
Seorang pria dan wanita berjalan beriringan memasuki sebuah aula gedung, tempat dilangsungkannya acara ulang tahun sebuah perusahaan.
Langkah mereka perlahan, bak raja dan ratu yang menjadi pusat perhatian.
Aura mereka demikian kental akan keserasian yang mereka kuarkan.
Kara dan Hanum berjalan beriringan menyusuri jalan menuju tempat yang telah di dekorasi sedemikian rupa.
Chandra dan Dewi selaku pemilik demikian terkejut saat mendapati Keponakannya tetiba datang dengan menggandeng seorang wanita.
Bukankah Kara batu saja tiba dari New York?
Secepat inikah Kara mendapatkan pasangan?
Tak jauh dari mereka,
Dita demikian mencelos sakit di hatinya.
Dunianya mendadak hancur karna Pria pujaannya telah menghempaskan perasaannya dengan sangat luar biasa.
Dita merana......
Dita berduka.....
Dita terluka......
Dita menyesal, menyesali segalanya.
Sayangnya, penyesalan itu tak dapat membuat hati Kara tersentuh sedikitpun.
Di sadari Hanum atau tidak, Kara menatapnya penuh pemujaan.
Ada rasa penasaran yang menggelayut di sepanjang otak Kara.
Sejumput rasa nyaman perlahan menyusup ke dalam inti hati Kata, sayangnya, rasa itu ditepis oleh ego yang dengan angkuhnya menjunjung harga diri.
Hanum dengan anggunnya berjalan menggamit lengan kokoh Kara.
Tubuhnya yang ideal, demikian mempesona dengan tatanan rambut yang di sanggul anggun penuh pesona.
Dengan di bingkai dress panjang berpotongan dada rendah berbahan satin hitam yang di padukan kain brukat berwarna violet, Demikian serasi dengan Stelan jas hitam di padu dengan dasi violet yang Kara gunakan.
Sungguh, Bahkan penampilan Dita yang notabenenya putri pemilik acara, berada di bawah kelas Hanum yang hanya seorang staf dari divisi keuangan perusahaan milik Kara.
Kara menebar senyum manis.
Wajahnya yang demikian tampan, mengundang decak kagum para tamu undangan lainnya.
"Kara?", Dewi mengulas senyum hangat saat langkah Chandra beserta Hanum mendekat.
Meski dalam hati, Dewi sangatlah khawatir akan seonggok hati yang pasti terluka.
Hati itu......
Milik Dita.
"Kara, Kau tampan sekali".
Chandra merangkul sejenak Ponakan tampannya, Mata Chandra tak luput dari seorang gadis yang wajahnya memiliki kelembutan dan kesantunan tinggi.
"Tentu saja, om Chandra. Aku memang terlahir sebagai pria yang tampan.".
"Siapa wanita cantik yang kau bawa ini, Kara?", Dewi bertanya dengan lembut.
Kekaguman jelas tersirat di mata nya yang sedikit di hiasi garis-garis samar.
"Dia Hanum. Hanum Kinara.
Salah satu staf di divisi keuangan di perusahaan papa.
Dia, wanita yang sangat manis, bukan?".
Wajah Hanum mendadak merona.
Ia tak menyangka Kara akan menyanjungnya.
Ah, andai hal ini bukan pura-pura.
Hanum pasti akan sempurna hidupnya.
"Teman kencan atau......?"
Saat Chandra ingin melanjutkan kalimatnya, Kara yang melirik Dita menghampiri Dewi yang ada di samping Chandra, seketika Kara menyela ucapan Chandra.
"Kekasih".
Ungkap Kara mantap.
Tak ada pendar main-main di matanya.
Hanum yang ada di samping Kara membeku seketika.
"Kekasih?"
Cicitnya dalam hati.
__ADS_1
Ya, benar. Kekasih sewaan.
Dita memalingkan wajahnya, Air matanya yang lirih, ia sembunyikan hingga tak ada yang dapat melihatnya.
Hanya Kara yang bisa menebak, bagaimana Dita saat ini.
Dewi merasa khawatir akan hal ini.
"Ada apa, ta?".
"Em ti tidak jadi, ma".
Kemudian Dita memilih untuk berbalik pergi
Senyum iblis terukir di bibir Kara yang mempesona.
Dari jauh, Radhi yang juga hadir beserta istri yang bergelayut manja di lengan kokohnya.
Matanya menyipit tajam ke arah sang putra yang rupanya tengah bermain-main.
"Itu, bukankah itu Kara?".
Jelita bertanya lirih. suaranya hampir menyerupai bisikan angin di musim panas.
Pelan, namun memabukkan.......
Bagi Radhi tentunya.
"Ya. Bersama seorang wanita yang tak ku hapal siapa namanya. Tetapi aku masih ingat, bahwa wanita itu adalah salah satu staf dari divisi keuangan di kantor pusat".
"Aku tak mau tau, mas.
Pastikan putramu itu tak mempermainkan wanita hanya sekedar untuk membalas Dita.
Bagaimanapun, Ada Ariana, Aluna dan Aridha.
Aku tak mau Azkara melewati batasannya".
"Aku mengerti.
