Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Melawan norma aturan


__ADS_3

"Ridha, pulang sekarang atau ku seret kau saat ini juga!!"


~~


Suara Jelita demikian lantang bak Auman singa yang siap menerkam mangsanya.


Baik Ridha maupun Alex terkesiap dengan kedatangan Jelita yang secara tiba-tiba.


Alex bangkit dengan tubuh yang menegang.


Bahkan, Ridha juga segera bangkit dengan wajah pucat pasi menatap mamanya.


Jelita datang seorang diri, tanpa keluarga lain ataupun pengawal yang selalu setia mengekori.


Nyonya besar Praja Bekti itu melangkah anggun menghampiri kedua insan yang di mabuk cinta itu. Kedua tangannya di lipat di depan dada.


Matanya menyorot penuh kejam pada putrinya. Jiwanya seolah-olah tertukar dengan alligator buas nan ganas yang sedang kelaparan.


"Apa yang kau lakukan di sini, Ridha?


Kau tau bukan ini tempat siapa?".


Aridha berusaha tetap kokoh pada posisinya yang berdampingan dengan Alex. Berusaha tak terintimidasi sedikitpun oleh keberadaan sang mama yang mendominasi, meski wajahnya terlihat pucat.


Sebisa mungkin dirinya berusaha mengendalikan diri dan bangkit dari syok yang baru saja gadis itu lakukan.


"Aku sedang mengunjungi kekasihku, ma"


Degg


Jelita merasa tak percaya dengan informasi yang ia dengar dari putrinya.


Ridha juga meraih jemari Alex untuk ia tautkan bersama jemarinya sendiri.


'Kekasih?


Lelucon macam apa ini?


Apakah tak ada objek lain untuk di jadikan lelucon?


Tidak!!


Ini tidak benar!!'


Batin Jelita berteriak marah.


"Apa yang kau katakan, Ridha?


Siapa di sini yang kau sebut kekasih?"


Jelita sengaja menekankan kalimatnya, menajamkan pendengarannya, menyorotkan keseriusan di hadapan putrinya.


"Alex....


Pria di sampingku ini yang telah berhasil menaklukkan hatiku sepenuhnya, ma.


Kami saling mencintai!".


Ridha menjawab dengan mantap.


Tak ada sorot ragu yang terpancar dari matanya.


Jelita merasakan ketakutan luar biasa dalam hatinya.

__ADS_1


Takut putrinya akan di permainkan.


Takut hati Ridha akan terluka.


Takut mengalami kekalahan mutlak.


Tidak!!


Jelita tak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Hentikan omong kosongmu, Ridha.


Ayo pulang atau kau lebih suka melihat mamamu ini marah padamu!!"


Jelita berlalu pergi tanpa menoleh lagi pada sepasang kekasih yang baru saja saling bertaut hati. Memasuki mobilnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Selepas kepergian Jelita, Alex menenangkan Ridha. Jemari Ridha yang saling terkait dengannya itu, ia usap olehnya, menyalurkan kekuatan dan ketegaran. Meyakinkan Ridha bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Aridha bukan tak sadar. Ia sangat tau bagaiman sifat mamanya yang tak mentoleransi kesalahan. Di mata Ridha, Akan semakin sulit bagi mamanya itu untuk menerima Alex dengan kesalahan asa lalu yang demikian kelam.


"Hei, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja, kau mengerti?


Jangan takut, semua akan baik-baik saja".


Lirih Alex dengan senyum hangat.


"Kau pikir aku penakut? Aku sudah biasa menghadapi wanita keras kepala dan menyeramkan seperti mamaku itu.


Jangan pernah menganggap ku wanita lemah".


Aridha terkekeh geli melihat raut wajah serius dalam diri Alex. Mendengar kalimat Ridha yang sarat akan ejekan, membuat Alex bingung harus bertindak bagaimana.


Sambil terkekeh, Aridha kemudian meraih tasnya dan berniat berlalu pergi.


"Ya terserah padamu saja"


"Tapi......"


