Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kegilaan Dita


__ADS_3

Kara telah tiba di kediamannya hingga malam telah larut.


Sebelum berangkat, ia telah mengultimatum istrinya itu untuk istirahat lebih dulu, mengingat keadaan Hanum yang belum pulih sepenuhnya.


Sayangnya, istrinya itu tak menghiraukan dan lebih menunggu Kara pulang.


Di liriknya jam tangan di pergelangan tangan Kara. Waktu telah menunjukkan pukul 22.48.


Kara mendesah lelah. Mau tak mau, ia terpaksa membawa istrinya ke kamar dengan menggendongnya.


Setibanya di kamar, Hanum di baringkan pelan, sangat hati-hati demi tak mengusik lelap wanita itu. Kara duduk di tepi ranjang, di tatapnya dalam wajah wanita yang telah mengisi ruang hati Kara.


Cinta, rindu, rasa sayang, dan kasih.......


Seperti telah tercurah sepenuhnya pada Hanum.


Hanum lah yang mampu membuat Kara bertekuk lutut.


Hanum lah yang mampu membuat Kara takluk sepenuhnya.


Hanum lah yang mampu meredam kebenciannya pada wanita.


Hanum lah yang mampu mengembalikan nurani Kara.


Hanum lah yang mampu menyadarkan Kara betapa cinta sejati itu ada untuk di abadikan.


Hanum lah yang telah mampu menyadarkan Kara tentang adanya cinta sejati.


Hanum lah......


Hanum lah......


Hanum dan Hanum......


Senyum kecil tercetak di bibir Kara yang nampak mempesona.


Tangannya perlahan terulur untuk membelai lembut pipi putih Hanum.


Kulitnya seputih pualam, Lembut bak sutra kualitas nomor satu di seluruh Asia.


Garis wajahnya lebih lembut di bandingkan Callista.


Sekelebat bayangan wanita yang juga bersikap lembut dan penuh keanggunan, melintas di otak Kara.


Holy....


Wanita itu terlihat biasa saja, namun.....


Kara bukan anak ingusan yang tak tau bahwa wanita itu wanita biasa.


Entahlah....


Kara sedang tak ingin bermain hati, dengan siapapun itu.


Baginya, Hanum adalah wanita tersambar yang pernah ia temui meski ia bersikap dingin, acuh dan seringkali mengabaikan Hanum.


Meski begitu, nyatanya Hanum mampu meluluh lantakkan pertahanan Kara saat itu.


Kara tersenyum lagi mengingatnya.


Ah... betapa hidup ink indah bila di penuhi dengan kasih sayang.


Di perhatikan nya kembali, di tatapnya lebih intens. Bibirnya yang seksi dan garisnya cukup sensual. Matanya yang indah di bingkai bulu mata lentik. Hidungnya mancung karna memang memiliki darah blasteran indo-latin.


Rahangnya nampak menawan dan keibuan.


Tulang pipinya tinggi, Hanum seperti berasal Ari kaum arsiktokrat sejati.


Sayangnya, nasib Hanum sejak kecil tidak lah baik. Tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya dari sejak dini. Hidupnya pun serba sederhana.


Dalam hati, kara menggaungkan janji kebahagiaan untuk Istrinya itu.


Ya, Hanum...... Hanya Hanum seorang.


"Emh....."


Hanum menggeliat kecil.


Membuat kara beringsut pelan dan segera membersihkan Diri. Ia perlu meredam gejolak nafsu nya dengan mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin.

__ADS_1


Beberapa hari tanpa menyentuh istrinya, membuat Kara perlu sebenarnya untuk menyalurkan kebutuhan libidonya.


Apalagi sentuhan kecilnya tadi pada Hanum.


"Mas....."


Hanum mendesis pelan. Ia nampak memperhatikan ruangan sekitar.


Seingatnya, ia tadi berada di ruang tamu untuk menunggu Kara.


"Kau ketiduran, Aku yang menggendong mu kemari".


Ungkap Kara yang seakan tau apa yang sedang di pikirkan istrinya itu.


Wajahnya perlahan mendekat untuk mengecup kening dan bibir istrinya bergantian.


"Oh, maaf aku merepotkan".


Kara tersenyum kecil mendengar suara istrinya.


"Sudah ku bilang, Jangan menunggu ku pulang".


"Itu bagian kewajiban dan hak istri, bukan?".


"Ya ya ya ya terserah kau saja".


Hanum tersenyum lembut.


"Terima kasih".


Kara tersenyum kecil.


"Tentu. Hanya saja.... Kau harus membayar jasaku kali ini dengan the long night, bila kau telah pulih sepenuhnya".


Mendengar ini, membuat wajah Hanum merona merah.


Oh ayolah! Bukankah ia dan suaminya itu sudah melakukannya berulang kali?


"Emmm baiklah".


