Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Penyerangan


__ADS_3

Radhi, Jelita dan Kara tengah berkumpul di ruang kerja Kara saat ini.


Mereka tengah berdiskusi dan bertukar ide untuk mencari tau dimana Seno di sekap.


Dua puluh menit yang lalu, Kara mendapat panggilan dari orang tak di kenal. Dirinya kemudian menghubungi ponsel Seno yang tak aktif guna melacak keberadaannya.


"Sama sekali tak dapat di hubungi."


Ungkap kara dengan wajah datar.


"Baiklah...... Apa kita akan susun stategi penyerangan markas mereka?


Orang-orang kita akan selalu siap kapanpun kita membutuhkan mereka, bukan?."


Jelita angkat suara.


Sayangnya, Radhi menolak gagasan yang Jelita berikan.


"Tidak. Biarkan saja Dulu, Kara. Ikuti permainan mereka hingga sejauh mana mereka mampu bermain-main dengan kita. Telusuri dan amati sebatas mana mereka memiliki kemampuan.


Cari tau latar belakang mereka dan segala informasi berharga mengenai titik lemah mereka.


Setelah seluruh informasi akurat kita dapatkan, Serang kembali mereka saat mereka lengah. Apapun yang mereka pinta, berikan saja dulu untuk saat inj.


Tapi kita harus bekerja cepat untuk menggali informasi sensitif milik mereka".


Kara tersenyum licik.


"Kita satu pemikiran, pa. Aku bahkan telah mengirim dua orang yang kutugaskan untuk menyusup dan membaur dengan anak buah musuh."


"Bagus".


"Aku juga bahkan mengirim beberapa pengawal tangguh untuk ekstra menjaga kediaman opa di desa".


Jelita tersenyum bangga.


"Bahkan mama sekarang lebih tenang karna kau mulai pandai dan menguasai segala taktik intrik dan kelicikan seperti papa mu. Jauh lebih cerdas daripada mama".


Kara tersenyum mendengarnya.


"Karna Azkara adalah putra mama dan papa Radhi. Hanya saja, kebijaksanaan papa tak papa turunkan pada kara".


"Bijaksana bukan karna gen turun temurun, melainkan pola pikir dan tidak gegabah dalam bersikap, nak. Bersikap tenang dan juga memiliki pandangan luas, bukan hanya dari satu sisi saja.


Kau tau, papa bisa menilai, melihat dan merasakan, bahwa suatu saat, kau akan lebih cerdik dan bijak dari papa.


Suatu saat, bila mama dan papa telah menyatu dengan tanah dan di persatu kan dalam kehidupan selanjutnya, papa berharap kau bisa mengajarkan pada anak turunanmu tentang Budi pekerti. Papa juga berharap, kau bisa menjaga hubungan baik dengan saudara dan saudarimu."


Tukas Radhi kemudian.


"Papa akan berumur panjang". Kara menimpali.

__ADS_1


"Ya, semoga... semoga.... Tetapi....


Syarat mati tak hanya sakit saja.


Bahkan ada yang keadaannya sehat pun, meninggal secara mendadak. Terkena serangan jantung misalnya.


Syarat mati juga tak hanya tua, bahkan banyak kawula muda yang dengan cepat kembali pada pangkuan ilahi".


Jelita memilih hanya mengamati dan menjadi pihak yang pasif dalam pembicaraan kali ini. Mendengarkan percakapan papa dan anak secara seksama. Mempelajari sejauh mana kecerdasan yang putranya miliki di usia yang sudah menginjak angka dua puluh sembilan tahun.


"Ya, papa benar. Oh ya, ngomong-ngomong......"


Belum sempat Kara melanjutkan kalimatnya, suara teriakan Alma dan Hanum terdengar dari lantai bawah. Tak hanya itu, beberapa kali Suara keras tembakan juga terdengar dari sana.


Tadinya, Alma dan Hanum tengah bereksperimen membuat kue kering untuk camilan.


Sial.....


Kediaman Praja Bekti tengah di serang.


awas saja, bila sampai terjadi sesuatu dengan anak-anak dan menantu-menantu Praja Bekti, akan Radhi babat habis hingga ke akar-akar nya.


Kara, Radhi dan Jelita.....


Wajah ketiganya nampak tegang dengan netra mata terlihat semakin tajam.


Tanpa kata, mereka beranjak dan meraih masing-masing satu pistol di laci meja kerja Radhi untuk di bawa keluar sebagai senjata.


