Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Bertemu Radhi 2


__ADS_3

"Baiklah. Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu. Dengar, kau harus mengambil pelajaran dari kisah yang akan aku ceritakan padamu." Ucap Radhi.


"Baik, eyang." Hana duduk dan memperhatikan Radhi dengan seksama.


Radhi lantas berjalan menuju ke arah Hana, mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal dalam ruang kerjanya.


"Ini tentang kisah masa lalu anak-anakku dan anak-anak Chandra, adikku. Seperti yang kau ketahui, ini berasal dari sebuah kesalahan. Apa kau sudah mendengar kisah mendiang Mona, nenekmu?" Tanya Radhi pada Hana. Lelaki itu lantas meraih dan meneguk kopinya, dengan cara yang sangat anggun. Bahkan Hana saja mengakui bahwa Radhi memang memiliki Pesona yang tak main-main.


"Mona siapa, eyang?" Tanya Hana.


"Maaf, bukan maksudku untuk lancang. Ini aku sengaja ingin menceritakannya, karena aku tak ingin hak buruk terulang lagi di masa lalu. Sebenarnya, ini bukan wewenangku, bukan kapasitasku untuk membuka rahasia di masa lalu. Tapi demi bisa membuatmu mengerti, maka aku tak memiliki pilihan lain." ungkap Radhi. Hana masih setia mendengarkan.


"Dulu, Chandra tak bisa memiliki anak dari istrinya, Dewi. Hingga kemudian Mona masuk ke dalam hidup Chandra melalui istriku. Disitulah, awal mula kehadiran Ibumu, Dita, yang terlahir dari Mona."

__ADS_1


Kening Hana berkerut tak suka. Ia bahkan berkeringat karena terlalu syok.


"Jadi, ibuku terlahir dari rahim wanita simpanan opa Chandra?" Tanya Hana kemudian.


"Ya. Dan kau akan lebih syok saat aku menceritakan masa lalu ibumu. Masa lalu yang lebih pelik daripada masa lalu nenek biologismu." Sambung Radhi lagi.


"Apa yang terjadi dengan ibuku, eyang."


Hana masih setia mendengarkan di tempatnya.


"Dita begitu sangat licik dalam menjatuhkan hatinya pada Kara. Aku juga tidak pernah menyangka, Kara akan memiliki kekejaman yang tersembunyi kala itu. Semua berawal dari Dita yang gegabah, melakukan cara curang dengan memisahkan Kara dari Hanum yang kala itu tengah mengandung. Kara menggila mencari istrinya, dan murka setelah mengetahui dalang dibalik perginya Hanum dari keluarga Praja Bekti."


"Lalu, apa yang tejadi, eyang?"

__ADS_1


"Kara dengan brutal menyiksa ibumu. Andai bukan karena kebaikan hati menantuku, Hanum, mungkin Dita telah tewas di tangan kara saat itu. Kau tak akan tahu, sebesar apa cinta putraku pada isterinya. Bahkan Kara sanggup melawan dunia hanya karena ia berpisah sementara dari istrinya." Tambah Radhi. lelaki itu menatap Hana, mengamati reaksi Hana yang syok.


"Dan itulah penyebab utama kecacatan pada kaki Dita. Merasa bersalah, aku akui Kara memang bersalah. Hanya saja, selalu ada penyebab yang mengawali sebuah tragedi. Sekarang aku bertanya padamu, apakah kau juga ingin satu nasib dengan ibumu? Ingatlah satu hal, Hana. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku sendiri mengakui, karakter dan pembawaan Aksa, tak jauh berbeda dengan Kara. Apakah kau mau, Aksa melakukan hal yang buruk, andai ia tahu kau berniat memisahkannya dari Yasmin?"


Hana menunduk dan bungkam. Lelaki itu benar-benar sudah membuka fakta masa lalu yang sangat membuatnya sempat malu.


"Hana . . . ."


"Tidak usah berkata apa pun, Hana. Aku sudah tahu semuanya. Sejatinya, setiap individu pasti akan memiliki sebuah kesalahan yang tak seharusnya. Hanya saja, aku berharap kau cukup cerdas dan memilih mundur sebelum kau celaka karena cucuku. Kau hanya belum mengenalnya betul, Aksa yang tampak ramah dan lembut, nyatanya memiliki sisi lain yang lebih menakutkan daripada Kara."


Pelan tapi pasti, wajah Hana memucat.


**

__ADS_1


__ADS_2