Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kesialan Alma


__ADS_3

Dita menatap penuh cinta pada seorang gadis mungil yang berusia delapan tahun empat bulan di hadapannya.


Garis wajahnya yang demikian mirip dengan lelaki yang telah menjadikannya budak nafsu.


Tatapan matanya teduh penuh binar.


Kulitnya demikian lembut dan halus.


Hari ini, memanglah sengaja Dewi mengajak Dita untuk mengunjungi putrinya.


Di panti asuhan ini lah, Dita menitipkan putrinya delapan tahun lalu untuk di besarkan.


Hal itu atas perintah Chandra karna tak ingin nama Adi Prama tercoreng akibat putrinya melahirkan anak dari hasil pemerkosaan.


Bukannya Chandra tak memiliki hati, Justru Chandra ingin anak Dita tetap tumbuh dengan baik, namun tak ingin namanya tercoreng.


Maka satu-satunya cara adalah menitipkan putri Dita ke sebuah panti yang berada di bawah yayasan milik Chandra.


Selain itu, Usia Dita saat melahirkan masihlah terbilang muda. Tujuh belas tahun usia Dita kala itu.


Suatu saat, Chandra akan mengambil alih anak itu untuk di masukkan kembali ke dalam daftar anggota keluarga Adi Prama.


"Mama.....".


Suara anak itu lirih dan penuh getaran.


Kerinduannya pada ibumu, jangan di tanyakan lagi.


"Mengapa mama tak membiarkanku tinggal bersama mama dan Oma?".


Entah ini pertanyaan yang ke berapa kalinya dari bibir mungil gadis kecil ini tiap pertemuan mereka.


"Sayang...."


Dewi membawa gadis kecil ini ke dalam pelukannya. Hatinya ikut tersayat setiap kali gadis ini mempertanyakan alasan ia harus berpisah dari mamanya.


"Suatu saat, kau pasti mengerti.


Ada saatnya nanti, Hana akan tinggal serta dengan mama, Oma dan opa.


Untuk sekarang, Hana haruslah rajin belajar.


Kami hanya ingin, Hana fokus bersekolah disini.


Bukankah selama ini, mama selalu mengunjungi Hana?".


Gihana Mayang Sari.


Putri Dita dengan entah siapa, tumbuh dengan sehat dan menjadi sosok yang sangat cantik saat ini.


Ada rasa remuk redam yang di rasakan hati Dita saat Hana selalu mempertanyakan siapa dan di mana ayahnya.


Saat itu, Dita hanya menjawab bahwa ayah Hana berada jauh di negeri orang dan tak pernah bisa pulang karna terlalu jauh jarak yang berada diantara mereka.


"Baiklah Oma. Aku selalu berdoa siang dan malam untuk bisa bertemu papa.


Seorang guru yang membimbingku selalu mengatakan padaku, untuk mencapai sebuah tujuan, selain berusaha..... juga dengan berdoa".


Hana berkata dengan polos.


Jujur saja, ia ingin berteriak setengah mati pada Daniel dan Alex saat seperti ini.


"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik.


Oma dan mama akan pergi dulu. Ada banyak urusan orang dewasa yang perlu di selesaikan.


Ingat..... Jaga diri baik-baik. Jangan rewel, mengerti?".

__ADS_1


Dita kembali bersuara.


Cukup.....


Cukup sudah.


Dita tak sanggup lagi bertahan lebih lama menatap putrinya ini.


Hati Dita rapuh, penuh dengan sayatan tak kasat mata yang merobek tiap sisi hatinya.


Dita tak bisa lebih lama lagi menatap wajah putrinya yang penuh dengan banyak harapan.


"Baiklah, ma.


Sampaikan salam ku pada opa.


Aku menyayangi kalian semua".


Dita dan Dewi lantas pergi meninggalkan Hana yang juga menatapnya dengan senyum hangat dan polosnya.


Senyum yang murni tanpa di buat-buat.


********


Hari ini adalah hari kedua Kara sekeluarga berada di pulau laut sigam.


Bersama Hanum, Kara tengah duduk di Siring laut dengan Hanum di sampingnya.


Mereka saling menggenggam tangan......


Seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa saat ini, Hanum milik Kara meski tak seutuhnya.


Suara debur ombak seakan menjadi saksi kebersamaan mereka saat ini.


Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan rasa iri.


Kemarin bos Kara menghubunginya dan menyuruh Alma menyusul Kara ke sigam, di kediaman Hanum.


