Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Sebal


__ADS_3

Entah bagaimana jadinya, ketika sore ini Aksa baru pulang dari rumah Yasmin, dengan diantar Yasmin yang hanya mengendarai sepeda kayuh hadiah ulang tahun tujuh belas tahun dari Inora. Yasmin jengkel bukan main ketika itu, dengan sorot matanya yang penuh kebencian.


Bagaimana tidak? Aksa menolak menghubungi sopir untuk menjemputnya. Alih-alih menghubungi sopir, Aksa justru meminta Yasmin mengantarkan Aksa ke kediaman Aksa. Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Yasmin mengutuk lelaki berbibir tebal di belakangnya ini, menjadi bebek kampung.


Tidak tahukah Aksa jika Yasmin saat ini mengeluh karena kakinya yang nyaris bengkak. bahkan sandal swallow yang Yasmin gunakan saat ini, rasanya seperti menipis tiba-tiba. Yasmin kelelahan. Padahal harusnya kan Aksa yang membonceng Yasmin?


"Sampai kapan aku akan mengayuh sepedaku ini, tuan muda Praja Bekti yang terhormat? Aku lelah dan mungkin akan mati dalam dua puluh menit ke depan karena harus membonceng dirimu yang berat ini. Dasar banci! Lebih baik turun dan aku akan menelepon Oma mu yang cantik itu agar menjemputmu."


Entah umpatan yang ke berapa kalinya, namun lelaki mida itu tetap tak mendapat tanggapan apa lagi jawaban dari Aksa. kadang Yasmin dibuat bertanya-tanya, terbuat dari apa Aksa ini? Otak dan hatinya seperti tidak memiliki nurani.


Alih-alih memberi tanggapan pada Yasmin, yang ada justru Aksa saat ini tengah tersenyum lebar dengan gigi-gigi putihnya yang rapi itu. Aksa sangat menikmati kemurkaan si Yasmin. menurutnya, dalam fase marah begini, Yasmin jauh lebih cantik berkali-kali lipat.


"Apa aku tengah membonceng patung yang bisu?" Tanya Yasmin. Namun sialnya, bukannya menjawab, Aksa justru memeluk perut Yasmin dari belakang untuk mengerjainya. Dan benar saja, Yasmin terhuyung dan sepedanya oleng nyaris menabrak pot bunga besar dipinggir jalan.


"Kau mau mati, ya? Kalau kau mau mati, kau saja, jangan ajak-ajak aku! Sekarang turun dan kau bisa memesan taksi. Aku mau pulang!" Yasmin memukul tangan Aksa yang melingkar di perutnya. Ini tak bisa dibiarkan. Aksa sudah sangat keterlaluan hari ini pada Yasmin.


Ini terasa tidak nyaman. Kedutan semacam sengat listrik yang Yasmin rasakan, membuat Yasmin menyerah dan enggan melakukan kontak fisik dengan Aksa. Tragisnya, justru sudut hati Yasmin merasa nyaman, hanya saja ego Yasmin terlampau tinggi untuk mengakuinya.


"Kau tadi berkata bahwa sedang membonceng patung, jadi kuputuskan untuk bergerak agar kau tak mengutukku menjadi patung." Sangkal Aksa dengan polosnya. Entah sudah yang ke berapa kali, Yasmin mendengus sebal.


"Bila kau tak mau mengaku sebagai patung, sebaiknya jawab ucapanku, kau paham? Bukan justru kau membuatku berbicara sendiri seolah-olah aku ini orang gila." Yasmin turun, dengan gerakan setengah memaksa, menghempas keras tangan Aksa.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Aku berjanji aku tak akan mengulanginya lagi, aku minta maaf. Tapi kumohon, jangan turunkan aku dijalan seperti ini. Kau tega memangnya? Aku hanya memberimu saran, bahwa oma ku tak akan tinggal diam ketika cucu kesayangannya ini ditinggal seorang diri di jalanan" Ucap Aksa dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Kau memang lelaki berkuasa, sombong, dingin dan arogan. Lama-lama aku curiga, sepertinya suatu saat nanti jodohmu pasti gila dan depresi berat karena mendapati tingkahmu yang absurd ini. Aku mau pulang, tak peduli jika nanti kau akan mengeluarkan aku dari sekolah, mencabut fasilitas dan beasiswa, aku tetap akan pulang sekarang."


