
Bila cinta hanya di ciptakan untuk para Manusia dari lingkungan ber-strata sosial tinggi, lantas mengapa orang miskin juga di berkahi rasa cinta?
Bila cinta hanya di ciptakan untuk banyak perbedaan, lantas mengapa banyak pasangan menua bersama meski mereka seringkali selisih paham?
Bila cinta hanya di ciptakan atas dasar nafsu saja, lantas apa gunanya hati di ciptakan?
Bila cinta di ciptakan hanya demi mengedepankan kebahagiaan pasangannya saja, lantas mengapa banyak pasangan yang tercerai berai dan memilih mengurus surat perceraian tanpa memikirkan anak yang menjadi korban?
Hidup ini sudah demikian rumit, maka tempatkan lah kerumitan itu sendiri menjadi bagian dari duri-duri kehidupan.
Bukankah setiap yang berduri juga seringkali memunculkan keindahan berupa bunga, seperti mawar contohnya !?!
Kara berdiri di balkon kamarnya. Menekuri keindahan langit yang memiliki ketinggian tanpa batas.
Pikirannya tengah bertarung melawan luka yang berbentuk kisi-kisi kepedihan masa lalu.
Dita........
Nama yang telah Kara haramkan hingga kini.
Nama keramat yang tak pernah Kara lupakan sebagai pengingat bahwa pengkhianat itu ada.
Nama yang akan selalu Kara benci hingga batas waktu tak tertentu.
Sekelebat bayangan seorang gadis manis tengah tersenyum padanya.
Senja tengah merambah malam.
Samar-samar, matahari mulai kembali ke peraduan, menyisakan Cahaya jingga kemerahan yang mampu memberi ketenangan untuk kara.
"Hanum......."
Sadar atau tidak, Kara tersenyum lembut saat usai meng-gumamkan nama itu.
"Apakah kau benar-benar mencintaiku seperti yang kau katakan sembilan tahun lalu?
Bila iya, mengapa cintamu demikian lama bertahan menungguku?".
Hening sejenak, hingga Kara merasakan lengannya di gelayuti Gadis berusia awal dua puluhan.
Spontan mata Kara melirik sosok gadis mungil di sampingnya.
"Luna...?".
"Ya. Aku.... sudah mengetuk pintu tadi. Tapi mas tak mendengarku.
Mengapa melamun seorang diri, hm?".
Aluna berkata lembut.
tangannya bergelayut manja di lengan kokoh kakaknya.
Kara melepas lengannya perlahan dan meraih adiknya ke dalam rengkuhannya.
Ia kecil kening adiknya meski ia harus menunduk untuk melakukan itu.
"Aku hanya..... memikirkan banyak hal yang terjadi dalam hidupku.
Tentang mu yang kutinggalkan sembilan tahun lamanya.
Sekarang katakan, Apa sekarang kau memiliki kekasih di kampusmu?".
Aluna tersipu malu mendengar pertanyaan Kakaknya.
"Aku tak punya kekasih hingga kini.
Hatiku masih perawan jika kau mau tau".
Kara tergelak mendengar penuturan adiknya.
"Baguslah. tapi ku sarankan jangan terlalu kolot dan kuno hingga kau harus menjadi perempuan tua nanti".
"Kak......"
Wajah Luna mendadak serius kali ini.
__ADS_1
"Hmmm".
"Tadi saat aku baru tiba, Aku melihat seorang pria yang kata kak Ridha, dia kawan baikmu.
Boleh ku tau siapa namanya?".
Kara tersenyum.
"Seno. Namanya Seno.
"Kau menyukainya?".
"Tidak. hanya tertarik. Mungkin karna dia keren".
Wajah Luna mendadak tersipu malu.
Ada getaran yang siap menerjang pertahanan hatinya.
"Baiklah, bila kau berminat, kau bisa memghubungiku, nanti.
Ngomong-ngomong, mengapa kau tiba-tiba datang tanpa memberi tahuku dulu?".
"Kau ini aneh.
Bukankah malam ini kak Arlan akan kedatangan calon istrinya?".
"Oh ya tuhan, benarkah?
Bukankah malam ini aku juga ada janji untuk menelpon seseorang?".
Kara baru ingat.
Malam ini, kara menjanjikan Hanum untuk menghubunginya.
Namun kara bingung harus berbicara apa nanti pada ibu Hanum.
Kara merasa resah.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, menunjukkan ke-frustasian.
Hanum yang cantik......
Hanum yang manis......
