Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Perpisahan


__ADS_3

Rasa mual di pagi hari, dengan disertai dengan muntah tak berkesudahan, membuat Yasmin merasa lemas. Rasa itu tiba-tiba muncul di saat bersamaan, disertai pening hebat di kepala.


Aksa sudah harus berangkat ke bandara pagi ini, namun ia tak bisa menawar sama sekali, untuk tetap tinggal lebih lama. Kabar gembira, nyatanya harus dihadapi dengan perpisahan Aksa dan Yasmin.


Yasmin dinyatakan positif hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki angka lima Minggu. Tentunya aksa merasakan kehadiran yang mendalam. Siapa memangnya yang menyangka, ia akan memiliki anak di usia sedini ini? Bukankah ini hebat, menurutnya?


"Aku tak apa-apa, Aksa. Lagi pula oma dan opa sendiri yang akan mengantarku, jika nanti rasa mual dan muntah ini sudah mulai berhenti." Ungkap Yasmin,.dengan jemarinya berada di dalam.gemggaman tangan Aksa.


"Aku, aku ingin menemanimu, sweetheart. Tidakkah kau merasa kesepian, nanti?" Tanya Aksa yang sangat mengkhawatirkan Yasmin. "Saat kau nanti butuh apa-apa, bagaimana?"


Mendengar penuturan suaminya, Yasmin tertawa renyah. Bibirnya yang pucat dan tampak kering, membuat Aksa merasa tak tega.


"Jangan khawatir. Disini banyak orang, ada siapa pun yang akan memenuhi keinginanku bila aku mau makan sesuatu. Kau harus tenang dan fokus pada kuliahmu disana, agar kau bisa memimpin perusahaan lebih dini, dibantu opa dan papa, ada Tante Aridha juga. Jadi, apa yang mau kau khawatirkan?" Tanya Yasmin.

__ADS_1


Sejujurnya, belum pergi saja, Aksa sudah sangat dirindukan Yasmin. Terlebih, selama ini Aksa dan Yasmin tak terbiasa terpisah barang sehari saja. Itulah sebabnya, Yasmin takut tak mampu menghadapi hidup tanpa Aksa.


Namun demi pendidikan lanjutan sang suami, Yasmin tak bisa berbuat banyak, apa lagi mencegah kepergian Aksa. Yasmin tak memiliki keberanian sebesar itu. Keluarga kaya, itulah risikonya memiliki mertua kaya dan berkuasa.


"Berjanjilah untuk selalu menungguku, apa pun yang terjadi, jaga anak kita." Ucap Aksa.


Yasmin mengangguk, membiarkan setetes demi setetes air matanya mengalir begitu saja. "Aku tahu kau pasti bisa. Oma bilang, aku tak apa bila harus ikut denganmu kesana, asal kondisi tubuh dan kandungan, memungkinkan. Ini tak akan lama, dokter berkata, mungkin dua bulan lagi akan segera pulih."


Aksa mengangguk paham. "Nanti, aku akan menjemputmu."


"Hanya dua hingga tiga bulan. Ini tak akan lama, kau juga harus fokus, Aksa. Jika nilai akademik bagus, Oma akan memberimu kesempatan untuk bisa bersama istrimu selama masa kuliah. Sebaliknya, jika nilaimu tak bagus, maka Oma tak akan memberimu izin bisa membersamai anak dan istrimu."


Tambah Jelita lagi.

__ADS_1


"Benarkah, Oma? Oma tak bercanda?" Tanya Yasmin yang tiba-tiba seperti menemukan semangatnya.


"Mana mungkin Oma akan bercanda? Apakah Oma pernah membohongimu?" tanya Jelita kemudian.


"Baiklah, Yasmin percaya." Pandangan Yasmin kemudian beralih pada Aksa. "Kau harus bersungguh-sungguh disana, Aksa." Pinta Yasmin kemudian sambil menatap suaminya.


Tentu Aksa seperti menemukan semangat baru. "Baiklah, Oma. Keluarga Praja Bekti harus memiliki pewaris yang cerdas dan tangguh."


"Ya. Setelah anak kalian lahir, Keluarganya kita akan mengadakan resepsi besar-besaran untukmu dan Yasmin." Tambah Jelita kemudian.


"Aku tak butuh resepsi, Oma. Aku hanya perlu, dekatkan selalu aku dengan Yasmin." ungkap Aksa.


"Huh. Dasar pengantin baru, labil pula." Jelita mendesah tak berdaya, di dalam hati.

__ADS_1


**


__ADS_2