Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Curhatan ibu Yasmin


__ADS_3

"Kau mencintainya, Yasmin?" tanya Inora secara tiba-tiba, di tengah cerita Yasmin mengenai Aksa. Entah bagaimana caranya, hanyutnya Yasmin mengenai cerita keseharian Aksa, membuat Yasmin seolah ia tengah jatuh cinta. Hanya dari tatapan mata, Yasmin tak bisa berbohong. baik Dion maupun Inora sama-sama tau hal ini.


"Aku? Tidak juga. hanya saja, semakin kesini, aku melihat pribadi Aksa itu adalah pribadi orang baik, tidak seperti yang terlihat di permukaan. Bila tidak mengenalnya sebegitu dekat, kita tidak akan pernah tau mengenai sisi lain dari dirinya." hanya itu yang bisa Yasmin ucapkan demi bisa menyangkal pertanyaan ibunya secara halus. Bukankah ini lebih baik?


Membayangkan Yasmin jatuh cinta pada lelaki seangkuh Aksa, Yasmin rasa itu tidak akan pernah mungkin bisa terjadi, mengingat statusnya kini di mata Aksa hanyalah sebatas kekasih bohongan.


"Yakin?" Dion tersenyum kecil. Kerutan di sekitar sudut matanya, membuat ketampanan Dion semakin tergerus oleh usia.


"Iya ayah, tentu saja. Jangan menaruh prasangka yang tidak-tidak mengenai hubunganku dan Aksa. Dimata orang lain, mungkin memang kita tampan Sepri kekasih dewasa yang saling mencintai, tetapi bagiku, ya.m.. begitulah, tak ada yang istimewa dari hubungan kami berdua."


"Baguslah. Setidaknya, jangan sampai kau tergila-gila sangat pada tuan muda Praja Bekti, yasmin. Ingat, kau terlahir dari rahim seorang ibu yang miskin, kehidupan kita sangat jauh berbeda darinya." Sekali lagi, tak ada yang bisa Inora lakukan selain menasihati putrinya sebagus bentuk perlindungan diri.


"Iya, ibu. Aku sadar diri untuk hal itu. Oh ya, ngomong-ngomong, aku penasaran tentang kisah ibu dengan tuan Alex, Paman Aksa." Kembali, Yasmin mencoba untuk mengangkat topik mengenai Alex ke permukaan.


Inora kembali mendengus dalam hati.

__ADS_1


"Sudahlah, Yasmin. Jangan mengorek informasi masa lalu lagi, ibu tidak mau mengungkitnya." Inora cerita sembari membuang pandangan ke arah lain.


"Aku hanya bertanya, bu. Apa salahnya?"


"Biar aku yang menceritakan," Dion menjeda kalimatnya. Lelaki itu juga tampak memperbaiki tempat duduknya sebagai isyarat keseriusannya. "Tuan Alex itu mantan kekasih ibumu, Yasmin. Ya kau Taulah, Masa muda kami jelas berbeda dengan masa muda anak jaman sekarang."


Yasmin mengangguk-angguk paham, merasa wajar saja permasalahannya ketika melihat reaksi ayah. "Lalu, mengapa ibu menghindari sangat menghindari topik mengenai Alex, itu karena ibumu dulu bukan hanya depresi, melainkan sempat gila karenanya."


Inora hanya pasrah mendengar penjelasan awal suaminya.


"Hah? Benarkah begitu? Sekarang itulah ibu mencintai tuan Alex?" Tanya Yasmin setengah tak percaya. Yasmin terlalu takjub akan cerita ayah, Yasmin juga semakin penasaran atas masa lalu ibu, yang sekarang ini hanya cukup diam.


Tidak ada yang tau, mengenai kehidupan Dion yang sebenarnya. Bahkan Inora sendiri pun tidak tau. Dion sendiri hanya mengikuti kemauan Inora agar hidup seadanya, dan jauh dari kata kaya. Meski begitu, Dion tetap berusaha untuk menyembunyikan semua uangnya, termasuk saham yang ia tanam di perusahaan Aditya Adi Prama yang saat ini di jalankan penuh oleh Daniel.


Selain untuk tabungan masa tua, Dion hanya ingin suatu saat kelak saat dirinya telah tiada, putrinya bisa hidup seperti teman-temannya yang lain. Dion hanya takut jika ia memberi tahu Inora tentang harta yang dimilikinya itu, Inora akan mengamuk pada dirinya.

__ADS_1


"Tidak masalah, ayah. Ayah tidak usah khawatir. Aku bahagia hidup di bawah atap rumah ini, Setidaknya aku bisa merasakan kasih sayang kehangatan dan pelukan ayah dan juga ibu."


"Terima kasih, nak. Tapi berjanjilah untuk kau tidak mencari tau lebih jauh lagi. Masa lalu ibu, biarkan ibu dan tuhan yang mengetahui semuanya."


"Baiklah, bu. Yasmin berjanji tidak akan pernah memaksa meski Yasmin luar biasa penasaran."


Ketiganya lantas tertawa bersama. Beginilah hidup bersama keluarga, Yasmin merasakan kehangatan dan juga kasih sayang yang melimpah.


"Oh ya, kalau boleh ayah tau, kau dan Aksa tidak pernah melakukan sesuatu hal yang berada di luar norma agama dan masyarakat sekitar, bukan?" pertanyaan Inora berikutnya, membuat Yasmin tampak melebarkan mata.


"Apa-apaan ibu ini? Tentu saja Yamin akan baik-baik saja dan selalu melindungi diri. Ah, sudahlah, Bu. Yasmin akan selalu ingat dengan apapun yang ibu ucapkan hari ini.


"Ya kan mungkin saja, ibu tidak percaya jika tidak melihatnya."


"Aahhhhh ibu......." ungkap Yasmina Natar lucu dan juga geram.

__ADS_1


Begitulah keluarga mereka, luar biasa memiliki kehangatan meski keseharian mereka selalu sederhana. Keluarga mereka, seolah dihujani oleh kasih sayang yang murni dan tulus."


**


__ADS_2