Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Berburu Belalang


__ADS_3

Perjalanan terasa membosankan bagi Hanum hari ini. Akhir pekan, biasanya Kara akan membawanya ke atas ranjang seharian. Bermesraan dan saling berbagi cerita.


Namun untuk akhir pekan ini, Reksa sang kakek memaksa mereka untuk datang ke desa ketika mendengar kabar bahwa si cucu menantu tengah ngidam belalang goreng.


Kara tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Mobil yang mereka tumpangi, kini telah memasuki sebuah pekarangan sebuah rumah terbesar, namun asri milik Reksa.


Rumah itu nampak sangat teduh dan rindang, juga rumah paling besar di antara banyak rumah yang berjejeran.


Senyum Ratna dan Santika tersungging sempurna tepat di depan pintu rumah. Wajah rentanya menunjukkan pendar kebahagiaan.


Kara dan Hanum segera turun.


Di sambut dengan hangat oleh dua Oma yang demikian menyayanginya dengan sepenuh hati.


Ya tuhan, sejenak pasangan suami istri ini merasa iri dengan kebahagiaan mereka meski usia mereka tak lagi muda.


"Ya Tuhan..... cucuku. Ayo masuk sayang..."


Suara lembut Santika tak sedikitpun berubah. Nadanya senantiasa mengalun merdu di telinga.


"Selamat datang, sayang. Oma senang kalian mau menginap di sini meski hanya semalam.


Ayo ayo masuk."


Pandangan Ratna beralih pada Santika.


"Mba Tika, aku akan menyusul mas reksa dan Luna sebentar".


"Ya, hati-hati. Katakan segera pulang. Kakek dan cucunya itu selalu saja lupa waktu bila sudah memancing di danau".


Santika terkekeh ringan saat mengingat keseruan mereka yang seringkali lupa waktu. Namun, ia akan sangat bahagia bila suaminya itu selalu pulang dengan membawa tangkapan ikan segar untuk di masak sendiri.


"Ya, baiklah".


Setelah Ratna berlalu pergi, Santika segera menuntun Hanum dan Kara untuk segera beristirahat di kamar tamu.


"Jadi, sudah bulan ke berapa usia kehamilanmu, nak?"


Tanya Santika dengan membuka seluruh gorden kamar.


"Lima bulan, Oma".


Senyum lembut tak lepas dari bibir Hanum.

__ADS_1


Dulu.....


Wanita ini sangat ingin memiliki keluarga lengkap nan utuh. Sayangnya, ia hanya tinggal bersama ibu dan kakaknya saja.


Santika mendekat dan ikut duduk di tepi ranjang seperti Hanum. Kara hanya berdiri di ambang pintu dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sebuah koper bawaan Kara, Kara letakkan begitu saja di dekat lemari.


"Oh bagus. Perbanyak gerak dan jangan suka bermalas-malasan agar saat lahiran nanti, bisa menggunakan cara normal.


Tapi ingat, harus di imbangi dengan istirahat yang cukup juga".


"Ya. Terima kasih Oma".


"Oh ya, ngomong-ngomong..... tumben kalian akan menginap di sini?".


Santika bertanya sedikit curiga. Pasalnya, selama ini Kara sangat sulit bila di minta dirinya untuk menginap.


"Emh.... Hanum.... ingin memakan belalang goreng hasil tangkapan mas Kara sendiri, Oma. Kemarin saat telepon, opa juga memaksa kami untuk menginap di sini.".


Santika terkejut.


Wajah puas namun berganti jahil kemudian terlintas dalam sorot matanya.


"Oh, bagus. Belalang adalah hewan dengan protein tinggi. Protein sangat bagus untuk perkembangan janin".


Sudut mata Santika melirik ke arah Kara yang meneguk salivanya susah payah.


Membayangkan Kara harus menangkap hewan yang menjadi musuhnya, adalah momen yang sangat langka.


"Eemmm.... aku... aku ke dapur dulu, Oma.


Aku haus". Pamit kara tanpa menunggu sahutan dari dua wanita yang di sayanginya ini.


Meninggalkan dua orang itu yang tengah terkikik geli ke arahnya.


Kara mengumpat dalam hati. Andai Hanum tak sedang ngidam, Kara tentu akan menentang habis-habisan apa yang menjadi keinginan istrinya itu.


*****


"Oh mas, bagus..... Yang itu, yang itu.... sedikit lagi, sedikit lagi ayo...ayo lagi ...".


Hanum demikian semangatnya memberi support Kara. Kara demikian gemetar dan wajahnya nampak pucat.


Di tangan Hanum, tiga ekor belalang telah Kara tangkap. Membayangkan harus menangkap sembilan puluh tujuh ekor lagi, membuat Kara merintih dalam hati.


'Sesulit inikah menjadi calon ayah'

__ADS_1


Sayangnya, jeritan itu, hanya menggema dalam hati.


Tak jauh dari mereka, Reksa dan Luna tertawa renyah melihat wajah Kara yang nampak tersiksa.


"Yes kena....... Ayo mas, kemarikan".


Hanum bersorak kegirangan saat kara berhasil menangkap satu ekor belalang lagi yang cukup besar.


Entah untuk yang ke berapa kali, jemari Kara merasakan kesakitan setelah terkena tendangan kaki belalang beberapa kali.


"Sudah kan, sayang? Aku lelah?".


"Mas, keluhanmu itu tak pantas dengan tubuhmu yang liat dan berotot. Baru dapat empat belalang sudah lelah.".


Ucap Hanum tanpa menatap mata suaminya. Tangannya sibuk memasukkan belalang ke dalam toples kecil yang di bawanya.


"Oh baiklah, kita akan cari lagi".


Langkah Kara demikian ragu menyusuri jalan setapak di kebun kacang milik reksa. Beberapa buruh tani yang sedang dalam pekerjaan membersihkan kebun, menyapa Kara dan Hanum dengan sangat sopan.


"Mas, aku suka dengan suasana pedesaan yang asri seperti disini. Bagaimana bila tiap akhir pekan, kita akan menginap di sini barang semalam saja?".


Kara menghentikan langkahnya, menatap istrinya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya dengan menuntunnya menuju sebuah pondok kecil yang tak jauh dari mereka.


"Ya, apapun yang kau inginkan. Tapi..... sudah cukup ya, berburu belalangnya."


Nafas Kara terdengar tak nyaman.


Ada rasa iba yang menyusup hati Hanum.


Kejahilannya kali ini berhasil membuat suaminya nampak kusut dan berantakan.


"Ya sudah, kita pulang sebentar lagi. Sangat di sayangkan kita hanya dapat empat belalang. Nanti kita bagi dua dan kita makan bersama".


Mata Hanum berbinar terang seketika.


Membayangkan dirinya akan kembali mengenang masa lalu dengan memakan belalang goreng, membuat bahagia membuncah dalam hatinya.


"Ya Tuhan.... cobaan apa lagi ini?".


Kara mengeluh secara terang-terangan. Hanum di sampingnya pun hanya menatap tanpa rasa berdosa sama sekali.


Fokus Kara tiba-tiba terhenti oleh suara notifikasi dari ponselnya. Sebuah foto yang menampilkan kebersamaan Alex dan Ridha membuat rahangnya mengeras seketika.


__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2