Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kabar baik


__ADS_3

Rindu itu berat, seberat dunia yang memiliki banyak warna serupa sedih, galau, kesepian dan semacamnya. Terkadang, orang bilang bahwa rindu adalah penyakit paling mematikan pemiliknya.


Seperti pagi ini, Aksa tengah berbincang hangat dengan Yasmin melalui sebuah panggilan. Siapa yang menyangka, bahwa sepuluh menit usai perbincangan mereka, bel apartemen Aksa berbunyi.


Alangkah terkejut bukan main, ketika Aksa mendapati empat wanita yang sangat berarti dalam hidupnya, tengah berdiri menjulang dengan senyum menawan sesuai karakter anggun mereka masing-masing.


Hanum, Jelita, Yasmin dan Kinara sang adik, tersenyum penuh hangat. Aksa pikir, dua tahun lagi ia baru bisa melihat senyum keempat wanita di hadapannya. Rupanya, empat bulan selama Aksa tinggal bertiga di LA bersama seorang pengawal dan pelayan setia Radhi,


"Mama? Oma? Ya Tuhan, Yasmin dan oh . . . mengapa kalian datang tanpa memberi kabar lebih dulu?" Aksa masih terpaku di tempatnya, tepatnya ia seperti sedang syok.


Tak menjawab, Yasmin segera berhambur ke pelukan suaminya itu. Wanita itu benar-benar dilanda rindu berat. Empat bulan berada jauh dari sang suami, membuat rindunya terasa kian menggebu. Ditambah lagi dengan perut Yasmin yang mulai sedikit tampak buncit, perasaan Aksa semakin menghangat dibuatnya.


"Kejutan untukmu. Ya sudah. Pinggang dan lututku terlalu pegal bila harus berlama-lama berdiri." Ucap Jelita tiba-tiba. Wanita paruh baya itu menerobos masuk dengan langkah yang aneh.


"Maklumi saja, sayang. Oma memang sedang kelelahan. Hanya saja, dia tetap ngotot ingin mengantar Yasmin kemari. Mulai sekarang, Yasmin akan tinggal disini bersamamu." Ucap Hanum kemudian. Semakin tua, membuat ibu mertuanya yang baik itu semakin cerewet.


"Ya, aku lebih mengenal oma karena dibesarkan olehnya."Jawab kara sambil menuntun istrinya masuk.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu, adik kecil? Kuperhatikan kau makin besar saja sekarang." Tanya Aksa pada Nara, adiknya.


"Buruk. Di usia semuda ini, aku harus menjadi aunty dan ya, aku kehilangan perhatianmu." Jawab Nara dengan santai, namun tatapannya makin menajam pada kakaknya.


Aksa hanya terkekeh, meminta Yasmin duduk di sofa kemudian.


"Jangan khawatir, aku akan tetap akan menyayangimu, meski harus berjarak."


Aksa menuju dapur, mengetuk kamar pelayan dan memintanya untuk membuatkan coklat hangat.


"Ya, Oma sengaja mengirimku kemari untuk menemanimu." Jawab Yasmin.


"Sengaja aku mengirim istrimu agar tinggal disini dulu, Aksa. Kulihat nilai akademis dirimu, baik-baik saja dan kian bagus. Jadi kuputuskan agar kau bisa lebih semangat menjalani masa kuliahmu disini. Ingat, masanya hanya dua tahun, kau mengerti?" tanya Jelita kemudian.


"Aku paham Oma, terima kasih banyak." Sahut Aksa tulus.


Hanum hanya bisa menatap putranya dari tempatnya, sambil mengulas senyum. Anita itu benar-benar masih tak sepenuhnya percaya, bahwa ia akan memiliki cucu sebentar lagi.

__ADS_1


"Ma, bagaimana kabar papa?" Tanya Aksa pada Hanum.


"Ya, begitulah. Semakin hari papamu semakin cerewet dan keras kepala. Bahkan mulut tajamnya itu, semakin berbahaya setiap harinya." Jawab Hanum.


"Papa memang begitu." Sahut Aksa lagi.


"Tapi papa Kara adalah papa terbaik versiku." Seloroh Nara kemudian.


"Ya ya ya. Dia memang papamu. Aku tak akan merebutnya darimu." Aksa terkekeh. Sejak dulu, ia dan adiknya, Nara, memang sulit untuk akur.


"Aku tai mau berakhir ada drama, kau menangis dan mengadu pada papa." Ungkap Aksa.


"Aksa, Dua bulan dari sekarang, Hana akan segera menikah dengan Tirta. Kau mau datang?" Tanya Jelita tiba-tiba.


"Hah? Oma serius. Aku pasti akan menyempatkan datang untuknya." Aksa tak menyangka, ide gila nya membuahkan hasil yang manis.


**

__ADS_1


__ADS_2