
Waktu malam telah merangkak memasuki waktu pagi, ketika mobil yang dikendarai Radhi dan cucu kebanggaannya memasuki kediaman Praja Bekti yang besar nan megah. Beberapa penjaga tampak tergopoh-gopoh membuka pintu ruangan. Pagar yang menjulang tinggi, tertutup kembali setelah mobil paling mahal milik Radhi memasuki garasi luasnya.
Jelita muncul dengan wajah yang segar, meski kantung matanya sedikit menghitam.
"Sayang, sudah pulang?" Jelita menyala suaminya yang muncul diambang pintu. Ia tak menyadari kehadiran Aksa dibalik punggung suaminya. Jelita pikir, tak ada orang yang mengikuti Radhi.
"Ya, aku pulang." Dengan gerakan yang sedikit terbilang agresif, Jelita lebih dulu mengecup dan ******* sebentar bibir suaminya. hingga kemudian dirinya tersadar, bahwa Aksa melongokkan kepalanya dan Jelita bisa melihatnya dengan jelas.
"Ah, Oma. ini masih terlalu pagi buta untuk mempertontonkan kemesraan." Tukas si Aksa sebelum ia benar-benar berbalik pergi meninggalkan Omanya itu. benar-benar menjengkelkan. Lita belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya itu, ketika Alsa sudah menerobos masuk ke dalam, melewati ruang tamu untuk mencapai tangga dan berniat naik ke atas.
"Terima kasih ilmunya, Oma. Lain waktu aku akan memeragakannya bersama Yasmin." seloroh Aksa sambil menaiki anak tangga. suaranya setengah berteriak dan langkahnya setengah berlari. Awas saja nanti.
"Apa-apaan ini, mas? Kenapa bisa si Aksa tiba-tiba muncul? Anak itu kurang ajar sekali karena berani pada orang tua. padahal wajahnya penuh lebam." Tukas jelita keheranan. Radhi hanya mengedikkan bahu.
"Dia itu sebenarnya kesakitan. Hanya saja ia tak mau terlihat lemah dimatamu. Ya sudah, siapkan air es untuk mengompres luka-luka lebamnya. jangan lupa antiseptik juga." ucap Radhi sembari melangkah maju, membiarkan Jelita mengekor di belakangnya dengan langkah anggun.
"Bagaimana dengan si penculik?"
"Jangan bicarakan lagi, mungkin anak-anak memberinya pelajaran sampai jera. Bila dia beruntung, dia memiliki kesempatan untuk meminta maaf pada kita."
"Ya sudah. Ceritakan aja nanti tentang siapa pelaku penculikan Aksa. aku tidak sabar untuk mengetahuinya."
"Dari dulu memangnya kapan kau akan bersabar? selalu tidak sabaran."
"Tak mengapa, kau masih cinta."
__ADS_1
Di ruang keluarga di lantai atas, Aksa demikian disambut heboh oleh Ariana dan juga Luna. kedua Tante Aksa itu memperlakukan Aksa seolah seperti bayi yang baru saja terjatuh dari ayunan.
"Ya tuhan, keponakanku, Aksa. aku tak menyangka kau akan separah ini lukanya." Luna yang memang memiliki pembawaan lembut dan santun, sontak saja menyambut Aksa dengan raut prihatin. Bahkan luka memar dan lebam di pelipis dan sudut bibir Aksa, membuat Ariana juga ikutan heboh.
"Apa yang terjadi, Aksa? Kenapa bisa begini? Mereka yang melukaimu, Tante Riana janji akan membuat mereka menyesal."
"Tak apa, Tante. Aksa mengantuk dan lelah. Biarkan Aksa istirahat dan mengobati luka-luka ini. Tak apa, Aksa adalah jagoan." Sahut Aksa santai sambil mengecup pipi Luna dan Arian bergantian.
"Luka sebanyak ini bisa kau bersikap santai dan seolah tidak terjadi apa-apa? Ya tuhan, putra Kara ini benar-benar aneh." Ariana menimpali. "Mandilah dulu, Aksa. Nanti biar Tante Riana yang akan menyiapkan obat untuk luka-lukamu."
"Baiklah, tante yang manis. Aku juga ingin masakan Tante Luna, kalau Tante Luna bersedia." Aksa mengecup pipi Luna sekali lagi, sebelum ia berlalu pergi dari sana, meninggalkan Luna yang berdecak ke arah Aksa.
