Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Tidak memaksakan.


__ADS_3

Di dalam kamar, Aksa menatap Yasmin yang penuh dengan rasa gelisah. Pemuda itu mengerti dengan apa yang tengah dirasakan Yasmin saat ini. Keraguan dan kebimbangan Yasmin, bisa terbaca dengan mudah.


Aksa menahan tawanya geli. Bagaimana bisa Yasmin terbawa perasaan seperti ini.


"Hei, apa yang kau rasakan?" Aksa membuka percakapan. Yasmin menoleh ke arahnya sekilas dan mencebikkan bibirnya yang ranum itu.


"Astaga, kau masih bisa tenang sementara Oma mu menurutku agar segera hamil. Kau jangan gila, Aksa." Yasmin kesal bukan main.


"Bagaimana aku tak tenang, toh Oma menginginkan kau yang hamil, bukan aku." Dengan santai, Aksa duduk di samping Yasmin. Yang di bersamai justru bergeser dan tak mau berdekatan dengan Aksa. "Sudahlah, lagi pula hanya hamil, kan? Setelahnya toh yang merawat juga Oma dan ibu. Jangan khawatir, yang penting masih bisa kuliah selepas ini."


"Astaga, aku tidak siap. Lagi pula aku masih terlalu muda. Apa kau tidak tau, wanita hamil itu akan melahirkan setelahnya, dan melahirkan itu sakitnya luar biasa."


"Ingat malam pertama kita semalam? Kau kesakitan di awal, tapi lantas menikmati dan mendesah lantang di dalam kamar. Aku yakin, setelah ini kau akan ketagihan dalam melahirkan."

__ADS_1


Dan tanpa pikir panjang lagi, Yasmin segera memukul lengan Aksa dengan keras beberapa kali. Gadis itu meluapkan emosinya dengan lepas. Oh bukan, Yasmin bukan lagi gadis saat ini.


"Jangan membahas itu lagi!" Pipi Yasmin merona karena malu.


"Ya sudah kalau begitu, Jika kau tak siap, aku tak akan memaksamu. Hanya saja, jangan menentang Oma atau siapapun keluargaku. Jaga aman saja. Di rumah ini, hanya kau, mamaku, dan Tante Luna saja yang tak bisa bela diri. Aku akan bicarakan lagi pada Oma."


Aksa berkata sungguh-sungguh. Tapi sayangnya, Yasmin enggan menoleh dan juga terus membuang muka.


"Mari turun ke bawah dan ikut bergabung dengan keluargaku lainnya. Papa dan mama pasti akan senang sekali jika kau mudah bergaul dengan keluarga ini."


"Jangan terlalu minder. Ayo ikut." Aksa menarik pelan tangan istrinya. "Kau tahu, Yasmin? Aku bahkan tidak pernah menginginkan menikah denganmu. Bahkan satu bulan lalu lun, rasanya seperti aku tengah bermimpi tepatnya. Hanya saja, aku tak mau ambil pusing dan mungkin Tuhan memberikan jalan ini agar aku berjodoh denganmu di usia muda."


Aksa menjeda kalimatnya sejenak, "Aku harap kau jangan terlalu terbawa perasaan. Jalani saja apa yang ada. Setelah ini, aku yakin kau akan mampu menjadi istri yang baik. Pahami sikapku, kenali sifat yang ada dalam diriku, juga kenali bagaimana karakterku yang sebenarnya. Kau akan tahu bahwa aku sebenarnya tak sebaik, juga tak seburuk yang terlihat."

__ADS_1


Jiwa Radhi benar-benar ada dalam diri Aksa. Bukan hanya pembawaan dan juga postur tubuh dan wajah, namun karakter dan sifat lembut hati juga menurun pada Aksa.


Sejenak Yasmin tercengang dan menatap Aksa lama.


"Kau.... Benarkah kau mencintaiku, Aksa?"


"Untuk saat ini belum. Tapi beri aku waktu untuk belajar mencintaimu sepenuhnya."


"Hei, tapi kau semalam... kita ... mengapa bisa kau bilang belum mencintaiku, tapi kau bisa....."


"Menidurimu? Hei, aku lelaki normal.... kau pikir aku tak akan ngiler melihat gadis di dekatku? Ya Tuhan... tentu saja hasratku menuntut untuk dipuaskan.


Aksa terlalu vulgar, membuat Yasmin menyerah dan tenggelam dalam malu.

__ADS_1


**


__ADS_2