
"Dia...."
Jelita menunjuk putrinya.
"Telah menjalani hubungan dengan Alex Atmadja, pria dengan kenakalan yang luar biasa buruk di mata masyarakat.
Pria yang pernah melanggar norma aturan yang diterapkan dalam keluarga Praja Bekti.
Apa itu tidak termasuk penyimpangan, mas?"
Semua terkejut, hanya Radhi yang tak terkejut sama sekali.
~~
"Benarkah itu, Ridha?"
Kara bertanya lembut. Ada nada khawatir yang mengalun di sana.
Semua tak ada yang berani mengeluarkan suaranya. Hanya Radhi yang bertanya santai. Aridha menunduk, menyembunyikan emosi yang..... entah.
Aridha bingung ia salah apa benar mengambil jalur ini. Yang ia tau, saat ini dirinya nampak seperti pesakitan yang menunggu vonis mati dari dokter.
Mengenaskan!
"Ya. Aku mencintainya. Dia juga mencintaiku".
Hanum nampak terkejut dengan pengakuan adik iparnya kali ini. Adik ipar yang usianya tak jauh berbeda dengannya.
"Ta-tapi.... Alex....."
"Aku tau kak.... Aku tau Alex bukan orang baik di masa lalu. Tapi kini..... pria itu telah berubah. Mengajarkanku banyak hal yang tak pernah aku sentuh. Bukan pada jalur yang buruk tentunya.....
Dia..... membuatku nyaman dan selalu melindungiku.
Bukan Alex yang suka mempermainkan wanita dengan menyeretnya ke ranjang sesuka hati, dan setelahnya di tinggal pergi.
Dulu dan sekarang, dia jauh berbeda".
Aridha menjelaskan dengan santai. Nada suaranya rendah tanpa di buat-buat. Ada sorot keseriusan yang netra matanya tampakkan.
"Omong kosong!
Sampai mati pun, mama tak akan memberikan restu mama untuk hubunganmu dan Alex.
Tinggalkan Alex dan mama akan Carikan suami yang baik dan pantas untukmu, Ridha!".
Jelita berkata pelan, namun tegas.
Raut wajahnya memerah karna amarah yang ia kendalikan mati-matian.
"Apa karna Alex orang miskin, ma?".
Aridha bertanya lembut namun bergetar. Sekuat tenaga ia tak menunjukkan kelemahannya di hadapan siapapun. Baginya, hanya dirinya yang boleh tau titik terlemahnya.
"Bukan perkara kaya atau miskin, Ridha.
Lihatlah..... Kakak iparmu Hanum dan Alma, bahkan dari keluarga sederhana, namun latar belakang mereka adalah keluarga yang baik-baik.
Mama........"
"Ku mohon, ma. Mama bisa pegang janjiku. Bila mas Alex berbuat jahat padaku, aku kak meninggalkannya seperti yang mama minta.
__ADS_1
Namun sekarang?
Di mataku dia pria yang nyaris sempurna.
Bukankah mama bilang tak ada manusia yang sempurna?
Dan Alex juga termasuk di dalamnya.
Masa lalunya..... memang buruk. Tapi aku yakin akulah masa depannya".
Ridha tak bisa lagi menyembunyikan air matanya.
Ia berharap, dengan begini dirinya segera mengantongi restu dari mamanya.
"Menangislah sepuasmu, ridha. Tapi tak akan ada yang bisa mengubah keputusan mama yang telah final".
Jelita berlalu pergi ke tangga menuju lantai atas di kamar utama.
Ada sesak yang seketika menyeruak dalam hati Ridha.
"Pa....."
Ridha menatap papanya penuh iba.
"Berusahalah semampu dan sekeras yang kau bisa, sayang. Papa bukan tak mau membantumu. Tapi pola pikir mamamu juga tak bisa di salahkan.
Jadi..... Berjuanglah bila kau benar-benar menginginkan restu mama mu".
