
Bila takdir tak berpihak padaku, biarkan aku yang melawannya.
Bila nasib tak berpihak padaku, biarkan aku yang menentukan nasibku sendiri.
Bila si tuan tak juga berpaling padaku, biarkan aku yang menjeratnya dengan caraku.
Hanindita Mayang Sari.
~~
Dita tak juga menyerah.
Akal sehat dan kewarasannya benar-benar terpuruk pada titik paling bawah.
Ia tak lagi memikirkan masa depan dan konsekuensi yang akan di tanggungnya akibat ulahnya kali ini.
Sebuah rencana picik ia susun sedemikian rupa dengan apik. Bila mencelakakan Hanum ia tak juga bisa, maka ia akan merencanakan hal lain yang bisa membuat Hanum pergi dengan sendirinya meninggalkan Kara.
Dan saat itu tiba, maka Dita akan memiliki celah untuk bisa membuat Kara menerimanya.
Dita tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Pintu di ketuk dari luar, tanpa menunggu lagi, Dita segera membuka Pintu.
Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar masuk dengan wajah datar. Kumisnya tebal, matanya bulat seperti orang melotot.
Sekilas bila di perhatikan, orang itu nampak terlihat seperti algojo.
"Katakan berapa yang kau minta?"
Dita mulai membuka percakapan.
"Apa yang kau tugaskan padaku?".
Si pria itu bertanya, Suaranya berat dan dalam.
"Menculik menantu kesayangan Praja Bekti, Istri Azkara. Kau tentu tau"
Si pria nampak terkejut. Ia tak menyangka bahwa wanita muda yang menawarkan kesempatan padanya ini memiliki dendam pada keluarga Praja Bekti yang terkenal itu.
Hening.
Si pria masih menerawang keputusan apa yang hendak ia ambil. Ia tak mau gegabah, karna kali ini pekerjaannya memiliki konsekuensi yang sangat besar. Alih-alih dirinya berhasil, bisa-bisa dia yang akan di tumbalkan pada keluarga Praja Bekti bila ia tertangkap.
Hingga suara Dita mengejutkan si pria.
"Baiklah, tapi setelah itu, kau harus menghilangkanku ke luar negri. Bukan tanpa alasan, aku tak mau mati konyol setelahnya."
"Tidak masalah, sebutkan berapa yang kau butuhkan".
Dan si pria segera menyebutkan nominalnya.
Dita tersenyum licik. Meski kemenangan belum mutlak berada di tangannya, tapi ia merasa rencananya kali ini akan berhasil.
"Lakukan secepatnya. Dan bawa wanita itu ke hadapanku".
"Baiklah".
*****
"Bagus, Seno.....
Biarkan Hanum menjadi umpannya dulu. Aku akan membuat pria itu mudah menyusup ke dalam rumah.
Siapkan segala sesuatunya.
__ADS_1
Ku harap Dita tak terkejut bila nanti yang datang adalah sebuah mayat.
Dia telah mendekati perangkap yang ku buat".
Jelita tertawa keras. Suaranya layaknya tawa iblis wanita. Penampilannya yang mengenakan stelan hitam, membuat nilai Jelita semakin kuat. Cara berjalannya juga anggun.
Seno merasa, udara di sekitarnya terasa dingin mencekam akibat aura yang di miliki Jelita.
"Ba-baik nyonya".
Seno meneguk salivanya dengan susah payah.
"Aku sendiri yang akan memenggal kepala pria itu dan mengirimnya pada Dita. Kurasa, aku perlu bermain-main dengan wanita itu"
Jelita melipat kedua lengannya di dada. Sorot matanya datar tanpa riak emosi.
Pintu terbuka pelan. Radhi muncul dengan senyum menawan. Di usianya yang tidak lagi muda, Tak jarang banyak wanita yang menjadi kan Radhi sebagai objek mereka dalam berfantasi liar mereka.
"Mas...."
Jelita menghampiri suaminya, tatapan matanya melembut seiring pelukan sekilas ya ia berikan pada suaminya.
"Ya. Oh di sini ada Seno rupanya?".
"Ya, tuan. Anda..... apa kabar?".
Seno tersenyum kaku.
"Baik. Kau sendiri bagaimana?"
"Saya baik, tentu saja".
"Ku dengar, kau akan pergi ke desa mengantarkan sesuatu atas perintah istriku. Benarkah?".
