Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pelukan penuh kasih


__ADS_3

Kara tengah berjalan tegap menuju ruang meeting.


Langkahnya teratur, Tatapannya datar tanpa riak emosi sedikitpun. Auranya kuat dan siapapun uang di lewatinya, demikian terpesona dengan harum tubuhnya yang maskulin.


Hari ini, Kara tengah ada rapat penting dengan kolega bisnisnya.


Maka, ia tak mau menjadi pihak yang mengecewakan.


Memasuki ruang rapat, matanya menangkap siluet seorang wanita yang beberapa waktu terlibat dalam acara makan malam.


Holy......


Nampak istimewa kali ini.


Setelan kerja kemeja Putih dan rok abu-abu tua, nampak pas dengan lekuk tubuhnya.


Blazer sewarna senada dengan rok yang holy kenakan, nampak menambah kesan menawan.


Ditambah lagi dengan sepatu kerja berwarna hitam.


Make up-nya nampak natural.


Kara akui, Holy memang wanita yang memiliki pesona luar biasa mengagumkan.


Senyum tipis di bibir Holy terukir ketika menyambut kedatangan Kara yang muncul dengan wajah datar.


Dalam hati, Holy mengutuk Dita yang demikian ambisius, melibatkan dirinya dengan berjuta masalah yang siap menggilas Holy kapan saja.


"Selamat pagi, tuan Azkara. Saya perwakilan dari CTR grup."


Holy menunduk dalam untuk memberi hormat.


Senyum manis tersungging di bibirnya yang ia poles dengan warna oranye.


Sesaat, Kara juga tersenyum. Senyum yang jarang Holy temui.


"Pagi".


Kara berlalu begitu saja menuju kursinya.


Sepanjang rapat berlangsung, Holy terus saja mencuri-curi pandang ke arah Kara.


Dalam hati, Holy menyadari bahwa kara adalah pria yang sulit untuk di taklukkan.


Hingga acara meeting usai, Kara segera keluar dari ruang meeting.


Insting tajamnya segera tanggap.


Holy bukan wanita yang sederhana.


Itu yang Kara rasakan.


Namun, lepas dari apa niat terselubung dalam diri Holy, Kara tak peduli. Ia telah berjanji untuk membahagiakan Hanum, istrinya.


Baginya, janjinya adalah kewajiban untuk ia penuhi. Maka, tak ingin untuk bermain hati di belakang istrinya.


Darah Radhi demikian kental mengalir dalam diri Kara.


Sedang Holy, ia masih berkutat terus dengan pikirannya. Ia harus bisa membuat rumah tangga retak secepatnya. Mengabaikan perintah Dita agar bermain pelan dan tak tergesa-gesa.


Holy harus mengejar waktu sebisanya. Kerinduannya pada putranya sudah demikian membuncah.


Ya. Holy tak akan sabar lagi sekarang.

__ADS_1


*****


Seorang gadis belia yang berusia awal dua puluhan, tengah menatap hamparan kebun bunga yang demikian luas membentang di hadapannya. Hawa sejuk yang memang umum melingkupi pedesaan, membuat bunga-bunga berwarna beraneka ragam makin indah tertata sempurna.


Luna tak pernah berhenti tersenyum. Kepandaiannya dalam mengurus kebun bunga milik Opa nya Reksa, membuat kebun bunga ini demikian ramai pesanan dan minat pelanggan.


Luna mengalihkan pandangannya ke samping.


Menatap intens pria muda yang demikian gagah mempesona.


Tepat di samping Luna, Seno berdiri gagah dengan kedua kepalan tangannya di simpan ke dalam saku celana.


Dada bidangnya yang nampak kokoh menawarkan berjuta kehangatan untuk bersandar.


Lengannya yang liat berotot, menawarkan berjuta kekuatan untuk perlindungan diri Luna.


