
"Insting ku mengatakan, para pesaing bisnis lah otak di balik penculikan Aksa."
Radhi berkata dengan tenang. Raut wajahnya datar, namun pendar matanya menampakkan kerumitan yang berusaha ia sembunyikan.
Dan Radhi membuat sebuah kesengajaan untuk tak menghubungi putranya, selaku ayah dari Aksa. Mana mungkin ia akan menghubungi Kara yang sedang berlibur?
Waktu berlibur Kara bisa di bilang jarang karena kesibukan bisnis nya yang semakin luas. Maka, Radhi tak ingin membebani putranya dengan kabar hilangnya Aksa.
"Kita tak boleh bertindak gegabah bila tak ingin Aksa terluka". Mimik wajah Jelita menggelap. Netra matanya menampilkan sorot kebencian yang nyata.
Kemudian, secara bersamaan, mata elang Radhi dan Jelita menatap Yasmin. Mereka berdua jelas menatap pendar ketakutan dan kekhawatiran yang terpampang nyata.
Yasmin.......
Gadis ini sangat menghawatirkan Aksa. Bagaiman mungkin di usia Aksa dan Yasmin yang masih muda memiliki keterikatan batin?
Mungkinkah Yasmin adalah cinta sejati Aksa.
Jelita geleng-geleng kepala sendirian. Menepis pikirannya uang berfantasi terlalu liar.
Tentu saja hal itu tak luput dari pengamatan Radhi.
Radhi tau apa yang sedang menjadi pikiran istrinya.
Alex dan Seno muncul dari pintu yang sengaja di biarkan terbuka. Kedua menantu Praja Bekti ini lantas menghadap Radhi.
"Kabar apa yang kalian bawa?"
Tanya Radhi pelan. Nada suaranya tenang sekai. Alex dan Seno saling tatap kemudian Alex mengangguk pada Seno.
"Aksa di bawa ke sebuah markas di tengah hutan. Dan beruntung Luna menitipkan ponsel genggam nya pada Aksa sebelum kejadian. Mereka mengecoh pengawal kita yang mengejarnya. Sayangnya, cara itu tak cukup berhasil. Dirga yang mengetahui kemana mereka membawa Aksa.
"Aridha di mana?"
Kali ini Jelita yang bersuara.
"Menyiapkan beberapa senjata Laras panjang dan membagi dua pistol masing-masing pada pengawal yang akan mengepung mereka."
Alex menjawab.
__ADS_1
"Aku akan menyusulnya".
Ujar jelita sembari bangkit dan berlalu menuju gudang rahasia tempat senjata yang tepatnya di bawah tanah.
"Seno, seperti biasa. Atur siasat pengepungan."
Titah Radhi.
"Bagaimana planning dasarmu?"
"Aku dan kak Ridha akan mengalihkan perhatian mereka, pa. Memancing mereka keluar dan mengejar kami. Papa, Dan kak Arlan bisa menjemput Aksa. Sementara mama, biarkan mama menjaga ketat kediaman kita. Di sini ada kak Anton yang juga bisa membantu mama melindungi keluarga Praja Bekti yang tersisa. Anak-anak.... bagaimana pun anak-anak butuh perlindungan. Kita harus memanfaatkan sumber daya yang ada, pa. Mengingat musuh kita tidak bisa di bilang main-main.
Om Chandra dan Tante Dewi juga menginap di sini demi memantau keadaan dan melindungi keluarga yang di sini."
Ungkap Seno datar.
"Bagaimana dengan Alex?"
"Kak Alex akan menyusup dan membaur bersama mereka untuk mencari tau dalang di balik penculikan ini, pa." Jawab Seno lagi.
"Apa kau tak keberatan mengemban tugas ini sendirian, nak?"
Dulu, Alex pikir hanya mimpi ketika dirinya memiliki keinginan seperti itu, mengingat dirinya yang terdahulu adalah bajingan sejati.
Alex bahagia. Bahagia karena merasa di khawatirkan dan di anggap berharga.
"Kak Daniel akan membantuku, pa. Aku sudah menghubunginya atas perintah Seno".
Radhi mengangguk. Selama masih ada sumber daya yang ada seperti Daniel, apa boleh buat? Bukankah tak ada salahnya untuk di mintai tolong?
"Sampaikan salam ku pada Daniel. Aku berterima kasih". Ungkap Radhi tulus. Senyumnya yang jarang terekspos, kini kembali terbit seiring gurat-gurat di wajahnya yang tampak sangat jelas.
"Yasmin, kau akan tetap berada dalam perlindungan keluarga kami. Mengingat kau di lihat sangat dekat dengan Aksa, bukan tidak mungkin kau akan di incar setelah ini. Orang-orang ku ada beberapa sudah berjaga di rumahmu. Dan orang tuamu sudah di konfirmasi mengenai ini. Jadi maaf untuk semuanya.
Tapi semua aku pastikan akan kembali baik-baik saja. Jangan khawatir, ini tak akan lama".
Ucap Radhi tulus sambil menatap mata terang Yasmin yang sudah berkaca sejak tadi.
Dengan pandangan penuh arti, Radhi berjanji akan menikahkan Aksa dengan Yasmin setelah waktu nya tiba.
__ADS_1
"Te...terima kasih, tu--tuan".
Radhi mengangguk dan berlalu pergi.
Seorang pemuda tengah mendesis pelan menikmati rasa sakitnya seorang diri. Beberapa lebam di wajahnya, juga terlihat Beberapa goresan luka di kedua lengannya. Beberapa bagian sudut kemeja terlihat ada koyakan kecil akibat pukulan yang ia terima.
Meski ini adalah kali pertama Aksa di siksa, namun Aksa tak asing dengan rasa sakit yang di rasakan nya. Ketika Jelita dan Radhi melatihnya ilmu beladiri, Aksa sering kali mendapat pukulan dan tak jarang, kulit nya tergores senjata tajam.
Aksa sudah biasa.
Kondisi Aksa bis Adi bilang sangat mengenaskan. Ia duduk di sebuah kursi tinggal dengan tangan yang di ikat di belakang punggung kursi. Kedua kakinya juga terlilit rantai yang sudah di kunci dengan gembok. Penampilan Aksa kacau. Sangat kacau.
Sejenak, Aksa memperhatikan ruangan usang yang di tempatinya kini. Ruangan yang kotor berdebu dengan bau apak dan udara lembab yang mendominasi.
Menjijikkan!!
Aksa benci tempat seperti ini.
Tiba-tiba dalam diamnya, ia teringat Yasmin. sosoknya begitu saja terbayang di pelupuk mata Aksa.
"Yasmin.... sialan. Mengapa ia muncul dalam pikiranku?"
Desisannya pelan dengan suara tertahan.
Tiba-tiba, pintu terbuka dari luar. Sosok itu muncul. Pria yang kira-kira berusia sekitar lima puluhan muncul.
"Apa kabar tuan muda Praja Bekti yang terhormat?"
"Tak bisa di bilang baik"
Jawab Aksa jujur. Matanya menatap pria tua di depannya ini. Jika pria ini menganggap Aksa mudah di provokasi, maka dia salah besar.
"Katakan apa yang kau ingin hingga menahanku seperti ini?".
"Aku ingin, nenekmu yang cantik jelita dan rupawan itu, jatuh ke pelukanku. Dan keselamatanmu yang ku jadikan sebagai barternya".
Mata Aksa membola. Dari sekian banyak musuh yang mengincarnya, kebanyakan karena persaingan bisnis yang melatar belakangi nya.
__ADS_1
Jika Nenek Lita yang pria ini inginkan, sepertinya otak pria ini cukup tak waras.