Hanum yang lembut......
Namun Hanum juga bisa melanggar keyakinan yang Kara buat, keyakinan bahwa semua wanita, bersifat sama.
"Siapa? Mungkinkah dia kekasihmu?".
"Aku tak tau harus menyebutnya apa".
Sialan si Kara ini.
Bukankah papanya telah memintanya menikahi Hanum secepatnya?
Lantas, mengapa kini kara berucap bingung bila harus menyebut Hanum apa?
*******
Dita terjebak di dalam dimensi kenangan masa lalu, sebuah dimensi yang ia buat sendiri.
Akhir pekan seperti ini, membuat Dita tak bisa menenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan kantor.
Sembilan tahun lalu, Saat dirinya frustasi karna pergi ke luar negeri, yang entah dimana tepatnya Dita tak tau, Dita gelap mata hingga rela menukar kegadisannya pada Daniel dengan Janji palsu yang Daniel tawarkan
Dita demikian bodoh kala itu.
Dita sadar hal itu.
Namun, sesal tinggallah sesal, merujuk pada kepedihan tanpa ujung.
Yang lebih membuat Dita terpukul kali ini adalah, Dita harus berdiri seperti orang bodoh karna tak bisa menolak perjodohannya dengan Alex yang telah Chandra tetapkan.
Ingin menolak, namun Dita tak tau harus bagaimana mendeklarasikannya.
__ADS_1
Haruskah Dita berkata jujur pada bahwa dulu ia
digilir dua lelaki yang tak lain adalah Alex dan kakaknya, Daniel?
Dita memejamkan matanya.
Tangisannya tak tertahankan lagi kali ini.
Membayangkan hidup berumah tangga dengan Alex dan akan bertemu Daniel setiap hari, tentu akan membuat rumah tangga itu sendiri menjadi neraka untuk Dita.
"Ya, Calon suamimu telah menunggu di bawah.
Segeralah berkemas dan perbaiki penampilanmu".
Dewi tetiba datang.
Dita yang baru menyadari pun tak urung di ketahui Dewi karna telah meneteskan air mata.
"Jangan larut kembali ke dalam masa lalu.
Kara jelas tak bisa lagi kau gapai lagi.
Alex jauh lebih baik, ta. Dia lah kodok untukmu".
Dita tersenyum pedih mendengar ucapan Dewi yang tak tau apapun perihal masa lalunya.
Dewi pikir, kara lah yang menjadi penyebab Dita menangis.
"Baiklah, ma. Aku akan memperbaiki wajahku dulu. Mama bisa meminta Alex untuk menungguku sebentar lagi".
Dewi mengangguk dan berlalu pergi.
Usai mengurus diri, Dita turun ke lantai bawah dan mendapati Alex tersenyum manis padanya.
Dita merasa muak meski sekedar melihat senyumannya.
"Kau cantik hari ini".
Pujian yang Alex lontarkan, membuat Dewi demikian bahagia.
Tanpa membalas pujian Alex, Dita segera melontarkan tanya pada Alex.
"Kemana kau akan membawaku, Alex?".
"Ke butik langganan keluargaku, untuk fitting busana pengantin. Bagaimana?
Kau bahagia?".
"Hmmm".
Dan Dita segera pamit pada Dewi.
Membiarkan dirinya di di bawa oleh buaya berwujud manusia seperti Alex.
Dita hanya tak tau saja, Alex menatapnya seperti serigala yang menahan diri dari laparnya.
"Tante Dewi, Aku akan membawa Dita jalan-jalan untuk memulai pendekatan.
Bolehkah bila Dita aku kembalikan saat malam nanti?".
Dita menahan nafasnya. Ia tak menyangka Alex akan mengambil langkah se-drastis ini.
Tanpa sadar, Dita menggelengkan kepalanya ke arah Dewi. meminta bantuan agar tak mengijinkan.
Sayangnya, Dewi tak menatap Dita kala itu.
Yang di tatap adalah Alex ang tersenyum lembut bak malaikat. Dewi tak tau saja, bahwa pemuda di hadapannya ini, adalah iblis yang telah menghancurkan hidup putrinya.
"Lakukanlah. Tante menginginkanmu. Tapi ingat, jangan terlalu malam, Alex. Atau kau akan di interogasi oleh om Chandra nanti".
"Baiklah Tante. terima kasih atas ijinnya".
Dan Dita melihat Alex yang menyeringai ke arahnya.
Wajah Dita mendadak pucat pasi.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