
Kara meringis menahan rasa pedih yang menjalar di sekujur wajah tampannya.
Rasa asin terasa di lidahnya ketika dinding bibirnya sedikit pecah akibat pukulan buas dari ibunya.
Itu semua tak lagi terasa mengerikan di banding dengan gundah gulana yang menggelayuti hatinya.
"Lakukan dengan cepat, aku tak memiliki banyak waktu untuk hal remeh remeh seperti ini. Aku harus mendapatkan keberadaan istriku secepatnya"
Ucap Kara di iringi desis kesakitan ketika dokter Antonio mengompres lukanya dengan antiseptik.
"Sudah, tuan".
Tanpa menunggu lagi, Kara segera beranjak dan, berlalu cepat entah ke mana.
Yang jelas, ia harus segera mendapatkan keberadaan istrinya.
Tepat ketika kakinya menginjak pada ruang keluarga, Kara melirik ruang kerja mamanya yang sedikit terbuka. Jelita tengah berdiskusi dengan beberapa orang kepercayaan nya.
Maka, dengan sedikit kegamangan yang menaungi hati Kara, Kara segera masuk setelah mengetuk pintu lebih dulu.
Diskusi mereka tetiba berhenti. Mata Jelita demikian tajam menatap Kedatangan Kara dengan wajah lebam-lebam. Namun, tak mengurangi kadar ketampanannya sedikitpun.
Kara tau, dirinya bukanlah apa-apa tanpa kedua orang tuanya. Kesalahan terbesarnya adalah, ia tak bisa menjaga dirinya dengan baik, sesuai dengan apa yang orang tuanya inginkan.
Namun, Kara tak ingin menjadi pihak yang kalah. Ia tetaplah harus mengantongi maaf dan dukungan dari Jelita.
Mustahil bagi kara bila dirinya harus menangani hal ini seorang diri.
Bila Kara saja tak mampu menghadapi musuh, Itu artinya, musuhnya bukanlah orang sembarangan.
Bila Kara saja bisa kecolongan, itu artinya, kekuatan Meeka tak bisa dianggap remeh.
"Maafkan kara, ma".
Kara yang terbiasa berjalan angkuh dan bersikap semaunya, kini menyerah dan bukanlah apa-apa di hadapan Jelita.
Ia menunduk dalam, menyesali kebodohannya karna tak tau istrinya pergi kemana.
Jelita menatap lekat putranya yang nampak kacau.
Sebenarnya, jauh di lubuk hati Jelita, Lita tak tega. Namun kembali lagi pada pokok permasalahan.
Kara di jebak. Maka kesalahan bukanlah sepenuhnya milik Kara.
"Duduklah".
Jelita berkata datar.
Telapak tangannya mengibas, memberi isyarat pada pengawal untuk keluar dan memberikan ruang untuk ibu dan anak ini untuk saling bicara dari hati ke hati.
Kara mengambil tempat duduk paling jauh dari mamanya, ia merasa perlu waspada kali ini, takut-takut nanti ia akan kembali di hajar oleh Jelita tanpa ampun.
Membayangkan saja membuat Kara bergidik ngeri.
"Ma...."
"Kau butuh bantuanku?".
"Aku bukanlah apa-apa tanpa mama".
Kara benar. Ia bukanlah siapa-siapa tanpa kedua orang tuanya. Ia merendah karna menyadari hal yang luput dari pengawasannya.
"Apa yang menkadi jaminanmu?".
"Aku akan lebih berhati-hati dalam bertindak, selanjutnya".
Jelita bangkit dan tanpa di sadari, menarik putranya untuk berdiri, memeluknya erat.
Pada akhirnya, sosok Kara adalah putra yang ia sayang. Mustahil bagi Lita untuk membenci putranya.
"Kita akan cari istrimu sama-sama, nak.".
Suara Jelita terdengar parau. Kemeja yang di kenakan kara tetiba basah oleh air mata.
Tanpa kata, Kara segera memberi jarak pada pelukannya, mengusap lembut kedua sisi di bawah mata ibunya dengan kedua jemari tangannya.
__ADS_1
"Jangan menangis, ma. Aku berjanji akan menemukan Hanum untuk mama.
Aku bersumpah siapapun yang membuat mama dan istriku meneteskan air mata, mereka akan membayar dengan harga yang pantas.
Aku bersumpah, aku bersumpah!!".
Mata Kara menyala penuh amarah.
"Pergilah. Restu mama bersamamu".
Kara kembali mendekap erat mamanya, memberikan ketenangan dan menyalurkan kehangatan. Ada berjuta kasih yang tak mampu Kara ucapkan, namun mampu membuat seluruh dunia tercengang saat melihatnya.
Usai itu, kara berlalu pergi.
Jelita hanya bisa memandangi putranya dengan kemelut dalam hatinya.
Begitu juga dengan Kara, hatinya di penuhi luka.
Dalam hati, kara berjanji untuk siapapun yang menjebaknya, Akan ia buat hidupnya menderita dari dirinya.