**
Baru saja Jelita dan Ariana selesai membersihkan dan mengobati luka-luka Aksa, tepat saat itu juga beberapa mobil tampak memasuki kediaman mereka. Jelita segera turun, membiarkan hanya Luna dan juga Aksa yang sedang berdua di kamar Aksa untuk membereskan obat-obatan Aksa.
"Kalian semua beristirahatlah saja dulu. Daniel, kau juga sebaiknya istirahat saja disini." Radhi berkata datar. tidak seperti biasanya, namun syarat rasa terima kasih tampak jelas dari netranya.
"Pa, aku tak berhasil memburu john dan sepertinya dia tetap menginginkan mama. Rasanya, lelaki itu tak akan pernah berhenti untuk memburu keluarga kita juka mama tak segera didapatkannya." Aridha tiba-tiba mengeluarkan kalimatnya, ketika Jelita baru saja turun dan terlihat melangkah dari arah tangga.
"Kalian tak berhasil meringkus John dan anak buahnya?" tanya Radhi yang tampak sedikit terkejut.
"Ya. Dia terlalu cerdik tentunya." Semua yang mendampingi Aridha, tentunya terkejut melayangkan pandangan ke arah Aridha. Bukankah John sudah tenang di neraka sana? Itulah yang jadi pertanyaan mereka. Namun sejurus kemudian, Aridha mengisyaratkan dengan kedipan mata.
"Kalau begitu, papa sendiri yang akan mengatasi John. lebih baik kalian Istirahat dan bersihkan diri lebih dulu." ungkap Radhi.
__ADS_1
"Sepertinya memang Oma harus sehwra diserahkan ke John segera, opa. Itupun bila opa tak mau terjadi kekacauan di rumah kita." Aksa tiba-tiba datang menimpali dengan tenang, membuat jelita mengernyit dalam, apa maksud anak dan menantunya, sert cucu-cucunya ini.
Melihat kebungkaman mereka semua, sepertinya ada sesuatu yang membuat Jelita penasaran. "Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dengan John?"
Semua mata tertuju pada Aksa dan Jelita bersamaan.
"John menjadikan aku tawanan karena ingin dijadikan barter untuk mendapatkan Oma. Menyebalkan sekali." Aksa berdecak sebal. Netra mata tajam Aksa lantas beralih pada sang singa betina Praja Bekti, mendapat kode untuk melakukan sandiwara ini.
"Apa? Yang benar saja? Dia mau mati, ya?" Jelita berkata berang. Hingga kemudian Aridha tertawa renyah mendengar kejengkelan mama.
"Kau ini bercanda atau bagaimana, Ridha?" tanya Radhi kemudian dengan kening berkerut.
"John sudah terbaring di neraka sana, pa, menikmati panasnya api neraka karena perbuatannya sendiri. Jangan khawatir, dia sudah mati di tanganku. Aku tak akan menewaskannya jika dia tidak berusaha membunuhku. Papa jangan memarahiku, aku hanya berusaha melindungi diri karena aku tak mau berakhir ditangannya." Aridha berlalu pergi, meninggalkan keluarganya menuju tangga dan berniat untuk menuju ke kamarnya.
"Ya tuhan, aku tak mau tangan anak cucuku ternoda oleh darah." Radhi memijit pelipisnya dan mendesah lelah. Aridha memang tak memiliki belas kasih jika sudah terusik. ia tak jauh berbeda dengan Kara. Hanya Aluna saja yang memiliki pembawaan santun dan keibuan.
"Aku tak menyangka, usia Oma yang sudah lebih dari setengah abad, mampu membuat banyak lelaki mengincar omaku yang garang ini." Aksa menjulurkan lidahnya ke arah Jelita, untuk mengurai keheningan semua orang dan pengawal.
"Diam, Aksa. Lebih baik kau beristirahat sana, sebagai hukuman, nanti sore kau akan belajar beladiri dengan Oma nanti." Mata Aksa membelalak, "Dan aku akan menikahkanmu dengan putri Inora, Yasmin selepas kau lulus nanti, sebagai hukuman tambahan."
Ganti semua orang yah menahan tawa karena mendengar keputusan Jelita yang tak bisa dibantah untuk Aksa. Rasakan kau, Aksa!
**
hai untuk semua pembaca setia Radhi dan jelita. Istia mau sampaikan, nih, kalau istia juga nulis di f***o, judulnya SAJAK LUKA SANG GANDRUNG, dan juga ada GAIRAH PERJAKA PEMBAWA LARA. jangan lupa mampir ya, teman-teman. disana gratis tanpa koin kok. mohon dukungannya mengikuti cerita Istia disana.
__ADS_1
terima kasih semua.
selamat membaca.