Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Rasa yang tak lagi sama


__ADS_3

Kara.........


Si bos itu duduk dengan angkuh di sofa tunggal yang utama di rumahnya.


Ia menatap om dan tantenya dengan senyum tipis.


Ada kilas rasa rindu yang ia rasakan setelah sembilan tahun lamanya mereka tak menjalin komunikasi sama sekali.


Namun meski demikian adanya, Kara tetap pada khasnya, tak menampakkan riak emosi apapun pada sorot matanya


"Kara..... Tante merindukanmu, apa kabar?".


Dewi......


Wanita ini, meski tak secantik ibunya, namun kasih sayangnya nampak tulus di mata Kara.


Pernah beberapa waktu, namun tak begitu lama.....


Kara pernah di asuh Dewi saat jelita pergi bekerja.


Keberadaan Dewi, membuat suasana hati kara menghangat.


"Baik, Tante. Om dan Tante apa kabar?"


"Baik juga. Oh ya, ngomong-ngomong, kau makin tampan saja".


Kali ini, Chandra menimpali.


"Tentu saja.


Aku bukan om Chandra yang ketampanannya telah lapuk di makan usia".


Kalimat tajam yang Chandra rindukan, pada akhirnya lolos jua dari bibir Kara.


Namun, alih-alih tersinggung, Chandra justru terkekeh karna sudah hafal betul dengan karakter Kara.


"Kara......?".


Dewi nampak serius menatap Kara.


Ada rasa was-was yang tersirat dari mimik wajahnya. Hal seperti ini, tentu tak luput dari pandangan tajam Chandra.


Sembilan tahun berada di new York, membuat insting seorang Kara begitu tajam.


Bahkan ia bisa mengendus bahaya meski jaraknya puluhan meter darinya.


Tak hanya itu, di new York, Kara juga mendalami ilmu beladiri.


Kara.......


Pria itu bukan hanya memiliki pesona mematikan yang banyak memikat kaum hawa, namun juga bisa berbahaya di saat bersamaan.


Sesuatu yang demikian kontradiktif, namun menyatu menjelma bak malaikat.


"Ya, Tante".


Suara bariton kara masihlah datar.


"Atas tragedi sembilan tahun lalu, Tante ingin meminta maaf.


Tragedi itu......


Pada saat tragedi itu, Dita benar-benar luput dari pengamatan Tante sebagai seorang ibu".


Mendengar nama Dita di sebut, aura wajah Kara menggelap. Meski wajahnya datar, namun siapa sangka bahwa ia memendam kemarahannya hingga kini.


"Hanya itu?", Kara menaikkan sebelah alisnya.


Dewi mengangguk saja.


"Baiklah. Andai semua derita bisa di tebus hanya dengan kata maaf".


Kara tersenyum kecil.


Merasa ia bukan lah malaikat berhati suci yang bersedia memaafkan tanpa sakit hati.


"Setelah insiden memalukan itu, ada berapa banyak dampak yang menimpa keluargaku, Tante?


Aku yakin om Chandra juga cukup cerdas dalam mengambil kesimpulan atas kalimatku.


Kalian......

__ADS_1


Om dan Tante, tetap keluargaku. Saudara mama dan papa......


Tapi tak berlaku untuk wanita itu".


Ucap Kara santai.


Chandra sudah menduga, ia sudah mengantisipasi akan hal ini.


Rupanya, Sifat Kara, lebih menurun dari ibunya.


Andai Kara lebih banyak mirip dengan sifat Radhi, Pastilah Kara akan bermurah hati, mudah memaafkan.


Sayangnya, angan Chandra itu terpatahkan oleh kerasnya sikap Kara.


"Baiklah, kau berhak memutuskan apa yang terbaik untukmu.


Tante dan om hanya ingin menyampaikan maaf.


Itu saja". Ucap Kara.


"Om dan Tante tak bersalah padaku.


Jadi jangan bersikap seakan-akan kalian bersalah padaku".


"Terima kasih, Kara"


Kini Dewi berucap lirih.


Namun jelas saja Dewi tak kan bisa menyembunyikan kekecewaan.


"Aku masih kecewa pada wanita, Tante.


Setelah tragedi itu, Tante dan om tentu tak tau bagaimana aku menjalani hariku.


Aku malu bahkan takut bertemu siapapun saat itu. Beberapa dari teman kuliahku bahkan menghina dan merendahkan ku akibat ulah wanita itu. Bagaimana Aridha juga ikut menerima dampaknya.


Teman-teman di sekolahnya bahkan menghina Aridha karna memiliki kakak sepertiku.


Aku malu saat itu.


Tidak ada yang tau akibat dari semua itu .....