Yasmin berbalik dan hendak mengayuh sepedanya lagi, ketika Aksa cepat menghentikan dan mencekal pergelangan tangan Yasmin. entah mengapa, Yasmin merasa nafasnya kian berat akibat kelelahan.


"Oh baiklah, aku minta maaf. Sekarang hentikan kesedihanmu dan jangan menangis, oke. Baiklah, aku minta maaf. Ayo ikut aku ke suatu tempat dan biar aku yang memboncengmu. Sudahlah. Jangan sedih lagi."


Yasmin menolak dan hendak memberontak, namun sayangnya, Yasmin tak memiliki temaga yang cukup kuat. secepat kilat sekuat tenaga si Aksa menarik pelan tangan Yasmin, berjalan menuju ke sebuah minimarket.


"Sepedaku, Oh hentikan saja dulu, Aksa. Bagaimana Nasib sepedaku setelah ini?" Yasmin berusaha menghentikan dan melepas cekalan tangan Aksa, sayangnya Aksa tak tertarik melepas jemari Yasmin yang digenggamnya.


"Jangan khawatir. Pengawal Oma yang sedang menjagaku akan mengamankan sepedamu. Lagipula jika hilang, aku akan menggantinya dengan yang lebih mahal dan juga lebih bagus." Seperti biasa, Aksa tetap tak mau Yasmin lepas darinya.


"Ya tentu saja, itu karena Oma dan opa sangat mengkhawatirkan ku. Kau tau, Yasmin. Aku bahkan pernah menangis karena terlalu dikawal ketat begini."


Yasmin diam, tak memberontak. Gadis itu sedikit tertarik dengan apa yang Aksa katakan. Sayangnya, saat ini keduanya telah memasuki minimarket dengan Aksa yang menuntun Yasmin untuk mengekorinya.


"Sebagai permintaan maafku, sekarang kau bebas mau membeli apa saja yang ingin kau beli." Aksa melepas tangan Yasmin, dan melihat pacar bohongannya itu tengah melipat tangan di depan dada, sembari menatapnya tajam.


"Maaf tuan muda, Saya tidak tertarik untuk menerima sogokan anda."

__ADS_1


"Aku memaksa."


"Ya sudah. terserah kau sajalah."


Ucap Yasmin pasrah. Padahal jika boleh jujur, Yasmin sangat ingin di traktir. Ya hitung-hitung ini adalah imbal balik ia yang membonceng Aksa dan memberi lelaki itu makan siang gratis.


Aksa tersenyum, merasa menang dan bisa meluluhkan hati Yasmin. Dengan kekeras kepalaan Aksa, Yasmin takluk ditangannya. "Ya sudah, Ambil saja apa yang ingin kau ambil. Aku yang akan membayarnya."


Tak menunggu lama, Yasmin mengambil troli dan mengambil beberapa Snack dan juga skincare perawatan wajahnya. Aksa saja dibuat terbengong ketika Yasmin hanya mengambil dua bungkus Snack kentang dan tortila.


"Yakin hanya ingin mengambil itu saja? Ambillah lagi dan jangan pikirkan harganya," Tukas Aksa pelan, setengah berbisik. Namun yang ada Yasmin tetap acuh dan meletakkan barang belanjaannya ke kasir.


"Hidupku sudah terbiasa hemat dan tak suka menghamburkan uang, karena ayahku hanya karyawan biasa. Berbeda denganmu yang berasal dari keluarga berdarah biru. Lagi pula aku tak biasa memeras uang laki-laki hanya untuk kebutuhan sehari-hari."


Aksa menatap datar Yasmin, tak menyahut barang sekata maupun dua kata. Tetapi percayalah, Aksa dilanda rasa penasaran yang tinggi atas sosok gadis dihadapannya ini.


semoga saja, penasaran Aksa segera terobati.


Sosok Yasmin yang seperti ini, membuat hati Aksa goyah. Bila biasanya gadis lain akan dengan senang hati dibelanjakan apa saja, namun Yasmin tetap tidak melewati batasannya.


**

__ADS_1


terima kasih untuk yang udah ikutin cerita Istia, ya. Jangan lupa untuk tetap dukung karya istia yang lain di noveltoon.


Terima kasih sebelumnya. bye.....


__ADS_2