Alma melontarkan sumpah serapah untuk bosnya kali ini.


Sudah di buat menunggu seperti obat nyamuk, bahkan Kara dan sahabat Alma ini sama sekali tak peduli dengan perut Alma yang sudah mulai keroncongan.


Tak jauh dari Alma, mata Alma sempat melirik penjual makanan uang baru akan membuka lapak di tempat itu. Tentu hal itu menjadi angin segar bagi seorang Alma.


Baru saja Alma ingin memesan, Bosnya sudah menunggunya dan meneriakinya agar segera kembali ke mobil dan segera pulang.


"Kembalilah Alma. Kita pulang sekarang!!"


Suara kara terdengar berbaur bersama suara debur ombak.


Dengan tidak berperasaan, Kara segera melambaikan tangan ke arah Alma yang kehilangan harapan untuk mengisi perutnya.


Sepanjang perjalanan, Alma memberengut sebal tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Kau kenapa, Alma?".


Kara bertanya dengan suara datar.


"Kau pikir ada apa denganku diriku, bos?


Aku kelaparan dan belum mengisi perutku karna kau membiarkan ku melewati masa sarapanku.


Dan sekarang kau bertanya mengapa aku diam?


Aku lapar bos. Aku lapar!!".


Tegas Alma yang duduk di bangku belakang mobil.

__ADS_1


Alma menatap bergantian Hanum dan Kara yang duduk di bangku depan.


Sungguh sial nasib Alma kali ini.


"Oh benarkah? Aku tak tau kan hal itu".


Jawa Kara dengan santainya, membuat Alma ingin rasanya menjambak rambut Kara yang hitam legam bak dunia kegelapan tanpa cahaya.


"Aku akan mati bila kau terus seperti ini padaku, bos. Aku yang telah banyak membantumu, Kau bahkan membiarkanku mati kelaparan".


"Hei.... jangan berlebihan, Alma. Kau hanya melewati masa sarapan".


"Sudah jangan berdebat. Ku pikir masih jauh jarak untuk membeli makanan.


lalu, bagaimana ini mas?".


Hanum bertanya pada Kara yang mengendalikan kemudi.


Sekilas, Kara melirik dan menyunggingkan senyum tipisnya.


Senyum yang membuat Hanum bergetar setengah mati


Tiba-tiba......


Kara menepikan mobilnya di sebuah jalan sepi dan mematikan mesin mobil.


"Turunlah, Alma. Bawa serta tasmu.


Lihat......."


Telunjuk kara mengarah pada sebuah pohon kelengkeng yang cukup pendek hingga memudahkan siapapun untuk memetiknya.


Tak jauh dari pohon kelengkeng, ada pohon salak yang begitu lebat buahnya.


"Kau bisa memetiknya untuk mengganjal rasa laparmu dulu.


Setelah ini, aku akan mentraktirmu makan sepuas yang kau mau".


Alma mendadak menelan Saliva Karna demikian tergiur akan segarnya buah yang bergelayut nyata pada pohonnya.


Dengan melirik tas branded yang Alma beli beberapa waktu lalu, Alma mendadak ragu.


Bagaimana bisa tas mahal Alma harus menjadi tempat penampungan buah segar yang baru di petik dari pohonnya.


"Kau lapar sungguhan atau tidak?".


Kini, Hanum yang sedari tadi diam pun ikut bicara.


"Baiklah, tunggu bos. Jangan tinggalkan aku".


Tegas Alma dengan bergegas turun, membawa tas brandednya dan menurunkan ponsel dan dompetnya ke kursi mobil agar tak bercampur dengan buah yang hendak Alma petik.


Baru saja Alma memetik beberapa tangkai buah kelengkeng, seorang pria paruh baya berbadan gembul dengan postur pendek berperut buncit meneriakinya maling.


"Maling..... maling..... maling cantiiiikkk".


"Ough shit!!". Kara mengumpat saat itu juga, ia tak mau mendapat masalah dan namanya tercoreng hanya karna kelakuan sekertarisnya, Alma.


"Kita kabur", Lanjutnya pada Hanum dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Alma berdiri mematung seperti orang bodoh saat melihat mobil kara telah jauh meninggalkannya.


"Matilah aku". Lirihnya seraya mengalihkan pandangannya pada pria tua gembul yang mendekatinya.


🍁🌻🌻🌻🍁


Part ini, lucu nggak sih??

__ADS_1


😆😆😝


__ADS_2