Gadis itu, adalah gadis baik.
Namun entah mengapa, sinar matanya tak sesederhana yang terlihat.
Ada keistimewaan yang tak terlihat nilainya.
Sepertinya, Wanita itu yang mampu mengimbangi sifat angkuh Kara".
"Tapi dia hanya gadis biasa."
"Aku tak yakin wanita itu bisa mengimbangi Kara".
Seketika, mata Radhi menatap lekat istrinya.
Wajahnya menunjukkan keseriusan.
"Kalau begitu, mari kita bertaruh.
Bagaimana bila seandainya, ternyata wanita itu mampu membuktikan ucapanku?"
"Apapun yang kau mau, mas. Apapun!!".
Dalam hati, Radhi bersorak kegirangan.
"Akan ku nikahkan mereka segera!".
"Apa?".
"Lihat saja nanti!".
********
"Kau lelah?" Tanya kara pada Hanum dengan wajah datar.
Hanum menggeleng, meski pada dasarnya, tubuhnya masihlah terasa letih.
Saat ini, mereka baru saja memasuki mobil Kara dan berniat pergi seusai acara milik Chandra Adi Prama.
"Baiklah, Aku.... aku perlu keluar setelah ini, setelah mengantarmu pulang ke rumahmu".
"Memangnya, mas mau kemana?".
"Klub malam".
"Untuk apa?"
"Mencari wanita acak untuk menuntaskan Gairah birahiku".
Jawab kara ringan seringan kapas.
Tak ada nada kaku sedikitpun.
Hanum tak percaya.
"Jangan".
__ADS_1
Ucap Hanum tiba-tiba.
Ada rasa tak rela bila membayangkan saat Kara mencumbui wanita lain selain dirinya.
"Mengapa jangan? Apa kau sendiri bersedia melempar dirimu sendiri untuk menghangatkan ranjang ku?".
Hanum membeku.
"Aku tak mau kau terserang virus, mas."
Hanum menundukkan kepalamya. Ia tau ia tak memiliki kekuatan untuk menghalangi Kara.
Kara terkekeh hambar.
"Kau telah membuatku jatuh pada pesonamu malam ini, Hanum. Kau bersolek dengan cantik.
Dan itu membangkitkan sisi gairahku terhadap wanita.
Lalu, Kalau kau tak mau membiarkanku menikmati tubuh wanita acak di luaran sana, apa kau sendiri bersedia melayaniku? Sepenuh hatimu?".
Hanum tersentak saat itu juga.
Kemudian, sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"Aku bersedia...... Hanya bila kau menikahiku meski hanya di mata agama.
Aku bukan wanita murahan yang mau saja di tiduri pria yang bukan suamiku".
"Cih..... Menikah?
Semenjak aku telah dilukai oleh wanita yang dulu kucintai, Aku tak lagi yakin dan percaya akan komitmen bersama seorang wanita."
"Dan aku akan berdiri tegak sebagai obat yang mampu menyembuhkanmu, mas".
Kini, berganti Kara lah yang mematung.
"Kau melamarku?
Memangnya, Kau yakin dengan emosi yang kau miliki itu bahwa itu sebuah cinta?".
"Aku mencintaimu semenjak hari itu, hari keterpurukanmu, sembilan tahun lalu".
Kara terdiam.
Ia tak tau harus seperti apa dan bagaimana dirinya sekarang.
"Dengar.
Aku bukan wanita murahan yang mudah menyerahkan diriku padamu, sekalipun aku mencintaimu setengah mati, memujamu hingga sepenuh hati.
Tapi aku bersedia menikah denganmu meski aku tau kau tak mencintaiku.
Perlahan, aku yakin kau juga akan mencintaiku.
Tapi lupakan saja bila kau tak bersedia menikah denganku.
Aku pun akan mencari pria lain yang bisa menerimaku apa adanya.
Aku sadar, aku siapa.
Aku wanita biasa.
Bila kau mencari pendamping hidup untuk kau pinang, Aku orang pertama yang akan berdiri di hadapanmu.
Tapi, bila kau mencari pendamping hidup yang sekelas dengan keluargamu,
maaf.......
Aku kalah sebelum aku memasuki arena pertandingan."
Ungkap Hanum lirih.
Biarlah Hanum di katai wanita tak punya etika terhadap atasan. Yang Hanum ingin hanya Kara tau dan sadar Hanum benar-benar mencintainya sejak hari itu.
"Huh, aku tak percaya wanita".
Kara mendengus seraya menjalankan mobilnya perlahan.
"Aku tak peduli bila esok hari kau memecatku dari kantor induk.
Aku hanya menyampaikan cintaku padamu yang sesungguhnya, mas......
Meski kau selalu menyangkalnya dan menyamakan aku dengan Dita.
Persetan bila kau nanti mendepakku.
Kau hanya tak tau bagaimana aku menjalani malam dengan kerinduan yang meletup-letup indah.
Kau hanya tak tau berapa ribu malam aku selalu menyematkan namamu dalam doaku."
Kara diam saja tak bereaksi.
Namun siapa sangka, ada sisi lain hatinya yang tersentuh atas ungkapan Hanum.
Kara mulai goyah.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