Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Taruhan.


__ADS_3

Sosok itu rupanya adalah Hana, wanita yang berusaha sekuat tenaga untuk membuat Yasmin mundur. Bukannya mundur, Yasmin seolah menantang dan juga tak menundukkan kepalanya sama sekali. Bisa Yasmin tebak, Hana memang benar-benar menyukai Aksa meski usianya diatas Aksa.


Inora turun dari mobil dengan Dion di sampingnya. Aridha dan juga Ariana, putri kandung Chandra itu lantas menyambut Inora dan Dion yang baru saja tiba.


"Kara, Hanum, lihat, besanmu sudah datang. Ayo sambut mereka." Jelita menyenggol lengan Kara sebentar. Dewi yang menyadari, ia perlu menyambut juga, ikut serta.


"Selamat datang di kediaman kami, tuan Dion beserta nyonya. Maaf atas ketidak hadiran saya dan istri, Saat acara pernikahan Aksa dan Yasmin." Kara membuka percakapan.


"Tak masalah, Tuan. Bahkan saya bertemu dengan anda malam ini. Saya harap, hubungan kita terjalin selayaknya hubungan keluarga dengan Yasmin dan Aksa sebagai pengikatnya." Dion berkata bijak. ia hanya tidak mau saja jika nanti dianggap tak baik di mata keluarga Radhi.


"Ya sudah, mari ke sana dulu." Kara lantas menuntun Dion dan Inora untuk segera duduk di halaman depan paviliun. Mereka terlibat perbincangan hangat. Hingga kemudian Aksa membawa Yasmin untuk duduk berdua di taman depan paviliun.


"Aksa, boleh aku bicara sesuatu denganmu?" Yasmin bertanya lirih sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman. Hana tengah duduk diantara Alma, istri Arlan dan juga Hesti. Tatapan matanya tak lepas sedikit pun dari sosok Yasmin.

__ADS_1


Di depan keluarga lain, Hana bersikap seolah ia sangat baik-baik saja dan tak menunjukkan rasa tak sukanya pada Yasmin. Ia perlu menjalankan rencananya tanpa dicurigai lelah siapa pun.


"Katakan saja, Yasmin. Sejak tadi kau juga sudah banyak bicara dan aku sudah meladeninya."


"Jauhi wanita yang bernama Hana, dia tampaknya punya niat buruk terhadapmu, Tolong jangan abaikan pintaku kali ini."


Mendengar kalimat Yasmin, Aksa mengernyitkan dahinya.


"Kau punya bukti?"


"Mungkin hanya perasaanmu saja, Yasmin. Percayalah, aku tak mungkin mengkhianatimu."


"Bukan perkara pengkhianat atau tidak, Taoi ya nantilah kau nilai sendiri. Yang terpenting, aku sudah memberi tahumu akan hal ini. Terserah kau saja mau mengikutinya atau tidak." Yasmin kembali membuang muka. Terlihat sekali keluarga dan juga keluarga Aksa saling merapatkan diri. Biasanya, Inora juga tak secantik ini. Hari ini Yasmin memandang ibunya dengan perasaan yang... entah.

__ADS_1


"Aku juga merasakannya, Yasmin. Hanya saja, mungkin ia hanya berniat untuk bercanda denganmu. Ya sudahlah, anggap saja memang karakternya begitu." Imbuh Kara dengan santai.


"Aksa.... aku..... aku tak bisa menganggap ini hanyalah sebuah lelucon. Hanya saja, aku pikir ini benar-benar penting. Jika kau tak mempercayai aku, tak apa. Tapi setidaknya percayalah pada Dia yang benar tulus mencintaimu."


"Maksudnya?"


"Sudahlah, aksa. Bicara denganmu hanyalah akan membuat cerita cerita semakin p


panjang lebar tanpa kejelasan. Sekarang beginian aja, mari kita bertaruh. Jika dia benar mengincar dirimu, apa yang akan kau lakukan? Juga apa yang akan aku dapatkan?"


Aksa diam sejenak. Lelaki itu benar-benar memikirkan banyak spekulasi. Namun kali ini spekulasinya mengatakan seolah apa yang dikatakan Yasmin adalah kebenaran.


"Apa yang kau minta?"

__ADS_1


"Aku ingin beri dia pelajaran. Kau sanggup mewujudkannya?"


***


__ADS_2