembali ke rencana semula, Aksa berbohong pada Oma dan opa.
"Sudah beberapa bulan yang lalu. Tapi hubungan kami kekasih yang tak terlalu serius dan hanya sekedar ingin mengenal cinta." Aksa menjawab santai.
"Yasmin hamil, Aksa. Kau harus menikahinya." Ungkapan Jelita, berhasil membuat Aksa tersedak. "Kalau sekedar untuk mengenal cinta, tidak dengan cara menghamilinya, Aksa."
"Apa? Yasmin hamil?" Aksa terkejut setengah mati.
__ADS_1
**
Maaf, updatenya pendek. doakan besok bisa up banyak dan bab panjang ya, teman-teman.