Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Masa lalu Dita


__ADS_3

"Alex....... Dia adalah calon suamimu. Pria yang hendak papa jodohkan denganmu".


~Part sebelumnya~


Ingin rasanya air mata itu Dita luruhkan.


Tidak.


Ini tak boleh terjadi, Dita harus menghalau segala kemungkinan.


"Dia.... emmm Alex adalah teman sekelasku dulu, pa. Bolehkah..... kami berbincang sebentar?".


Keraguan jelas nampak pada netra mata Dita.


"Boleh, tentu saja boleh".


Tuan Wira seketika menimpali dan memberi isyarat mata pada putranya.


Dan di sinilah mereka berada.


Di halaman belakang kediaman Adi Prama yang di penuhi dengan bunga-bunga beraneka ragam.


Hening.


Tak ada yang memulai pembicaraan, hingga Alex memulai pembicaraan untuk menghalau segala ketegangan yang menyelimuti diantara mereka.


"Apa kabarmu, Ratu sekolah?",


Senyum Alex nampak penuh ejekan.


"Hentikan omong kosongmu, Alex!!


Katakan sekarang apa maumu?".


Dita berucap dengan geram. Ia sama sekali tak bisa berbasa-basi lagi.


"Mauku?".


Alex terkekeh perlahan, mendekati Dita yang terpaku.


"Mauku adalah......


Kau menerima perjodohan ini.


Dan kita akan melewati malam panas setiap malam dengan melibatkan kakakku juga.


Tentu kau tak akan lupa dengan keperkasaan kak Daniel, bukan?"


Wajah Dita memucat.


Tubuhnya terasa meringan dan siap terbang kapan saja.


Membayangkan kembali di serang dua pria buas membuat Dita seperti mati dalam hidup.


Pikiran Dita kembali mengingat kenangan terburuk masa lalunya.


Sembilan tahun lalu.......


flashback on


Dita tengah duduk berhadapan dengan dua pria yang notabenenya adalah kakak beradik.


Dia adalah Daniel, yang duduk di bangku kelas dua belas kala itu, beserta Alex adik Daniel yang sekelas dengan Dita di kelas sepuluh.


"Bisa membantuku?".


Dita bertanya dengan was was.


kala itu, Dita tengah di terpa rasa bersalah yang luar biasa pada Kara.


Hari itu adalah hari ke tiga kara pergi ke new York dengan membawa kepedihan yang Dita torehkan.


Dita tau pasti akan imbalan yang akan Daniel minta. Sudah bukan rahasia lagi di sekolah bahwa Alex adalah pria yang bersifat flamboyant.


"Katakan", Daniel menjawab dengan seringai iblisnya. Di sampingnya, Alex menatap datar Dita tanpa ikut berkomentar.


"Aku ingin kau temukan siapa dalang di balik menyebarnya video Kara seminggu yang lalu. Temukan orangnya dan aku bersedia memberikan apa yang kau mau!".


Tegas Dita.


Dita tak ingin menunda lagi.


Meski Chandra telah meretas video memalukan itu, tak lantas membuat Dita tenang dan ingin tau siapa pelaku penyebaran video Kara.

__ADS_1


"Akan aku temukan secepatnya.


Tentu pelakunya adalah murid sekolah ini.


Bukan hal yang Sulit untukku mengingat aku memiliki banyak koneksi.


Tapi ......... Bagaimana dengan bayarannya?".


Dita ragu saat hendak menjawabnya.


"Apapun yang kau minta Daniel. Apapun!!


Aku tak bisa berdiam diri lebih lama lagi".


"Tubuhmu. Aku punya banyak uang dan kau tau aku tak butuh semua itu.


Hanya tubuhmu dan desahanmu yang mampu memuaskan dahagaku".


Senyum iblis itu kembali terukir di bibir Daniel.


"Lakukan saja, Daniel. Lakukan bila kau benar-benar bisa membantuku".


Jawab Dita kemudian dengan suara frustasi.


"Baiklah. Sepulang sekolah nanti, Aku menunggumu di mobilku".


Daniel dan Alex saling lirik.


Mereka memandang Dita seperti predator yang tengah lapar.


Dita yang malang. Dita yang bodoh.


Ia tak tau saja bahwa pelaku penyebaran video Kara yang memilukan itu adalah Daniel sendiri.


Daniel sengaja mengabadikan momen memalukan itu demi mengambil keuntungan dari Dita.


Rencananya berhasil. Hampir berhasil Karna sejauh ini, segala sesuatu berjalan sesuai rencana Daniel.


"Di....dimana kita.... kita akan....melakukannya?".


Membayangkannya saja, Dita demikian gugup.