Saat tiba di lantai bawah, Mata ketiganya terfokus pada Aridha yang menggenggam dua pistol di tangannya. Padahal, tangan kanan Aridha masih tak sepenuhnya pulih. Namun, dalam keadaan terdesak seperti ini, tangannya seakan mengerti dan bersedia di ajak kompromi.


"Mas.... Rumah kita di serang dari depan dan belakang. Beberapa pelayan sudah ku amankan di ruang bawah tanah sebelah dapur. Tapi, kak Hanum dan kak Alma masih tertinggal di dapur.


mereka bersembunyi di rak bawah tempat memasak.


Pergilah kesana dengan mama.


Aku akan ke pintu depan dengan papa".


Tak mau berdebat, ketiganya mengikuti taktik Aridha. Mereka percaya, untuk masalah bertarung dan mengecoh, Aridha jelas tak bisa di sepelekan begitu saja.


Setibanya di ruang depan, mata Radhi nampak melihat beberapa pengawal miliknya tergeletak tak berdaya di lantai dengan beberapa luka tembakan.


"Kita kembali masuk, Ridha. Kita tak boleh berpencar. Kita harus saling melindungi."


"Baiklah, pa".


Ketika mereka tiba di ruang belakang, Jelita dan Kara berlari menghampiri keduanya.


"Di mana Hanum dan Alma?".


Radhi bertanya dengan wajah khawatir, apalagi mengingat bahwa saat ini, Hanum tengah mengandung calon cucunya.

__ADS_1


"Sudah ku sembunyikan ke dalam ruang bawah tanah dekat dapur bersama para pelayan". Jawab Kara cepat.


"Kita berempat, tak boleh berpencar."


"Ya, mas. Aku mengerti".


Sialnya, di saat bersamaan, beberapa derap langkah terdengar dari ruang depan dan belakang.


Mereka berempat terkepung.


Wajah empat orang itu nampak menunjukkan keganasan seperti singa yang telah di usik masa tidurnya.


Melihat banyak pengawal-pengawal yang menggunakan penutup kepala seperti ninja, Radhi bergumam pada Kara, Lita dan Aridha.


"Ini pertarungan yang sesungguhnya.


Ridha, berlarilah ke lantai atas dan ambil senapan Laras panjang di belakang bufet kamar papa. Isi semua pistol dengan puluru."


"Ya, pa".


Ridha segera berlari ke lantai atas tanpa menunda waktu.


Di bawah, mereka saling serang dengan komplotan musuh. Hingga Aridha kembali dengan membawa satu senapan Laras panjang dan beberapa pistol cadangan yang ia masukkan ke dalam tas kerja Radhi yang di sampirkan ke bahunya.


"Apa tanganmu, masih sakit, sayang?" Jelita menatap putrinya khawatir tanpa mengendurkan ke waspadaan nya.


"Tidak, ma. Tanganku sudah gatal karna tak pernah bertarung".


Hingga mereka kembali di serang.


Beberapa kali terdengar suara pistol, membuat siapapun bergidik ngeri. Beruntung kediaman Radhi ini jauh dari rumah tetangga. Jadi tak akan ada satu orang pun yang akan terlibat dalam pertarungan kali ini.


"Sial....."


Umpat Aridha ketika pistol yang ada dalam genggamannya kehabisan peluru, sedang ia masih terjebak di belakang sofa ruang tengah.


Radhi dan Jelita serta kara, mereka menghilang entah kemana dan tadi berlari mengejar beberapa orang yang nampak berlari keluar.


Tatapan mata Ridha beralih pada anak panah beserta busurnya yang menjadi bahan koleksi mamanya.


Tanpa pikir panjang, Ridha segera melempar tas kerja Radhi dan meraih busur panah yang ada di dalam bingkai pigura.


Memecah kacanya dengan vas bunga dan segera meraihnya.


Persetan andai nanti bila Jelita marah karna koleksi panah kesayangannya telah Ridha gunakan. Yang terpenting sekarang, Aridha harus memegang senjata untuk melindungi dirinya.


Sedang di halaman depan, Radhi dan Jelita tak berkutik ketika seorang musuh mengarahkan pistolnya tepat pada pelipis Kara.


"Sekali lagi kau menyerang anak buahku, ku pastikan kehidupan putra mahkota Praja Bekti ini, yang akan menjadi barternya.".


Satu tangan pria yang menodongkan pistol pada Kara itu kemudian melempar sebuah map ke arah Radhi.

__ADS_1


"Bubuhkan dua tanda tangan anda dan nyonya besar di atas materai, dan aku..... akan melepaskan putra anda setelahnya".


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2