
Brakk
Wira Atmadja menggebrak meja dengan menampakkan amarah yang demikian nyata di wajahnya.
Belum ada hitungan menit, sekertaris pribadinya memberi tahu Wira Atmadja mengenai sebuah video yang beredar cepat di sosial media.
"Belum lagi kedua anakku ku temukan, sekarang harus datang lagi masalah yang bisa mengancam keselamatan perusahaan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa yang berani bermain-main denganku?
Kemana kedua putraku menghilang?".
Wira Atmadja murka.
Marah dan tak bisa mengendalikan dirinya.
Hilangnya Daniel dan Alex beberapa waktu belakangan belum menemui titik terang, kini di tambah lagi berita yang bisa saja membuat Perusahaan Atmadja tumbang.
Sang sekertaris yang berdiri dengan tegang di hadapan Wira, tak sekalipun berani mengangkat kepalanya.
Selama bekerja menjadi sekertaris di perusahaan Atmadja, tak pernah sekalipun sekertaris Wira mendapati Wira se-murka ini.
"Sa...saya tak tau siapa dalang di balik semua yang terjadi, tuan. Hanya saja.......
Saya memiliki kesimpulan bahwa, keadaan tuan muda Daniel dan tuan muda Alex tidak sedang baik-baik saja.
Mengingat hilangnya ke dua tuan muda Atmadja belum lama di susul dengan sebuah rekaman video asusila yang tengah menyebar saat ini".
Dengan keringat dingin yang mengucur deras, sekertaris Atmadja menyampaikan sebuah fakta yang mungkin saja terjadi.
"Aku tak mau tau. Urus semua berita ini agar berhenti menyebar. Aku akan menambah orang-orangku untuk ku kerahkan dalam mencari keberadaan kedua putraku."
Wira Atmadja demikian panik dan sungguh.....
Kara telah berhasil membuat Wira Atmadja kehilangan kendali dalam dirinya.
Wira tak tau saja, bahwa Kara lebih kejam dari Radhi dan Jelita.
"Ba...baik, tuan".
Sang sekertaris pergi meninggalkan ruangan Atmadja dengan langkah-langkah cepat. Ruangan yang di design sangat mewah itu, mendadak membuat sang sekertaris merasakan sesak bila harus berbagi oksigen di dalam ruangan yang sama bersama atasan.
"Kurang ajar. Siapa dalang nya?
Berani-beraninya orang itu mencari masalah denganku, Apa dia tak tau dengan siapa dia sedang berhadapan?
Awas saja bila telah berani mengusik ketenangan seorang Wira Atmadja.".
Wira bergumam lirih.
Tak lama berselang, terdengar sebuah notifikasi pesan di ponselnya.
Maka, tak menunggu lama, dengan emosi yang demikian membuncah, Wira membuka ponselnya.
Matanya terbuka lebar dengan di sertai nafas yang memburu tanpa jeda.
Sebuah foto yang menampakkan dua pria yang terikat dengan kondisi memprihatinkan nampak di mata Wira.
Di tambah lagi seorang wanita bayaran yang ia susupkan ke dalam dua keluarga, Adi Prama dan Praja Bekti.
__ADS_1
Pikiran licik Wira bergerak dengan cepat.
"Mungkinkah keluarga Adi Prama dan Praja Bekti telah mengetahui rencana ku?
Lantas mengapa mereka hanya diam saja dan tak menyerang ku langsung? Mengapa mereka.......?".
Banyak pertanyaan Wira yang lirih berkelebat diantara pikirannya yang berkecamuk dan hatinya yang tersentak hebat.
Tak lama, Wira segera berniat menghubungi nomor yang mengiriminya foto kedai putranya yang nampak mengenaskan.
Sayangnya...... Ia sama sekali tak terhubung dengan nomor itu.
"Sial.....!!!"
Wira Atmadja mengumpat di dalam ruangannya sendiri. Ponsel yang sedari tadi berada di dalam genggamannya pun teronggok mengenaskan di lantai setelah di banting begitu saja oleh Wira.
Wajah Wira memerah menahan amarah.
Masalah perusahaan mungkin ia akan bisa segera mengatasinya dengan cara mempengaruhi dan menangguhkan kesepakatan dengan para pemegang saham.
Namun........
Bagaimana dengan kondisi Daniel dan Alex?
Wira tak bisa lagi menahan dirinya.
Maka ia bangkit dan harus bertindak secepatnya. Sekelebat bayangan akan rencananya mulai tersusun di dalam otaknya.