Arlan sejujurnya kasihan melihat sang adik. Tetapi tak di tampik bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa. Menentang seorang ibu, jelas bukan karakter yang terapkan oleh keluarga Praja Bekti.
Melihat sorot mata Arlan, Aridha tak bisa lagi berharap apapun pada Kakak sulung mereka.
Pandangan Ridha beralih pada Kara.
Tak kuat karna dirinya tak mendapatkan dukungan dari saudara-saudari nya, Aridha berlalu pergi tanpa kata menuju kamarnya.
Bahunya merosot penuh ke-frustasian.
Tapi tidak!!
Bukankah papanya mendukungnya?
Ridha harus berjuang, Ridha harus bangkit.
Meratapi telaga luka yang menggenangi hatinya yang baru akan merekah.
*****
Bulan bergantung indah malam ini, desah angin nampak terdengar mengalun merdu melewati gendang telinga sepasang suami istri yang tengah memadu kasih di peraduan mereka.
Suasana nampak terasa nyaman dan mendukung.
Mereka.......
Tengah mengobati rindu yang seakan tak pernah habis untuk di lampiaskan.
Mereka saling menggapai, menyentuh, membelai, menyalurkan kehangatan lewat sentuhan yang terasa sangat memabukkan.
Bak wine dengan kadar alkohol tinggi, Kara terus saja ingin lagi, lagi dan lagi menyesap kehangatan surga yang Hanum tawarkan.
Hanum......
__ADS_1
Wanita itu nampak rapuh dan menggoda di saat yang bersamaan. Kara bahkan tak ingin berhenti menikmati keindahan ragawi milik istrinya.
"Aaarrrggg..... gerakan dan lenguhan panjang sepasang suami istri ini terdengar penuh dengan desah nafsu di sertai cinta yang luar biasa dahsyat.
Sejuk yang terasa dari pendingin ruangan terasa tak berarti saat keringat bercucuran dari seluruh tubuh pasangan ini.
"Mas, aku.... lelah".
Hanum mengeluh penuh lelah.
"Semenjak hamil, aku mudah lelah dan tak banyak melakukan banyak aktifitas. Maaf bila......
Aku tak terlalu bisa memuaskan mu seperti dulu".
Ucap Hanum di sela deru nafas yang memburu karna lelah.
"Oh tidak, sweetheart. Kau telah mampu memuaskanku hingga titik terdalam
Terima kasih, terima kasih telah memberiku kepuasan yang luar bisa
Terima kasih juga karna telah bersedia mengandung anakku, menjadi istri yang sangat sangat sempurna bagiku".
Hanum tersenyum, begitu juga dengan Kara.
Hingga beberapa saat kemudian, Hanum ingin mengeluarkan isi hatinya semenjak senja tadi mulai menghilang tergantikan gelapnya malam.
"Mas....."
"Hmmmm".
"Aridha.... Apakah mas benar tak ingin membantu Ridha meluluhkan hati mama?
Ku rasa..... Kebahagiaan Ridha ada pada Alex".
Kara menatap istrinya dalam.
Ada banyak kehawatiran yang tak istrinya rasakan.
"Tidak. Aku justru akan berdiri tegak menentang hubungan mereka untuk mama.
Kau tau sayang, aku tak mau Ridha terluka nantinya."
"Bukankah Aridha berkata bahwa Alex telah berubah?"
"Aridha terlalu lugu untuk mengetahui kelamnya dunia Alex, sayang. Percayalah, akan sulit menerima kabar bahwa Alex telah berubah.
Aku khawatir Alex hanya bersembunyi di balik topeng yang menutupinya saat ini".
"Mas.......
Bukankah kau juga memiliki masa lalu yang kelam? Dan kini kau juga berani melangkah pada perubahan?
Mungkin Alex juga demikian.
Mungkin saja Alex baru akan memulai hidup batu yang lebih baik bersama Ridha, seperti mas padaku"
"Entah....."
"Ada baiknya, selidiki lah lebih dulu."
"Hmmmm".
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