Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Membenci Yasmin


__ADS_3

Entah sudah ke berapa kali, Yasmin mencoba untuk membangunkan Aksa yang tertidur layaknya seekor kerbau. Gadis itu harusnya berangkat pagi-pagi sekali karena harus mengikuti ujian akhir sekolah terakhirnya hari ini.


Tapi lihatlah.


Aksa yang begadang karena semalaman bermain game online, sampai kini masih belum juga bisa membuka mata. Yasmin kesal sekali pagi ini.


"Lihat saja, Aksa. Jangan salahkan aku jika aku terlalu durhaka padamu." Ungkap Yasmin pada Aksa yang masih mendengkur halus.


Dengan langkah tergopoh, Yasmin berjalan menuju ke dapur. gadis itu sengaja ingin mengerjai Aksa agar suaminya itu segera bangun. Semangkuk bubur panas milik Hesti sudah tersaji indah. Yasmin memaksa pelayan untuk memberikan bubur itu padanya, dan Yasmin menambahkan lima sendok makan sambal cabe murni ke dalam bubur ayam.


Tak lama, bergegaslah Yasmin menuju kamarnya dan Aksa. Oma Lita tampak bertanya-tanya, tumben Yasmin membawakan sarapan untuk Aksa.


"Aghhhh... bbllrr....... " Aksa memuntahkan sesuatu yang merasuk dalam mulutnya, sambil menjulurkan lidah. Lelaki itu setengah sadar dan setengah tidak, saat bubur cabai tadi, terasa membakar lidahnya.


"Apa-apaan kau ini, Yasmin? Kau mau membunuhku, ya?" Aksa melotot ke arah Yasmin yang terpingkal.


"Salah sendiri, dibangunkan tak bangun-bangun. Apa perlu aku panggilkan Oma Lita supaya kau dibangunkan dengan cara dihajar dulu? Kau lupa hari ini hari terakhir ujian akhir? Dan lihat, Tiga puluh menit lagi ujian akhir akan dimulai." Tegas Yasmin yang membuat Aksa membulatkan mata dengan sempurna.


"Astaga!!" Pekik Aksa sambil berlalu ke kamar mandi. Lelaki itu lantas mandi kilat dan tak peduli jika nanti Yasmin mengomelinya. Dalam pikiran Aksa, Aksa hanya perlu menyemprotkan parfum pada tubuhnya.


Benar saja, Yasmin merutuk Aksa yang hanya mandi kurang dari dua menit itu.


"Kau mandi macam apa, Aksa?"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, sayangku. Aku hanya mandi sebentar dan cukup menggosok gigi. Tenanglah, aku tak akan bau setiba di sekolah nanti." Ujarnya dengan berganti pakaian di depan Yasmin. Tentu saja Yasmin memalingkan wajahnya ke arah samping karena malu dan geli sendiri melihat Aksa yang tak canggung sama sekali padanya.


"Astaga, cepatlah. Aku akan menunggumu di mobil." Tukas Yasmin sembari membawa tasnya dan juga tas suaminya.


"Aku tak perlu membawa sopir. Kita perlu sampai di sekolah lebih cepat. Katakan pada sopir untuk menyiapkan motor kesayanganku saja." pinta Aksa masih dengan memakai celananya.


"Hmm...." Yasmin berlalu, meninggalkan Aksa yang masih tergopoh-gopoh sambil memakai baju dan memilih sepatunya. Hari ini Aksa benar-benar sial.


Yasmin berjalan ke lantai bawah, menemui Lita yang sedang sibuk mengemas bekal sarapan Aksa dan Yasmin. Wanita berusia separuh baya itu sangat perhatian, terutama pada Yasmin yang ia anggap seperti cucu sendiri. Jelita merasa, Yasmin adalah kebahagiaan Aksa.


"Pagi, sayang. Mana suamimu? Semua sudah Oma siapkan." Ucap Lita.


"Masih berganti baju, Oma. Aksa bangun kesiangan hari ini." Jawab Yasmin.


"Maaf, Oma tak bisa lama-lama. Opa sudah menunggu Oma di kamar, kami juga akan berangkat meeting bersama pagi ini."


"Tak apa, Oma. Yasmin juga sedang menunggu Aksa."


"Ya sudah, tunggulah suamimu di depan."


"Baik, Oma." Ucap Yasmin sambil berlalu menuju ke garasi. Gadis itu tengah mencari sopir dan mengabarinya agar menyiapkan motor Aksa saja. Sepertinya Aksa memang masih sibuk memakai skincare di dalam kamar.


Astaga, Aksa memang selalu rajin merawat tubuh dan wajahnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, kak Aksa tak akan meladenimu pagi-pagi begini. Pergilah, kau merusak pemandangan dan juga tak sepatutnya kau ada disini." Hesti bersuara ketus. Sayup-sayup suaranya terdengar oleh Yasmin.


Pikir Yasmin, tak ada salahnya melihat apa yang sedang terjadi. Dan bibir yasmin berdecak, saat ia melihat ada Hana berdiri disana sambil tersenyum. Yasmin segera meminta sopir menyiapkan motor Aksa, sebelum ia menghampiri Hesti.


"Ada apa, Hesti?" Tanya Yasmin dengan langkah yang makin mendekat ke arah Hesti."


"Dia ngotot ingin menemui kak Aksa. Apa matanya buta dan tak melihat bahwa jam sekolah hampir tiba." Ucap Hesti dengan kesal. Ketidak sukaannya ia tunjukkan dengan terang-terangan. Sejak dulu, menurut Hesti, Hana adalah wanita yang suka mencari sensasi dan perhatian orang lain.


"Kami hampir terlambat, terlebih ini sudah ujian akhir. Jadi entahlah." Yasmin mencoba untuk ramah. Tapi yang ada, Hana justru menatap tajam Yasmin. Tentu saja Yasmin menantang Hana.


"Aku tak sedang bicara denganmu." Ucap Hana dengan nada sarkas.


"Kalau begitu, suamiku juga tak boleh memberikan waktu pentingnya padamu." Yasmin menimpali. Hesti berdecak kagum sambil menatap Yasmin yang berkata dengan berani.


Belum sempat Hana menimpali, Aksa setengah berlari memanggil Yasmin sembari melangkah cepat menuju motornya.


"Cepatlah, sweetheart. Waktu kita tak banyak." Ucap Aksa sambil setengah berteriak. "Oh Hana, kau datang? Maaf aku buru-buru."


Hana hanya diam tanpa berniat menimpali, meninggalkan Hana dan Hesti yang saling melempar tatapan tajamnya. Terlebih saat Aksa melintas di depan Hana bersama Yasmin yang memeluk Aksa erat, membuat mata Hana nyaris hangus karena api cemburu berkibar di dalamnya.


Hana semakin membenci Yasmin, si gadis miskin di matanya itu.


**

__ADS_1


__ADS_2