Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kesepakatan


__ADS_3

Seorang pria tampan tengah menatap layar laptopnya dengan serius.


Air mukanya sesekali nampak tegang, meski kemudian kembali datar seperti biasanya.


Jemarinya dengan lincah menekan keyboard laptop, Deretan angka pada tabel-tabel yang ia periksa membuatnya tak sadar bahwa hari telah merambah siang.


Pintu ruang kerjanya terketuk tiga kali.


Sejenak, ia memerintahkan masuk seseorang yang berada di ablik pintu, meski fokusnya tak teralihkan sama sekali.


Dialah, Bos Kara.


"Masuk".


Seno muncul dengan beberapa berkas di tangannya. Wajahnya ramah penuh kelembutan. Berbeda dengan Kara yang selalu kokoh dengan wajah angkuhnya.


"Bos, Berita telah tersebar luas seperti yang kau inginkan".


Seno menyampaikan. Secercah senyum licik terbit dari bibir Kara yang basah dan penuh kelembutan.


"Bagus. Kurasa tak akan lama lagi Wira Atmadja akan menemui om Chandra.


Persiapkan semuanya, Seno.


Apa kah ada kabar dari orang-orang kita yang kita susupkan ke dalam perusahaan Atmadja?".


"Ya. Sabotase data keuangan dan kepemilikan telah di lakukan. Dalam keadaan pelik yang dialami keluarga Wira Atmadja, kurasa tuan Wira tak akan begitu teliti memeriksa berkas yang biasa ia tanda tangani.


Bahkan pihak kita telah berhasil menyuap orang-orang kepercayaan perusahaan Atmadja.".


"Baik, hanya menunggu waktu saja untuk langkah berikutnya.


Ingat.....!! Perketat penjagaan di tempat ibu mertua dan kakak ipar ku.


Dan siapkan berkas-berkas penting selanjutnya seperti yang papaku katakan semalam".


Mata Kara menyorot tajam ke arah Seno. Seno tak memungkiri pesona yang di miliki oleh Bosnya ini.


Kara...........


Pria ini layaknya kaisar yang memiliki hak untuk memerintah.


Pembawaannya tegas dan kuat. Aura kepemimpinan demikian kental mendominasi dirinya.


Seolah-olah, semua orang tunduk dan takluk saat ia memerintah.


Kemampuan dan aura nya, mampu memerintah hanya dengan sekali jentikan jari.


"Baik, bos".


Kara kembali fokus pada pekerjaannya setelah Seno keluar dari ruangannya.


Tetiba sekelebat bayangan seorang wanita yang belakangan ini mengisi hatinya, muncul dengan menari indah dalam otaknya.


"Hanum Kinara".


Kara bergumam lirih. Fokusnya terpaksa terhenti begitu saja.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya, Waktu telah menunjukkan makan siang.


Maka, Kara memutuskan untuk makan siang dirumah.


Entahlah.......

__ADS_1


Ia hanya ingin bertemu dengan Hanum, istrinya.


Mungkinkah ia merasa rindu?


Tepat saat pintu ruang kerja Kara terbuka, Siluet seorang wanita anggun berjalan menghampirinya dari arah lift.


Kara tersenyum kecil.


Mungkinkah ini adalah ikatan batin?


Saat Kara merindukan istrinya, maka istrinya datang mengunjunginya.


Kara mengulas senyum penuh bahagia.


"Kau kemari? Padahal aku berniat pulang karna ingin makan siang di rumah."


Kara menegur sapa istrinya lebih dulu.


"Oh benarkah? Tapi..... Aku membawakan makan siang untukmu".


Kara mengangguk paham dan segera membawa istrinya ke dalam ruang kerjanya.


Tak peduli tatapan menyelidik dari para karyawan yang bekerja padanya.


Sesampainya di dalam ruang kerjanya, Kara segera membawa istrinya ke dalam pelukannya.


Hanum tersenyum dalam hatinya.


Perlahan namun pasti, Kara telah menerimanya sebagai istrinya.


"Mas, sudah cukup. Nanti kita bisa berpelukan lagi. Sekarang waktunya kau makan siang".


"Aku tak ingin makan siang saat ini, num.....


Tanpa memberi kesempatan istrinya untuk menjawab, Kara segera meraup bibir istrinya dan menggendongnya, menuju sebuah pintu di belakang buffet, Sebuah kamar yang di jadikan kamar pribadi untuk melepas lelah Kara di tengah penatnya pekerjaan.