Aku bahkan membenci para wanita di sekelilingku. Aku trauma karna di perlakukan demikian oleh wanita itu.


Kara bahkan enggan menyebutkan nama Dita.


"Dita berkata bahwa kau pernah mencintainya, Kara. Benarkah?".


Suara Chandra terdengar lirih, di saat bersamaan, ekor mata Kara menangkap kehadiran Dita yang baru saja tiba.


Kemudian senyum iblis Kara, bertengger tak tau malu di sudut bibir Kara, menampakkan gigi-gigi gingsul nya serta lesung Pipit di kedua pipinya.


"Ya, Aku memang mencintai wanita itu".


Seketika langkah Dita terhenti saat itu juga.


Dita mendadak merasakan euforia yang luar biasa membuncah dalam hatinya.


"Namun itu dulu.


Sebelum tragedi menyakitkan itu menimpaku.


Dulu......


Dulu sekali, aku demikian dalam memiliki perasaan cinta terhadapnya. Cinta yang normal antara pria dan wanita.


Namun kini......


Rasa itu, tak lagi sama".


Ditamenatap Kara dari ujung pintu.


Semua menatapnya. Bahkan Kata juga menatapnya tajam.


"Dulu.....


Aku sempat berfikir ingin memiliki wanita itu sebagai seorang lelaki. Bahkan aku tak peduli bahwa Wanita itu anak kalian om, Tante.


Aku jelas sekali akan menentang seluruh dunia dan seisinya, bila Mama dan papaku tak mengijinkan.


Aku akan memperjuangkan wanita itu untuk bisa ku miliki.

__ADS_1


Sayangnya, yang tersisa saat ini setelah tragedi itu, hanyalah kebencian tak berujung, kemarahan tak terbatas dan dendam yang berkobar."


Chandra demikian sesak mendengar kalimat Kara.


Sebesar ini kah Dampaknya?


"Om tak tau akan separah itu penderitaan mu, Kara".


Chandra menunjukkan simpati yang tinggi. Sayangnya, Kara sama sekali tak terpengaruh.


Kini, Kara bangkit dari duduknya, mata Kara menatap lekat Dita yang telah meluruhkan air matanya.


Netra mata mereka berdua saling bersirobok.


Perlahan, Kara maju menghampiri dan menunjuk-nunjuk Dita telat di keningnya.


"Dulu, wanita ini adalah cintaku, poros hidupku, pusat duniaku, pujaan hatiku, impian masa depanku, ratu di hatiku.


Tapi kini......


Di mataku, wanita ini tak lebih dari sekedar sampah yang harus ku singkirkan, rumput liar yang perlu ku babat habis".


Kara nampak menjeda kalimatnya dan menghampiri Chandra.


"Wanita itu tak lebih dari sekedar benalu yang menumpang dan menggantungkan hidupnya pada keluarga kita, om. Tidakkah menyesal Tante telah memungutnya dari jalanan?".


Kalimat kara demikian menusuk tepat di hati Dita.


Di mata Dita sekarang, Kara bak pangeran kematian yang mengarahkan belati tepat di jantungnya.


Dita terluka.


Dita marah.


Dita kecewa.


Namun apa daya?


Kemarahan kara yang demikian berkobar ini, berawal dari Dita sendiri yang telah mematik nya.


"Aku minta maaf, mas....".


Suara Dita bergetar hebat.


Ia tak memiliki kekuatan apapun lagi sekarang.


"Aku minta maaf atas kejadian memalukan itu, tapi sungguh, Aku menyesal.


Lakukan apapun sesukamu untuk melampiaskan amarahmu padaku, asal kau bisa memaafkanku.


Katakan padaku, katakan apa yang bisa aku lakukan untuk menebus segala Dosa-dosaku padamu?"


Dita spontan berlutut di kaki Chandra,


sayangnya.....


Secepat kilat Kara menghindarinya.


"Maafmu, tak bisa membeli harga diriku sebagai lelaki yang telah kau lukai harga dirinya, kau gores egonya, dan kau patahkan hatinya dengan sangat kejam".


Kara berlalu pergi setengah berlari menuju tangga.


Kara perlu sekali melampiaskan amarahnya kali ini.


Hingga Radhi menghampiri Chandra, Dewi dan Dita.


"Pulanglah, kurasa cukup sampai disini pertemuan dengan Kara.


Akan ada waktu untuk esok".


"Kemarahan Kara sangat berbahaya, kak".


Ungkap Dewi.


"Ya, sifat marahnya seperti ibunya, jelita.


Kalian masih ingat bagaimana bila Jelita telah marah?".


Seketika Chandra dan Dewi saling berpandangan.


Ingatan mereka kembali bernostalgia bersama masa lalu.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2