
Malam telah larut ketika Kara telah pulang ke kediamannya. Tubuhnya terasa penat akan aktifitas seharian yang tanpa henti. Jiwanya seolah lelah dan berteriak protes ketika pencarian Hanum tak juga menemukan hasil.
Rindu........
Hanya satu kata itu yang Kara rasakan.
Harinya terasa monoton. Harinya tak lagi sama seperti ketika Hanum berada di sampingnya.
Merebahkan tubuhnya ........
Kara kembali menitikkan air mata.
Sesuatu yang selama ini haram untuk Kara lakukan. Hanya menangis dan menangis sebagai ungkapan pada dunia, bahwa ia tak sanggup berpisah dari Hanum sekian lama.
Kara kemudian memiringkan tubuhnya, menghisap aroma bantal di sebelahnya.
Bantal yang selalu Hanum pergunakan.
Ya Tuhan......
Kara benar-benar tak sanggup untuk menahan diri lebih lama lagi.
Kemana perginya Hanum?
Perlukah Kara menggeledah seisi dunia untuk menemukan keberadaan istrinya?
Ini adalah malam ke tiga puluh empat Kara tanpa istrinya. Lelaki mana yang sanggup mendapati kenyataan bahwa istrinya pergi meninggalkannya ketika keadaannya tengah hamil muda?
Kara bangkit kemudian. Jemarinya terulur meraih laci di nakas.
Sebuah album foto pernikahannya dengan Hanum......
Sekali lagi, Kara terlihat rapuh tanpa istrinya.
Maka, Kara menyadari betapa dirinya tak sanggup bila harus tanpa Hanum.
Tak di ragukan lagi, Kara mutlak telah menjatuhkan hatinya sepenuhnya tanpa Hanum.
"Nak....."
Radhi muncul di ambang pintu. Menutup pelan pintu kamar putranya dan berjalan mendekat.
Senyum hangat penuh kasih tercetak di bibitnya yang selalu nampak menawan.
Dengan segera, Kara segera bangkit, dengan tangan yang masih menggenggam album pernikahannya.
"Mengapa menangis?"
Tangan Radhi mengusap rambut Putranya.
Sebagai ayah, tentu Radhi cukup peka dengan hal ini.
"Aku tidak apa-apa, pa".
"Kau tak ingin bercerita ataupun bertanya pada papa?"
Kara hanya menundukkan kepalanya dalam.
"Baiklah, bila kau tak ingin bercerita, papa tak akan memaksa. Tapi perlu kau ingat, Papa selalu ada untukmu. Sebagai tempatmu berbagi, sebagai tempatmu berkeluh kesah, sebagai teman yang akan menampung banyaknya cerita, sebagai....... apapun yang kau butuhkan".
Kara semakin menangis menjadi-jadi.
Sejauh ini, tempat yang sangat paling nyaman bagi Kara adalah Radhi.
Papa yang selalu ada, selalu bijak dalam memberi petuah-petuah nya yang berharga.
Kara terkadang bertanya-tanya, bisakah suatu saat Kara menjadi seseorang berkarakter seperti papa. Nampak kalem namun tegas.
"Aku....merindukan Hanum, pa."
Hanya itu kalimat yang mampu Kara ucapkan.
__ADS_1
Senyum terbit kembali dari bibir Radhi.
Sebagai pria, Radhi tentu tau bagaimana hidup tanpa istri yang di cinta, terlebih sang istri tengah mengandung.
"Percayalah, Hanum pasti kembali. Ia hanya perlu menenangkan pikiran dengan pergi sejenak."
"Tapi ini lebih dari sebulan semenjak kepergiannya, pa. Mengapa harus selama itu?
Tidakkah papa berpikir, bagaimana bila Hanum mengalami fase ngidam dan aku tak ada untuknya?
Aku merasa semakin tak berguna sebagai seorang ayah".
Suara Kara semakin parau.
Dalam hati, Radhi berjanji akan membawa pulang menantunya kembali setelah Radhi merasa, balasan untuk Dita dari Kara telah cukup.
"Papa mengerti. Bersabarlah..... Kau masih muda. Istrimu juga masih muda. Tak akan lama ia pasti akan kembali."
Hanya itu yang mampu Radhi ucapkan untuk menenangkan.
"Pa, kumohon....."
Kara tiba-tiba meraih jemari papanya, menggenggamnya dengan erat, meremasnya perlahan penuh permohonan.
"Temukan Hanum untukku. Aku hampir putus asa atas semua yang terjadi ini.