Alex ragu meneruskan kalimatnya. Kekhawatiran nya semakin bertambah hingga berkali-kali lipat.


"Tapi apa, hm?"


"Bagaimana bila orang tuamu menentang hubungan kita?"


Aridha menghirup oksigen sedalam-dalamnya sebelum menjawab.


"Bila hubungan kita ditentang, kita harus berjuang untuk masa depan kita.


Bila kita saling mencintai, bukankah itu artinya aku masa depanmu dan kau adalah masa depanku?


Kau bersedia berjuang demi masa depan kita?"


Alex menatap lekat gadis di hadapannya ini. Tak ada sorot ragu apa lagi main-main. Yang ada hanyalah raut wajah serius namun tak pernah meninggalkan senyum penuh keyakinan.


Diam-diam, Alex semakin yakin dengan wanita di hadapannya ini, Alex semakin yakin bahwa Aridha adalah masa depannya.


"Ya aku bersedia".


Alex menjawab mantap.


"Bagus. Mari kita berjuang bersama meski hubungan kita ini baru berlangsung beberapa detik"


Aridha berlalu pergi. Meninggalkan Alex yang semakin merasa hidupnya penuh warna semenjak putri dari keluarga Praja Bekti itu memasuki hidupnya, dunianya, dan seluruh ruang di hatinya.

__ADS_1


*****


Radhi tengah berbicara serius dengan Arlan dan Kara di ruang keluarga. Beberapa berkas berada dalam genggaman Kara, menunjukkan betapa seriusnya pria itu mempelajari berkas yang baru saja di terima dari Arlan.


Suasana berlangsung serius. Hanum dan Alma baru saja tiba dengan membawa nampan berisikan tiga cangkir teh hangat dan beberapa toples kecil berisikan camilan.


Bila sudah begini, keluarga Praja Bekti sangatlah damai tanpa badai.


"Bagiku, kau tak perlu meminta pendapatku mengenai rekomendasi tempat tinggal yang pas untukmu dan......"


Mata Kara melirik Alma yang kian mendekat.


"Si Alma, mantan sekertarisku yang jelek itu".


Alma mendelik sebal ke arah Kara.


"Hai tuan muda, oh tidak....


Maksudku, bos Kara.....


Aku... meski mantan sekertarismu, tapi aku.....


Adalah Kaka iparmu. Jadi hormati aku".


Alma merasa berada di atas angin sekarang. Dirinya sengaja memilih tempat duduk yang dekat dengan suaminya, mencoba mencari perlindungan.


"Hormat? Baiklah Kakak ipar yang jelek"


Seringai Kara kemudian.


Hanum dan Radhi serta Arlan terkekeh geli melihat interaksi mereka.


"Hei, meski aku jelek, tapi kakakmu ini tak bisa sehari saja berjauhan denganku, asal kau tau itu, adik ipar. Aku bahkan ti........"


Brak......


Kalimat Alma seketika terhenti ketika Jelita datang dengan membanting pintu utama.


Entah mengapa, Radhi mendadak tak nyaman kali ini.


Semua terdiam tanpa beranjak dari tempat duduk mereka. Semua mata tajam menatap lorong yang menuju ruang tamu.


Jelita datang dengan Ridha yang berwajah datar berjalan ringan di belakangnya.


"Duduk".


Perintah Jelita menunjuk sofa tunggal yang berada di sebelah suaminya, Radhi.


Maka, Ridha dengan menurut duduk di sana.


"Ada apa, sayang?


Ada masalah apa hingga kau se-marah ini pada putri kita?"


"Dia...."


Jelita menunjuk putrinya.


"Telah menjalani hubungan dengan Alex Atmadja, pria dengan kenakalan yang luar biasa buruk di mata masyarakat.


Pria yang pernah melanggar norma aturan yang diterapkan dalam keluarga Praja Bekti.


Apa itu tidak termasuk penyimpangan, mas?"

__ADS_1


Semua terkejut, hanya Radhi yang tak terkejut sama sekali.


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2