Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Rubah licik


__ADS_3

Seorang wanita muda yang berusia awal dua puluhan, tengah berdiri di balik jendela kamarnya.


Saat ini, wanita itu tengah memikirkan banyak hal. Sesekali hembusan nafas berat terdengar dari bibirnya.


Kara......


Satu nama itu yang selalu mondar-mandir dalam pikirannya.Tak sekalipun Dita mampu mengenyahkan Azkara dari pikirannya.


Sudah berulang kali Dita berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Kara dari pikirannya. Tetapi semua tak juga membuat Dita tenang justru membuat Dita semakin kacau. Selalu berakhir gagal dan sia-sia.


Perlahan, langkah Dita menuju nakas. Ia buka laci nakas dan mengeluarkan sebuah foto. Foto Kara sepuluh tahun yang lalu.


Kara tengah tersenyum ke arahnya. Setelan hitam putih yang dikenakannya semakin menambah kesan dewasa. Garis wajah nya tegas dan kuat, semakin menambah nilai nya.


Namun sesaat kemudian, Dita tersenyum kecut.


Sepuluh tahun lalu dan masa kini, tak lagi sama. Ada banyak perbedaan-perbedaan yang membuatnya semakin jauh dari kara, sulit untuk menggapai dan melihat Kara dari jauh.


Dita hanya bisa megenang dan meresapi kesakitan hatinya seorang diri.


Toh semua Dita sendiri yang memulai.


Pagi tadi, orang suruhannya memberinya kabar bahwa keadaan Hanum tengah kritis.


Sejujurnya......


Dita merasa tak nyaman karna telah menyebabkan nyawa Hanum dalam bahaya. Namun, sekali lagi Dita juga memiliki ego yang tinggi. Maka, satu-satunya cara adalah menyingkirkan Hanum dari sisi Kara bila dia ingin dekat kembali dengan Kara.


Sayangnya, ia tak memikirkan konsekuensi yang hendak di terimanya.


Pintu di ketuk dari luar.


Maka langkah Dita menuju pintu dan membukanya.


"Bagaimana? Apa ada kabar?".


"Belum, nona. Tapi ada sebuah paket yang tak tertera nama pemiliknya."


Dita menautkan kedua alisnya.


Disini, Dita belum lama menetap, siapa yang mengiriminya sebuah paket? Bukankah Dita tak mengijinkan siapapun tau keberadaannya?


Sebuah paket yang di kemas rapi berbentuk kotak hingga menyerupai mie instan.


Maka, Dita menyuruh orang suruhannya masuk.


"Aaarrrggg.....".


Dita berteriak kencang ketika ia mendapati isi paket adalah kepala plontos pria yang ia utus untuk menculik Hanum.

__ADS_1


Matanya melotot sempurna, Lidahnya menjulur sedikit keluar. Darah di wajahnya sudah mengering, namun di lehernya......


Demikian membuat Dita mual dan tak kuasa untuk memuntahkan isi perutnya.


Baru anyir darah dan membuat Dita enyah saat itu juga. Maka si penjaga segera menyingkirkan bingkisan paket kotak itu dari sana.


"Sial.... apa yang terjadi?!".


Wajah Dita memucat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat tak karuan. Ia syok luar biasa.


Melihat kepala manusia dengan tubuhnya yang entah kemana, membuat Dita di rundung mual berkepanjangan.


"Sudah pasti si pria ini di bantai dengan sangat kejam, nyonya. Mengingat wajahnya juga mengalami lebam-lebam, pastilah sebelum di bunuh, pria ini di siksa lebih dulu".


Salah satu orang suruhan Dita bersuara.


"Siapa yang menyerangnya? Mungkinkah para pengawal Kara yang di tugaskan untuk menjaga Hanum?".


"Kemungkinan seperti itu, nyonya".


"Bila begitu, kurasa mereka lebih kuat dariku".


"Sepertinya kita tengah di intai, nyonya. Ada pergerakan tak wajar di sekitar kita, namun mereka tak sedikitpun ada tanda-tanda untuk menyerang.".


"Bila demikian, aku harus mencari cara lain".


"Satu-satunya cara yang masih tersisa adalah, menyusupkan wanita yang berpotensi untuk mengusik rumah tangga mereka, menggoda Kara melalui wanita yang ahli. Ku rasa cukup mampu membuat Hanum pergi".


Senyum Dita terkembang sempurna.


*****


Di sebuah ruangan, Jelita tertawa puas mendengar kabar dari anak buahnya.


Tadi malam, beberapa orang yang ia perintahkan, berhasil membantai orang kiriman Dita dengan sangat kejam.


Tawa penuh kemenangan menggema di seluruh sudut ruangan.


"Aku tak perlu mengotori tangan suciku untuk melumurinya dengan darah manusia tak berguna. Bereskan apapun yang Dita kirimkan pada kita. Aku tak kan biarkan wanita itu bisa dengan mudah meruntuhkan rumah tangga putraku begitu saja".


Seluruh pengawal menunduk dalam.


Dari sini, para pengawal mulai memahami sisi lain dari duri Jelita.


Jelita adalah jelmaan Dewi yang baik, cantik dan anggun ketika orang memperlakukannya baik dan tidak pernah berniat mengusiknya sama sekali.


Sebaliknya......


Jelita bisa berubah menjadi jelmaan iblis mengerikan tanpa hati yang siap membasmi apapun dan siapapun yang berani membuat kedamaiannya terusik.

__ADS_1


Kehidupan dan rupa Jelita adalah cerminan dari bagaimana orang memperlakukannya.


"Baik, nyonya. Tapi sampai saat ini, ponselnya sama sekali tak dapat di sadap. Sepertinya ia telah mengantisipasi kan hal ini".


"Tidak masalah, awasi saja pergerakannya. Ku harap kalian tidak akan pernah kecolongan, mengingat Dita adalah rubah licik yang penuh intrik".


"Siap, nyonya".


"Ingat, perketat penjagaan dan jangan lupa laporkan sekecil apapun pergerakan Dita. Aku tak mau wanita itu hidup tenang di atas kesengsaraan putra dan menantu ku".


"Baik, nyonya".


*****


"Sayang, makanlah sedikit lagi. Aku tak akan mengijinkanmu keluar kamar bila tak kau habiskan makananmu".


Tegas Kara.


Dua jam lalu, ia dan Hanum baru tiba dari rumah sakit.


Dalam keadaan seperti ini, Kara semakin menaikkan level ke posesifannya dari biasanya.


Hal ini tentu membuat Hanum merasa geli sendiri.


"Aku sudah kenyang, mas".


"Oh ayolah, ini tinggal Dua sial lagi".


"Baiklah, kemarikan. Toh tinggal dua sup lagi. Biar aku yang menyuapkannya padamu. Kita ganti posisi, oke?"


"Baiklah, tapi nanti, Kita juga harus ganti posisi dan mencoba untuk mencari posisi baru yang belum pernah kita coba".


Kara mengerling nakal.


Wajah Hanum sudah tentu memerah karna malu.


"Kau ini".


Sebuah cubitan kecil mendarat ke pinggang Kara.


Hingga sebuah suara notifikasi terdengar dari ponselnya, maka... Kara segera membuka ponselnya.


Sebuah pertemuan mendadak yang harus ia penuhi.


Tanpa mereka berdua sadari.


Ini adalah awal dari prahara yang akan mereka lalui.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2