Aku percaya dengan kekuatan dan kekuasaan yang papa miliki".
"Papa akan membawa istrimu kembali, tenanglah....
Papa janji".
*****
Aridha masih asik berbincang-bincang dengan Sundari di ruang tamu. Di ruang tengah yang hanya di sekat oleh kain gorden, Terlihat Hana masih asik bermain bersama Daniel.
Mata gadis kecil itu masih terbuka lebar meski beberapa kali ia telah menguap.
Malam hampir larut saat ini. Namun Jelita belum memberinya kabar bahwa selesai atau belum dalam mengurus Dita.
Entahlah, melihat kakaknya menunjukkan wajah beringasnya, membuat Ridha merasa ngeri sendiri.
Se-mengerikan itukah bila jatuh cinta?
Nampak sanggup menghancurkan dunia dan seisinya.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu, nak?"
Sundari berusaha berbincang lebih dalam dengan Ridha.
Ia sangat penasaran, seperti apakah hati seorang aridha.
"Mereka baik, nyonya".
"Panggil aku ibu".
"Baiklah, Bu"
Aridha menjawab tanpa canggung sama sekali.
Sundari menilai, sepertinya, Aridha bukanlah type wanita yang mudah di tumbangkan oleh keadaan dan lingkungan.
Sejenak, ada tatapan takjub dalam mata Sundari yang berbinar.
"Bolehkah ibu menanyakan sesuatu padamu, nak?"
Sundari bertanya dengan hati-hati.
Sepertinya, ini adalah momen yang tepat untuk mengetahui sisi hati Aridha yang sensitif.
"Boleh, tanyakan saja".
__ADS_1
"Benarkah kau mencintai putraku, Alex?"
Ucap Sundari.
Aridha tersenyum manis dengan sangat menawan. Tak ada kaku ataupun kecanggungan.
Dalam situasi seperti ini pun, Aridha masih bisa bersikap tenang tanpa terusik.
Benar-benar sosok yang memiliki pembawaan tenang, namun tangguh dan kekuatannya luar biasa.
"Ya.... Tetapi aku bukan wanita yang mudah menyerahkan segalanya pada pria.
Keluarga Praja Bekti sangat mengajarkan tentang batasan-batasan wanita terhadap pria yang harus tetap di jaga kuat.
Aku memang mencintai Alex, tak peduli putramu itu tak mencintaiku juga, Bu.
Tetapi aku tulus tanpa mengharap imbalan apapun dari Alex".
Mata Aridha menatap Sundari lekat.
"Meski kau tau bahwa putraku dulu sangat brengsek?"
"Syarat mati bukan tua atau muda.
Syarat sukses bukan hanya perihal modal atau nekat saja.
Syarat mencintai bukan tampan atau Kaya.
Sebobrok apapun reputasi Alex perihal wanita di masa lalu, Aku akan tetap menerimanya dengan tangan terbuka asal dia mau berubah."
Aridha menjawab dengan mantap.
Pada akhirnya, Sundari tak bisa berkata apapun lagi sekarang.
"Bagaimana bila Alex bersedia mengarungi bahtera rumah tangga denganmu?
mungkinkah keluargamu merestui, mengingat bahwa Alex bukanlah pria baik-baik di masa lalu".
"Itu lah bagian perjalanan hubungan kami. Segalanya penuh halangan sebagai ujian tuhan.
Bukankah tak semua jalan akan mulus tanpa cela? Akan ada saatnya jalanan penuh dengan batu terjal.
Bila memang putra ibu mencintaiku, aku tak keberatan untuk memperjuangkan hubungan kami bersama-sama nanti".
Tanpa mereka sadari, Alex menghangat hatinya karna menguping pembicaraan dua wanita itu.
Baiklah, mungkin Alex harus mencoba memulainya dengan baik.
Bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik?
"Baiklah, aku pamit dulu, Bu. Sampaikan salamku pada Alex".
"Oh tentu saja".
Maka, Aridha segera mengajak Hana untuk pulang.
"Aku pulang dulu, pa"
Hana......
Memeluk Daniel sekali lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya menaiki mobil bersama Ridha.
Alex tersenyum-senyum sendiri menatap Aridha dari balik jendela kamarnya.
🍁🌻🌻🌻🍁
Kalau mau neng Tia nya semangat buat up terus, jangan lupa kasih vote, komen, like juga ya......
Buat sajen😄
Salam segalanya dari neng Tia❤️❤️
__ADS_1