
Radhi maupun Jelita saling pandang. Keduanya tengah sengaja ingin membuat Aksa terpojok saat ini. lihat saja, bahkan Aksa maupun Yasmin tak bisa berkutik lagi meski hanya sekedar untuk menjawab. Ini adalah suatu hiburan bagi Radhi dan istrinya itu.
"Oma, Aksa mohon." Suara Aksa melemah. Ia tak bisa melawan Oma jika tak ada ayahnya, Kara. Tentunya hal ini. Membuat Yasmin juga ikut tertekan.
"Mohon maaf, nyonya. Tapi saya tidak pernah memiliki rencana untuk... untuk menikah." Sekujur tangan Yasmin seolah berkeringat dan tidak berani mencakar Aksa. sayangnya, kaki kiri Yasmin dengan pelan menginjak kaki kiri Aksa yang saat ini duduk berdampingan dengannya.
"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginan kalian untuk tidak bertunangan. Hanya saja, jangan ulangi lagi pulang di waktu yang seharusnya sudah bersantai di rumah, dan juga kau Aksa," Radhi menatap Aksa dengan tatapan tajamnya, "Jangan pernah memaksa seorang wanita untuk menghendaki keinginanmu, kau mengerti? Opa tak pernah mengajarkan dirimu untuk bersikap begitu."
"Iya, opa." Aksa tertunduk. Jika sudah opa yang berbicara, "Aksa minta maaf." tukasnya sambil terus berusaha menghindari injakan kaki Yasmin. ah biarlah, kali ini biar yang Yasmin yang menang.
"Tas udah, segera masuk kamar, dan jangan lupa bersihkan diri terlebih dahulu, Aksa. Untuk Yasmin, nanti biar diantar pengawal untuk pulang." Jelita menyudahi acara obrolan mereka. Membiarkan Aksa berlalu pergi dan Yasmin pulang.
Kini, di dalam ruang tamu, Radhi dan jelita terduduk dengan saling pandang dan tersenyum. Ada banyak kata yang tak mereka ucapkan, namun dimengerti oleh masing-masing sebagai lawan bicara. Kata orang, mata itu jendela hati, bukan? Maka Jelita dan Radhi sama-sama tau perasaan masing-masing hanya dengan saling tatap mata.
"Bagaimana menurutmu?" Radhi tersenyum penuh arti.
"Kurasa bisa dipertimbangkan. Tapi aku tak mau tergesa-gesa. Biarkan berjalan secara natural, dan Aksa harus mengedepankan pendidikannya." Apa yang ada dalam pikiran sepasang suami istri itu, hanya mereka dan tuhan yang tau.
**
__ADS_1
"Yasmin, boleh ayah dan ibu bicara?" Dion muncul di ambang pintu kamar Yasmin. Usai drama pemaksaan makan siang bersama Aksa, Yasmin cukup lelah dan tenaganya seperti terkuras habis. Bahkan untuk belajar pun, Yasmin seperti enggan.
Usai mendengar penuturan ayah dan ibunya, Yasmin bangkit dari rebahan. Ponsel pemberian ayahnya, masih setia ia genggam untuk melihat video-video lucu di internet.
"Boleh, ayah. Ayah dan ibu mau bicara apa? Mau bicara disini, atau di ruang tengah?" Tanya Yasmin.
"Kita bicara di ruang keluarga saja, sayang. Ayo." Inora menuntun putrinya keluar kamar, dengan beriringan bersama suaminya, Dion.
Bersamaan dengan kakinya yang melangkah, Yasmin bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini. Pastinya tidak akan jauh-jauh dari Aksa. Yasmin sudah bisa menebak hal ini.
"Ada apa, Bu?" Yasmin menatap Dion dan Inora bergantian.
"Bukankah keluarga Praja Bekti terkenal dengan leluarga yang baik dan bersih dari kejahatan? Bahkan terakhir yang aku dengar, mereka banyak memiliki pesaing bisnis yang berambisi untuk menghancurkan bisnis mereka." Yasmin berbicara fakta sesuai dengan apa yang ia dengar.
"Jangan menilai sesuatu hanya di permukaan, sayang." Inora berusaha menimpali. "Terkadang, di balik air yang tenang, ada arus kuat yang berusaha untuk mengaduk seisi danau. Ingatlah ini, bersinggungan dengan orang-orang seperti itu, nanti bisa jadi hidupmu tak tenang. Intinya, fokuslah belajar dan cari laki-laki sederhana saja, karena kesederhanaan jauh dari hal-hal seperti itu."
"Benarkah itu murni dari keinginan ibu sendiri? Atau memang alasannya lain?"
"Apa maksudmu, Yasmin?" Inora tampak mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Bukankah tuan Alex, suami nyonya Aridha dahulu itu adalah lelaki masa lalu ibu?"
Kalimat singkat Yasmin, berhasil membuat Inora menahan nafasnya. Satu pertanyaan Inora, darimana putrinya itu tau mengenai Alex?
Bahkan Inora sudah menutup rapat-rapat semua yang berkaitan dengan Alex.
"D-darimana kau tau, Yasmin?" Inora terbata tersebab syok.
"Maaf, bu. Yasmin membaca buku diary ibu di mas lalu. Tapi menurut Yasmin, masa lalu ibu jangan kaitkan dengan hubungan Yasmin dan Aksa, Bu. Ini hanya ya..... sekedar kedekatan biasa. Yasmin tak mungkin jatuh cinta sepenuh hati pada Aksa."
"Ya sudah jika memang begitu. Ayah tak akan ikut campur terlalu jauh dalam hubunganmu dengan Aksa. Yang penting sekarang, harapan ayah ke depannya, Yasmin harus pandai menjaga diri dan kehormatan Yasmin sebagai seorang wanita."
"Oh tentu, ayah. Terima kasih karena ayah sudah percaya pada Yasmin."
Mereka lantas memulai pembicaraan hangat, sesekali, ketika Yasmin bercerita tentang Aksa, ada adegan lucu yang membuat Inora dan Dion tertawa.
Sejurus kemudian, ada kilat kebahagiaan dan juga semangat menggebu, kala Yasmin menceritakan mengenai Aksa. Hanya Inora yang bisa merasakan, bahwa Yasmin benar-benar jatuh cinta pada Aksa.
**
__ADS_1