Jiwa liciknya mulai meronta.
*******
Dewi dengan telaten mengurus Dita yang kondisinya belum pulih sepenuhnya. Tak jauh darinya, Seorang gadis kecil menunggui Dita dengan mata berbinar penuh bahagia.
Gihana......
Telah di bawa pulang oleh Kara demi keselamatan Hana sendiri. Bila Wira telah mengetahui fakta tentang ke dua putranya yang telah menodai seorang gadis, dan terlahir akibat kecerobohan Daniel dan Alex, bukan tidak mungkin keselamatan Hana terancam.
Kara telah mengantisipasi kan hal ini jauh hari dan sebaik mungkin. Segala kemungkinan terburuknya telah ia pikirkan.
"Ma, Apakah papa setuju bahwa Hana harus tinggal bersama kita? Bukankah dulu papa yang.....?".
Dita bertanya lirih, Ia tak mau pembicaraannya dengan Dewi di tangkap jelas oleh putrinya.
"Sebentar".
Pandangan mata Dewi beralih pada Hana dan salah satu pelayang yang bertugas menunggui Hana.
"Tolong ajak Hana bermain di kamarnya atau di lantai bawah. Aku ingin bicara berdua dengan putriku. Tapi ingat!! Jangan sesekali ekluar rumah dan Hana sampai luput dari pengawasan pengawal yang berjaga".
Dewi berkata dengan tegas.
Pelayan hanya bisa menunduk mengiyakan.
"Baik, nyonya".
Setelah pelayan dan Hana berlalu, Dewi mendekati Dita dan mencoba memberikan sebuah penjelasan akan rencana suaminya dan Kara.
"Ta, Dengar.....
Sudah saat nya memberi Daniel dan Alex pelajaran. Mereka bukan hanya telah mencelakai mu dan menjadi penyebab tragedi dalam keluarga kita, tapi keluarga Atmadja telah lama mengincar apa yang keluarga kita dan keluarga Praja Bekti miliki.
__ADS_1
Sepandai-pandai mereka menyimpan rahasia dengan rapat, tapi mereka tak bisa mengalahkan keluarga kita semua begitu saja".
"Apa maksud mama?".
Dita tak mengerti. Sesungguhnya, yang paling tak tau masalah ini hanyalah Dita.
"Wira Atmadja mencoba mendekati kita semua dengan menawarkan perjodohan dengan mu.
Sayangnya, Dengan cepat Kara dan om Radhi mengetahui niat terselubungnya itu.".
Di saat yang bersamaan, suara derap langkah terdengar mendekat.
Dewi dan Dita menatap ke arah pintu dengan bersamaan. Sosok Chandra tiba dengan wajah tak nyaman.
"Bagaimana keadaanmu, Dita?
Apakah sudah lebih baik?".
Chandra menatap Dita sejenak.
"Baik, pa. Terima kasih telah memperhatikanku".
Dita tersenyum hangat.
Pandangan mata Chandra beralih lada istrinya.
"Wi, bisa ikut aku sebentar?".
Dewi mengangguk, kemudian berdiri menyelimuti Dita sebatas pinggang dan hendak berlalu pergi.
"Ada apa, mas?". Tanya Dewi yang telah tiba di ruang kerja suaminya.
"Di Mana Hana?".
"Bersama salah satu pelayan bermain di kamarnya, atau mungkin di lantai dasar.
Ada apa, mas?".
"Mas Radhi telah menyebarkan video tindak asusila yang dilakukan Daniel dan Alex pada Dita. Dengar, jangan sembarang keluar rumah untuk beberapa waktu ke depan.
Apapun yang terjadi. Aku telah memerintahkan Sekertarismu untuk mengurus pendidikan Hana yang harus home schooling untuk sementara waktu".
"Apa !?! Lantas, bagaimana dengan nama baik Adi Prama, mas? Bila Dita harus terlibat...."
"Mas Radhi sendiri telah menjamin keamanan kita. Hanya saja, jauhkan Dita dari media sosial apapun agar ia tak semakin terluka.
Meski wajah Dita di samarkan, tapi tentu ia kan tetap terluka nantinya.
Kau mengerti dengan maksudku, bukan?".
"Ya".
Dewi menjawab pasrah.
"Aku akan mengunjungi Daniel dan Alex nanti malam. Dengan Mambawa Hana.
Kau tak perlu ikut. Ada beberapa rencana yang aku, mas Radhi dan Kara susun bersama."
Chandra menambahkan lagi.
🍁🌻🌻🌻🍁
__ADS_1