*****
"Ha ha ha ha ha ha ha......
Aku puas. Aku puas".
Dita tertawa seperti orang kesetanan seketika.
Kabar kepergian Hanum seperti keinginannya telah terpenuhi.
Dita tak peduli lagi. Ia amat sangat tak peduli.
Selama ini hidupnya menderita. Pada akhirnya, kebahagiaan nyaris datang padanya.
Lupa diri.
Itu lah kata yang pantas di sematkan untuk Dita.
Dengan segera, Dita memasuki sebuah ruangan. Membawa keluar seorang bocah laki-laki yang berusia hampir tiga tahun.
Holy.....
"Ambil ini, Holy. Pergilah sejauh mungkin agar keluarga Praja Bekti tak bisa menemukanmu.
Tutup mulut rapat-rapat.
Aku telah membereskan segalanya.
Ku jamin jejakmu tak terendus oleh siapapun".
"Aku tak butuh uangmu. Aku juga tak ingin terlibat lagi denganmu".
Holy segera beranjak dan berlalu pergi.
Mendapat kan putranya kembali adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Holy tak ingin apapun lagi sekarang.
Tanpa mereka sadari. Percakapan mereka terekam jelas sebuah ponsel yang berada dalam genggaman seorang pria paruh baya yang menyusup dan melakukan penyamaran.
*****
Seorang pria muda yang berusia dua puluh tujuh tahun, tengah menatap pemandangan malam dari balik jendela kamarnya.
Matanya nyalang menatap langit. Menyimpan banyak kesedihan dan ke tidak berdayaan.
Hatinya rapuh. Meski sekuat mungkin ia menyembunyikan, tetap saja ia tak mampu menumpu beban hidupnya sendirian.
Daniel........
Kembali terbayang oleh penghinaan yang Dita lakukan. Di tinggal pergi dua hari tepat menjelang pernikahan sederhana mereka, meninggalkan jejak luka tersendiri bagi Daniel.
Beruntung keluarga Adi Prama adalah keluarga yang sangat baik. Mereka mengijinkan Daniel mengunjungi putrinya secara berkala meski ia telah melemparkan aib pada keluarga mereka di masa lalu.
Daniel ingin taubat.
Danil bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Daniel ingin memperbaiki semuanya.
Tapi justru alam menghukumnya. Kesalahannya yang telah membuat Dita terpuruk, membuatnya tak mampu melawan keadaan.
Biarlah, kali ini Daniel ingin menjadi pihak yang pasif saja.
"Kak".
Alex datang dengan senyum manis. Daniel menoleh sesaat sebelum pandangannya kembali teralih pada langit malam yang demikian kelam sekelam masa lalunya.
Langit malam tanpa bintang, Gelap".
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu?".
Ungkap Daniel dengan suara datar.
"Sudah. Kau saja yang tak mendengarnya."
"Ada apa?".
Daniel kembali bertanya tanpa mengalihkan tatapannya.
Alex pun segera mengambil tempat duduk di tepi ranjang milik Daniel.
"Besok kau akan mengunjungi putrimu di kediaman Adi Prama?".
Alex bertanya dengan hati-hati.
"Ya".
"Aku ikut denganmu".
"Untuk apa?".
"Mama memberiku perintah. Lihatlah ke dapur.
Mama membuat kue kesukaanmu. Katanya untuk Gihana, cucunya".
Alex tersenyum kecil.
Terkadang, Alex merasa geli sendiri seketika, saat Sundari berceloteh dan mengungkapkan keinginan hatinya untuk bertemu dengan Hana.
Namun apa daya? Sundari merasa tak bisa dan memiliki kuasa untuk menemui cucunya itu.
"Mama bisa ikut denganku".
"Tidak bisa untuk besok. Kau tau, tetangga di ujung kompleks, memesan beberapa makanan untuk acara kelurga mereka.
Aku punya usul, bagaimana bila mama membuka usaha catering saja? Bukankah itu hal yang bagus?".
"Aku tak setuju".
Tukas Daniel kemudian.
"Mengapa?".
"Karna kewajiban kita sebagai anak untuk membahagiakan orang tua. Bukan justru menyuruh secara tak langsung pada mama untuk bekerja di masa senja nya".
Alex bungkam.
"Tapi mama setuju untuk ide adikmu".
Sundari muncul tiba-tiba. Kedua tangannya membawa toples kecil berisikan beberapa kue kering yang ia bawa untuk kedua putranya.
"Usia mama meski tua, tapi mama masih kuat. Sayangnya, Alex belum menikah.
Padahal mama ingin Alex juga memiliki seorang anak yang lucu untuk selalu bisa mama rawat".
Wajah Sundari mendadak mendung tiba-tiba.
Daniel tersenyum jahil ke arah Alex.
"Oh, bagaimana bila mama menjodohkan Alex dengan putri dari Praja Bekti yang terlihat manis itu. Bukankah akan sangat cocok?".
"Tidak!!"
__ADS_1
Alex berdiri secara tiba-tiba.
🍁🌻🌻🌻🍁