Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Tak ingin didikte


__ADS_3

"Hai, Marcel." Aridha menyapa anak suaminya itu dengan wajah lembut, sangat jauh berbeda dengan Aridha sehari-hari yang cenderung berkarakter tegas dan dingin.


"Hai . . . mama." Marcel menjawab tak kalah lembut. "Tidak bekerja?"


"Tidak. Saat ini tidak dan aku sengaja mengambil waktu sebentar ke kantor, khusus untuk bertemu denganmu." Jawab Ridha sambil duduk di samping Alex.


Marcel memperhatikan sepasang suami istri di hadapannya itu. Serasi, sangat serasi dan terlihat begitu sempurna. Hanya saja, melihat kemesraan mereka, Marcel merasa ini tak adil untuk ibunya. Beruntung Dion telah memberi pengertian bahwa ibunya telah bahagia bersama Dion.


"Alex. Aku sudah bicara dengan papaku mengenai keberadaan Marcel, dan juga status biologis Marcel yang putra dari mas Alex."


Ungkap Aridha tanpa basa-basi.


Bila kebanyakan wanita akan marah saat mengetahui suaminya memiliki anak lagi dengan wanita lain, akan marah, lain dengan Aridha yang menerima takdirnya dengan hati seluas samudra.


Sakit? Itu sudah pasti. Hanya saja pengajaran radhi memang benar-benar membuat anak-anaknya menjadi pribadi berkarakter terpuji.


Alex tercengang. "Apa?"


"Nanti malam kau diminta papa untuk menemuinya. Aku harap kau bisa jujur saja. Papa tak akan marah."

__ADS_1


"Kau gila, Ridha."


"Kau yang gila. Kau tidak sadar kau memiliki putra tampan selama dua puluh tahun. Ayah macam apa kau? Aku tak mau tau, Alex harus mendapat kehidupan yang layak. Kau harus membiayainya dan mencurahkan kasih sayangnya setulus-tulusnya seperti kau menyayangi Hesti."


Alex mengerjapkan matanya beberapa kali. Lelaki itu benar-benar linglung.


Sedangkan Marcel. Pemuda itu juga sedang celingukan salah tingkah. Entah mengapa, ia tak nyaman dengan situasi ini.


"Maaf, maaf aku seperti tengah tertekan dan tidak bisa menerima situasi ini.


"Tenangkan dirimu, Marcel. Ini akan baik-baik saja. Aku berjanji pada dirimu, kau akan mendapatkan hak yang setara dengan Hesti, putriku, untuk kasih sayang ayahmu. Masa lalu, lupakan saja masa lalu. Semua akan membaik seiring dengan berjalannya waktu. Jangan menilai siapa yang salah dan siapa yang patut di salahkan. Kau, tetap akan menjadi putra Alex, juga putraku. Aku berjanji, Ayahmu akan menebus semua kesalahannya di masa lalu."


"Marcel, bolehkah aku meminta sesuatu? Maaf jika aku terkesan lancang telah membebanimu. Hanya saja, aku ingin melakukan yang terbaik untuk semua." Ungkap Ridha, membuat Marcel menganggukkan kepalanya.


"Tapi biarkan berjalan pada tempat yang seharusnya. Hubungan ini biarkan sebatas antara besan dengan tuan besar Kara, selebihnya, kita relasi bia......."


"Tidak-tidak. Saat ini kau hanya sedang terbawa emosi dan tidak bisa menerima keadaan. Aku mengerti. Hanya saja, aku ingin suamiku bertanggung jawab, bukan lepas tangan sepenuhnya terhadap kesalahannya di masa lalu."


"Tapi . . . ."

__ADS_1


"Ingat Marcel, jangan mengambil keputusan dalam situasi memanas."


Marcel bungkam. Netranya yang serupa dengan Alex, tampak memandang Ridha dan ayahnya bergantian.


"Baiklah. Biarkan aku memikirkannya lebih dulu. Aku tak ingin merasa tertekan, dan juga tak ingin memutuskan sekarang. Lakukan apa yang kalian ingin. Hanya saja, aku mohon sementara ini biarkan aku melakukan sesuatu sesuai naluriku sebagai putra Dion. Mama tak berhak mendikteku untuk melakukan hal ini dan itu."


Aridha mengangguk paham. Sepertinya, ia memang terlalu membuat Marcel tertekan karena kehendaknya.


Marcel menilai, sepertinya ayahnya memang dikendalikan sepenuhnya oleh istrinya.


"Oh ya, maaf jika aku terburu-buru. Aku pamit karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan."


Marcel sudah bersiap berdiri dan hendak pergi, ketika Ridha menahan lengan Marcel.


"Marcel, tolong sampaikan maafku untuk ibumu." Aridha berkata lirih. Tentu saj Marcel hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis.


'Sepertinya, benar kata ibu dan ayah. Keluarga Praja Bekti menang rata-rata abnormal. Ya Tuhan, beri aku keselamatan setelah ini." Marcel membatin.


**

__ADS_1


__ADS_2