
"Apa? Yasmin hamil?" Aksa terkejut setengah mati. Kini bukan hanya tatapan Jelita yang mematikan, tetapi juga bahkan Radhi, sang opa yang melempar tatapan menghunus ke arahnya. "Bagaimana mungkin Yasmin bisa hamil?" tanya Aksa bodohnya.
"Kau bertanya bagaimana bisa Yasmin hamil? Bahkan kau sendirilah kekasihnya, Aksa. Kau mau apa lagi sekarang? kenakalanmu dan kebobrokanmu sudah terbongkar." Jelita mengeluarkan kalimat tajamnya itu. Entah bagaimana caranya, hari ini adalah hari paling menyiksa bagi Jelita.
"Ya Tuhan, Aksa. mengapa harus melewati batasanmu? Bahkan opa tak pernah mengajarimu hal yang demikian." Radhi memijat pelan keningnya yang terasa nyaris meledak.
"Apa maksud opa?" tanya Aksa dengan bodohnya. Jelita hanya bisa memutar bola matanya jengah. Bagaimana bisa ia memiliki cucu yang seperti ini?
"Sudah jelas-jelas kau menghamili Yasmin, Aksa. sekarang, kau mau mengelak? Oma dan opa tidak mau tau, kau harus segera menikahi Yasmin secepatnya." Jelita berucap tandas tak mau dibantah.
"Aku? Menghamili Yasmin? Oh astaga, Oma. Bagaimana mungkin, bahkan aku tidak..."
Plak....
"Jangan membantah Oma dan opa Aksa. Bahkan Oma dan opa ini tak pernah mendidikmu menjadi lelaki yang tak menghargai dan menghormati perempuan. Sekarang katakan, bagai mana bisa kau menghamili Yasmin? Tidak bisakah menunggu hingga Yasmin lulus sekolah?"
__ADS_1
Kini, mengertilah Aksa terhadap maksud Omanya. ia dituduh menghamili Yasmin dan dituntut untuk segera menikahi gadis itu.
"Tidak, Aksa tidak mau. Yasmin tak mungkin hamil. Lagi pula, Yasmin pasti sekarang tengah mengandung anak laki-laki lain." Kalimat tandas Aksa, cukup membuat Jelita kian murka.
Jelita teringat akan kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika dirinya mengandung dan tidak dinikahi oleh Chandra Adi Prama, tersebab Chandra lebih memilih Dewi kala itu. Astaga, Aksa telah berhasil menyulut emosi Omanya.
"Jadi, kau tak mau tanggung jawab? Tidak mau menikahi Yasmin dengan alasan anak yang dikandung Yasmin itu adalah anak lelaki lain? Begitukah?" Jelita tak bisa menyembunyikan riak emosinya seperti biasanya. Amarah tengah menguasai dirinya saat ini.
"Nyatanya memang begitu, Oma." ungkap Aksa dengan memegangi pipi kirinya. lelaki itu juga tidak menyangka, satu tamparan Oma, cukup membuat pipinya memanas.
"Aksa tak akan mengakui kesalahan yang tidak pernah Aksa perbuat." Tukasnya lagi untuk meyakinkan sang oma.
"Tapi sungguh, Oma. bila benar Yasmin hamil, itu artinya Yasmin adalah wanita murahan." Kalimat singkat Aksa, cukup membuat emosi Jelita memuncak.
"Kau... Kau kurang ajar sekali. Berani-beraninya kau mengatakan Yasmin murahan, disaat Yasmin benar-benar butuh tanggung jawabmu." Jelita yang semula duduk, kini telah bangkit berdiri dan menghampiri Aksa.
__ADS_1
"Tapi, Oma..... Ya Tuhan, Aksa benar-benar tidak melakukan hal sehina itu."
Baru saja Aksa menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan telah mendarat pada beberapa titik tubuh Aksa. Tak ayal, Aksa semakin terkejut, namun tak bisa melawan.
Hinga Aksa babak belur, Jelita masih saja menyerangnya. Aksa,lelaki yang tak akan mudah mengakui kesalahan yang tidak di perbuat olehnya.
**
Yasmin baru saja membuka matanya, ketika hari sudah tampak gelap. Usai meminum obat pemberian dari Inora, sang ibu, pening di kepala Yasmin tak juga kunjung menghilang.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin Dion, sang ayah akan menceramahinya hingga tak bisa berhenti. Begitu juga dengan Inora yang pasti akan mengomel sepanjang hari.
Dengan tenaga yang seolah nyaris habis terkuras, Yasmin berusaha bangkit dan membuka matanya yang sayu. Hari ini, Yasmin melewatkan senja yang sinarnya sangat ia kagumi. Biasanya, di sore hari begini, Yasmin akan menikmati senja bersama sang ibu.
Sayup-sayup Yasmin mendengar suara beberapa orang yang tengah berbincang di ruang tamu. Tapi lihat saja, Yasmin mendengar bahwa Aksa datang melamarnya.
__ADS_1
Ya Tuhan,Yasmin terkejut.
**