Radhi melirik istrinya yang juga melirik ke arahnya.
"Aku juga sekalian meminta tolong padamu bila telah sampai di desa, Tolong antarkan Aluna putriku ke suatu tempat. Aku terlalu sibuk mengurusi banyak hal. Jadi kurasa kau memiliki cukup waktu untuk mengantar Luna".
Seno membeku.
"Eemmm saya....."
"Kau tak bisa berlama-lama di desa?"
Radhi bertanya lembut.
"Bi....bisa tuan".
"Bagus".
Entah apa yang Radhi dan istrinya itu rencanakan. Hanya mereka dan tuhan yang tau.
*****
Seorang wanita muda tengah berjalan anggun keluar dari ruang kerjanya.
Pikirannya tak juga bisa tenang. Satu nama juga tak bisa entah dari pikirannya.
Aridha, menepis jauh-jauh perasaannya.
Aridha bukan anak kemarin sore yang tak tau apa itu cinta, bagaimana pertanda seseorang yang tengah jatuh cinta, dan apa yang di rasakan oleh seseorang yang tengah jatuh cinta.
Semua indikasi yang Ridha alami, telah jelas bahwa ia tengah memiliki ketertarikan khusus pada sosok Alex.
Tapi tidak......
__ADS_1
Ridha tak ingin terjebak hubungan dengan pria bermoral bobrok seperti Alex. Reputasinya mengenai wanita telah terlanjur morat-marit.
Apa kata keluarga besarnya nanti?
Sudah tentu Kara, kakaknya yang bermulut tajam itu akan dengan senang hati menjadikannya bahan yang bisa di perolok.
Langkah demi langkah Ridha lalui dengan mantap. Raut wajahnya datar. Namun di matanya jelas menunjukkan banyak sesuatu yang ia pendam.
Memasuki mobil, nafasnya terdengar lelah. Matanya terpejam sesaat. Meresapi rasa lelah yang perlahan menggilas semangatnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa, Aridha menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang akan di gunakan Alex untuk memulai usahanya membuka bengkel.
Aridha bukan tak tau, ia tau bahwa Alex berada di mana saat ini. Bahkan gedung yang tak terlalu besar itu, adalah milik salah satu kawan Ridha semasa sekolah dulu. Sengaja Ridha membujuk temannya untuk menyewakan gedung itu untuk Alex, tanpa sepengetahuan Alex tentunya.
Entah apa yang menuntun langkahnya kali ini. Yang jelas, ia hanya ingin menengok Alex sekilas, meski dari jauh.
Senyum cerah terbit di bibirnya yang merah merona ketika siluet seorang Alex nampak terlihat.
Dari jauh, dari jauh ia bisa melihat Alex di balik kaca mobilnya.
"Alex".
Tenggorokan Ridha terasa tercekat.
Ia memejamkan mata, meresapi dan mengenali apa yang tengah ia rasakan.
Jatuh cinta kah?
Tidak salah lagi.....
Sudah pasti bahwa ia memang menyukai dan memiliki rasa tertarik pada Alex.
Baiklah, seperti air mengalir, Aridha akan mengalir kemanapun takdir akan membawanya. Namun untuk mendekati Alex, itu adalah sesuatu yang pantang ia lakukan.
Pintu kaca terketuk pelan. Aridha segera membuka kaca pintu mobilnya.
"Apa yang kau lakukan? Apa mobilmu mogok lagi?".
Suara bass Alex terdengar merdu di telinga Ridha.
"Ya".
Demi tuhan, Aridha merutuki kebodohannya yang menjawab iya.
Bukan kah mobilnya tak bermasalah?
Hening.
"Bisakah kau membantuku?".
Ridha terlanjur datang, maka tak ada salahnya bila ia singgah, meski dengan alasan mogok.
Hingga Alex memeriksa mobil Ridha, tak ada yang bermasalah.
"Kau ini, mobil sehat kau bilang mogok. Apa kau sengaja menguntit ku?".
Alex kembali dan menaikkan ke dua alisnya.
"Aku hanya ingin melihatmu, itu saja".
Ungkap Ridha jujur. Tanpa ia sadari, Sundari datang dan limbung, tubuhnya hampir luruh ke lantai kalau saja Daniel tak sigap menangkap tubuh rapuhnya.
🍁🌻🌻🌻🍁
Akan di lanjutkan di episod berikutnya ya....
__ADS_1