"Aku tak mau papaku menemukanku di hotel, mengingat papaku memiliki jaringan bisnis di bidang perhotelan".


"Apapun maumu, sayang".


Dita mengangguk paham.


Hingga bel pulang sekolah telah terdengar.


Dita tanpa kata segera memasuki mobil Daniel.


Alangkah terkejutnya Dita saat tak mendapati Daniel disana, melainkan Alex yang duduk tegap di bangku kemudi.


"Aaa... Alex?".


Suara Dita gugup luar biasa.


"Di....di mana Daniel?".


"Menyiapkan kamar yang nyaman untuk mu".


Alex menjawab datar.


Dan saat mobil memasuki halaman sebuah rumah minimalis milik keluarga Wira yang sering terabai, Jantung Dita berpacu kian cepat.


Dita meragu.


Tidak. Dita harus menemukan pelaku jahannam yang telah menyebarkan video itu.


Dita meyakinkan dirinya akan keputusannya.


Setibanya di kamar, Dita di lempar ke ranjang oleh Alex.


Di ranjang, Daniel telah menunggu Dita dengan pandangan mata sayu.


Gairahnya semakin meningkat tinggi saat matanya tanpa sengaja menangkap Rok Dita yang tersingkap.


Begitu juga dengan Alex yang meneguk salivanya dengan kasar.


"Apa-apaan ini?


Mengapa kalian kasar sekali?".

__ADS_1


"Ayo Alex, Kita habiskan gadis perawan ini tanpa sisa. Ku pastikan, sepanjang hari ni, kau akan mendesahkan namaku dan adikku tanpa henti. Ku pastikan kau akan memintanya lagi dan lagi. Akan aku ajari, bagaimana caranya menjadi wanita binal sejati".


Dan Alex beserta Daniel mencumbu dan meraup raga Dita dengan kasar. Memacu kecepatan tanpa mempedulikan teriakan histeris Dita Karna merasakan sakit yang luar biasa di pangkal kakinya.


Mereka menggagahi Dita dengan sangat liar.


Tanpa jeda, tanpa ampun.


flashback off


"Bagaimana, sayang? Kau rindu dengan kehangatan tubuh kakakku dan aku?


Bukankah aku dan kakakku selalu hebat dalam memimpin permainan?".


Alex kembali bersuara, menyadarkan Dita dari ingatannya tentang masa lalu.


Dita merasa, Tuhan demikian tak menyayanginya kali ini.


*********


Ini adalah senja ke empat Kara tanpa sekalipun melihat raga Hanum di kantornya.


Diterpa rasa tak nyaman yang entah, kara tak bisa menyebutnya rasa apa.......


Kara tetiba gelisah sendiri saat sosok yang ia anggap seperti Dita, tak menampakkan siluetnya.....


Sebelumnya, Kara tak pernah merasakan hal seperti ini terjadi pada dirinya.


Namun, semenjak Hanum pulang ke kampung halamannya, Kara Menjadi gelisah.


Gelisah karna Hanum tak juga kembali.


Kara berpikir serius.


Mungkinkah dirinya........??


Benarkah dirinya merindukan Hanum?


Tidak tidak.


Kara menepis kemungkinan itu.


Bagaimana pun, Kara tak percaya yang namanya cinta.


Hingga suara ketukan pintu mengejutkan Kara dari lamunannya.


"Masuk".


Ucap Kara kemudian.


Tak lama, Alma datang dengan ponsel yang ada dalam genggamannya.


"Ada apa, Alma?".


Alma menatap Kara serius. Ia ingin menyampaikan sesuatu, namun keraguan menggeluti hatinya.


"Emmm ini bos, bolehkah aku menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin bicara padamu?


Ini.... perihal.... emmm....."


"Katakan saja, Alma.


Jangan bertele-tele. Kau membuang waktuku yang berharga".


Ucap Kara dengan nada dingin.


"Hanum menghubungimu dan ingin bicara denganmu, bos".


Ungkap Alma dengan hati-hati.


Kara terkesiap mendengar pernyataan Alma.


"Berikan ponselmu padaku, Alma".


Kara merasakan hatinya seperti dilanda hujan saat kemarau menyapa.


"Hallo....." Suara lembut di seberang sana sejenak membuat Kara meleleh seketika.


"Hallo..... Hanum...... aku merindukanmu".


Hening, Hanum sama sekali tak menjawab karna Hanum merasa tak percaya kara mengungkapkan kerinduan padanya.


Hingga kara tersadar dan sumpah serapah dari dalam hatinya, merutuki bibirnya telah kelepasan mengucap kata rindu pada Hanum.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu, bos kara".


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2