Siang panas, Kara lalui dengan mencumbu istrinya penuh nafsu.


Menumpahkan sesuatu yang hendak meledak dalam dirinya.


*******


Radhi dan Chandra memasuki sebuah bangunan tua namun masih kokoh, tempat dimana kedua putra Wira Atmadja di sekap.


Langkah mereka demikian pasti.


Chandra membawa serta Gihana untuk mengunjungi Daniel dan Alex, menawarkan sebuah kesepakatan yang tentu, semua pilihan akan merugikan dan melukai Daniel.


Sebuah berkas yang di bawa Chandra, di genggam erat oleh Chandra. Sedang Gihana, berada dalam dekapan tangan kiri Chandra.


"Tu....tuan Chandra".


Mata Daniel terbuka lebar saat Chandra datang dengan langkah beratnya.


Di samping Daniel, Alex dan Dian tak kalah terkejut saat melihat Radhi datang dengan mengulas senyum lembutnya.


Alex dan Dian kehilangan kata-kata. Dirinya di Landa rasa malu saat menatap sosok Radhi yang gagah berdiri menjulang di hadapannya.


"Ya, Daniel ini aku. Aku membawa serta darah dagingmu, bagian dari dirimu ke hadapanmu, kini.


Lihat, Dia mirip denganmu, bukan?


Tidak kah kau ingin mendekapnya?

__ADS_1


Tidak kah ingin membawanya ke dalam pelukanmu?


Tidakkah kau ingin...... Melihat perjuangan Dita melahirkan benihmu?


Tidak kah kau ingin tertawa lepas diatas penderitaan Ini kesempatanmu, Daniel".


Chandra berucap santai.


Hana hanya mendengar tanpa mengetahui bahasa orang dewasa yang cukup rumit untuk Hana pahami.


"Dd di....dia... Dia.... pu putriku?".


Bibir Daniel gemetar hebat. Apa lagi saat Chandra meng-angsurkan salinan lembaran hasil test DNA antara dirinya dan Hana.


Daniel yang angkuh, Daniel yang sombong, Daniel yang arogan, Daniel yang merasa kuat, Daniel yang merasa tangguh.........


Kini tak lebih dari sekedar pecundang yang di perolok dan di ejek seluruh dunia.


Seluruh dunia.......


Menertawakan kemalangan Daniel.....


Mengejek keterpurukan Daniel.....


Memperolok kejatuhan Daniel......


Dengan sangat mengenaskan.


Alex mematung saat melihat hal itu.


Dadanya bergemuruh hebat. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas, Alex merasakan sakit di ulu hatinya, saat membayangkan Dita melalui harinya dengan kepedihan dan penderitaan setelah tragedi yang dirinya dan Daniel lakukan pada Dita.


Alex tak dapat berkata apapun lagi.


"Ya. Dia putrimu.".


"Ijinkan aku.......".


"Tidak......"


Chandra menjawab tandas dengan suara tegas.


"Jangankan memeluknya, mendekapnya, menyentuhnya...... Bahkan melihatnya pun aku tak akan pernah mengijinkannya."


"Lalu.... Apa maksud tuan Chandra membawa putri Dita kemari bila tak sekalipun aku di ijinkan untuk melihatnya?".


Alex menyuarakan keresahan hatinya. Firasat mengatakan bahwa ini tak baik.


"Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu, dengan imbalan kebebasan, untukmu dan adikmu".


"Katakan tuan. Katakan papa yang harus aku lakukan. Aku.... akan meminta maaf pada putri anda. Aku akan lakukan apapun untuk bisa bertemu lagi dengan Dita, meski hanya sekali saja kau mengijinkan".


"Baiklah.... Dengarkan aku baik-baik".


Chandra menyerahkan Hana pada pelayan yang di bawanya untuk mengurus Hana, kemudian memerintahkan untuk segera menunggu di mobil.


Radhi hanya merasa cukup diam untuk sekedar menyaksikan. Mengawasi arah permainan dan mencari celah untuk mendapatkan hak anak keturunan Darrel, kawan lamanya.


"Aku ingin kau mengembalikan seluruh harta yang ayahmu dapatkan dengan cara curang, kepada pewaris sah yang seharusnya berhak untuk mendapatkannya, Harta yang telah ayahmu dan nenekmu rampas dari tangan mendiang Darrel Jafferson.


Maka aku menjanjikan kebebasan dan jaminan hidup padamu dan adikmu.


Kau bersedia?".

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2