Wajahnya yang mendongak, menawarkan berjuta kesejukan untuk Luna di kala penat dan lelah Luna rasakan.


Dalam senyum, Luna terus memikirkan banyak hal.


"Ada yang bisa saya bantu, nona?"


Seno merasa, bila di biarkan terlalu lama ia akan salah tingkah lebih parah lagi.


Maka, ia harus memulai obrolan dengan nona mudanya kali ini, apapun caranya.


"Tidak ada.


Eemmm oh ya, kemarin malam......"


"Ada apa?".


"Benarkah mas seni merindukanku?"


"Maaf, nona.... Lupakan karna saya terlalu lancang".


"Begitukah?".


"Ya".


Hening.


Luna sejujurnya terluka karna Seno memintanya melupakan ungkapannya tempo hari. Tapi Luna bisa apa?


Saat ini, Luna hanyalah pihak wanita yang merasa tak pantas bila harus mengumbar rasa yang terlampau menggelegak dalam hatinya untuk Seno.


"Sebenarnya..... Aku menyukaimu, nona".


Ada jeda sejenak untuk Seno menghirup udara dalam-dalam.


"Bahkan lebih dari sekedar suka.


Rasa yang ku miliki..... Aku takut rasa itu menjadi bumerang untuk diriku sendiri.


Aku tau aku siapa, tentu saja.


Tapi...... Ku rasa aku tak memiliki kepantasan untuk bersanding denganmu".


Seni tersenyum pedih.


Ia hanya berpikir secara realistis.


Bersanding dengan Luna, bukankah sama saja itu hanyalah sebuah angan-angan yang tentu sulit untuk Seno gapai?

__ADS_1


Luna tercekat hingga sepersekian nano detik.


Nafasnya tertahan karna sebuah bongkahan rasa yang membuncah dalam hatinya.


"Be...benarkah?".


Luna bergetar. Air matanya hendak luruh andai ia mengedipkan matanya sekali saja.


Genangan air mata seperti bendungan yang hendak jebol seketika.


"Ya. Aku mencintaimu. Maaf beribu maaf.


Aku.... aku lancang dan aku tak pantas berkata demikian. Maaf karna aku mungkin saja terlampau tinggi bermimpi.


Akan tetapi sungguh, nona......


Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi menahan perasaanku.


Berbulan-bulan lamanya, aku ter.........".


plak.....


Seno memejamkan matanya.


Tamparan yang baru saja ia terima, tak terasa sakit sedikitpun baginya.


Tapi kepedihan atas kenyataan yang ia rasakan, demikian meluluh lantakkan hatinya hingga menjadi serpihan abu yang tak bernilai.


"Bodoh kau mas Seno.


Bila kau mencintaiku, mengapa harus meminta Luna untuk segera melupakan ungkapan rindumu padaku?


Bila kau mencintaiku, mengapa kau menganggap ini hanya mimpi dan angan-angan belaka?


Mengapa harus membuat hatimu sendiri terluka menahan semuanya?


Bila kau mencintaiku, harusnya kau berjuang, berlutut dan bersimpuh di kakiku, meraih dan menggenggam hatiku dengan pesonamu.


Bukan malah hendak pergi menjauh dan meninggalkan aku disini yang juga mencintaimu!!".


Seno menegang mendengar penuturan Aluna.


Benarkah?


Benarkah Aluna mencintainya?


Maka, Seno segera meraih dan mendekap tubuh ringkih Aluna. Membawanya ke dalam hangatnya pelukan penuh kasih.


"Be benarkah, nona? Ini bukan mimpi, kan?"


"Aku juga mencintaimu, mas Seno.


Apa lagi?


Apa lagi yang perlu aku lakukan agar kau mempercayaiku?"


Aluna berkata dengan Isak tangis yang masih mengiringi.


"Terima kasih, terima kasih atas semuanya.


Aku mencintaimu.


Sangat dan sangat. Kini dan hingga nanti".

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2