"Baiklah.... Aku akan membersihkan diri sebentar. Tidurlah".


Setelahnya, Ia menatap punggung lebar suaminya yang berlalu ke kamar mandi.


*****


Di lain tempat.....


Seno tengah mengumpat mulut nya sendiri yang keterlaluan karna telah lancang mengungkapkan rindu pada Luna.


Oh ayolah, Seno hanya merasa dirinya tak pantas untuk Luna.


Luna yang notabenenya anak seorang yang ternama dan dari keturunan berdarah biru.


Dalam diam Seno nampak berpikir dan menggaungkan banyak tanya.


"Bila cinta di ciptakan dengan ukuran sama rata, mengapa harus ada perbedaan status sosial?"


Satu-satunya tanya yang sulit untuk Seno dapatkan jawabannya.


Dua jam yang lalu, ia sempat menerima balasan ungkapan dari Luna, bahwa Luna juga merasakan apa yang ia rasakan.


Rindu.....


Kerinduan itu terungkap penuh dari dalam hati Seno.


Hingga ia bertekad untuk kembali menghubungi Luna. Seno ingin mempertegas sesuatu yang seharusnya di ungkapkan.


Biarlah.......


Andai ia dan Luna tak berjodoh, tuhan pasti akan meringankan beban kerinduannya yang demikian berat, lebih berat dari pegunungan Himalaya yang menjulang kokoh.


"Halo, Ada---ada apa lagi, mas Seno?"


Suara Luna terdengar gugup.


Bagus, sepertinya....


Luna belum tidur. Padahal malam telah larut.

__ADS_1


"Nona belum tidur?"


Seno menyapa tak kalah lembut.


"Belum, mas. Ada apa?".


"Besok, selain nona ingin mengunjungi kebun bunga di desa, apa ada hal lain yang ingin nona kunjungi?"


"Tidak ada. Hanya itu saja".


"Oh begitu ya?"


"Ya. Ada apa sebenarnya, mas Seno?".


"Tidak ada. Andai besok nona memiliki cukup waktu, Saya ingin membicarakan sesuatu dengan nona. Tapi..... tapi tidak di rumah.


Ini menyangkut hal pribadi yang perlu saya bahas".


"Baiklah.... Besok kita bisa mengobrol di kebun bunga. Atau di manapun asal nyaman".


"Terima kasih, nona".


"Ya. Sama-sama".


"Oh, nona?".


"Ya....?".


"Segeralah beristirahat. Jangan tidar terlalu larut malam. Tak baik untuk kesehatan".


"Baiklah. Terima kasih, mas".


Aluna menutup sambungan telepon dengan hati yang berdebar tak terkendali.


Perhatian kecil Seno benar-benar mampu membuatnya merasakan euforia dahsyat.


*****


Dita, tengah saling berkirim pesan dengan orang suruhannya.


Malam ini, orang suruhannya tengah memberinya kabar bahwa pertemuannya dengan Kara berjalan lancar.


"Bagaimana Holy?".


"lancar. Tapi ingat, aku tak mau bila sampai rahasia terbesarku terkuak di hadapan publik."


"Bagus, tetaplah menurut padaku. Aku tak memiliki kandidat lain yang bisa membantuku meluluskan keinginanku"


Suara Dita demikian memuakkan bagi Holy.


"Baiklah".


"Perlahan. Aku tak mau kau terburu-buru menjalankan misi utamanya. Aku tak mau ada yang curiga dengan gerak-gerik mu. Lakukanlah se natural mungkin.


Bila sampai niatanmu terendus oleh Keluarga Praja Bekti, ku pastikan bukan hanya kau yang hancur tak tersisa, tetapi anakmj juga akan dipastikan akan mengendus bau tanah pemakaman".


Holy memejamkan matanya untuk menetralkan amarah dalam dirinya.


Baru kali ini ia menyadari bahwa Dita adalah wanita uang licik.


Demi memuluskan keinginan Dita untuk memperalat Holy, Dita mengancam akan menyebar luaskan skandal yang melibatkan holy dengan seorang pebisnis ternama yang telah beristri.


Dari skandalnya itu, terlahir seorang anak lelaki yang disandera oleh Dita. Menjadikan malaikat kecil itu sebagai alat untuk mengancam holy agar menjerat Kara dan menghancurkan rumah tangga Kara. Dengan janji akan mengembalikan anak itu pada Holy bila rumah tangga Kara dan Hanum mulai carut marut.


Air mata holy perlahan merembes keluar.


Andai ayah dari anak itu bukan lah suami orang, pastilah Holy akan berteriak pada seluruh dunia bahwa ia telah memiliki anak dari pria yang bernama Kusuma.


"Jangan apa-apakan anakku, Hanindita. Kau tau bukan, bahwa aku tak akan bisa lagi memiliki anak setelah melahirkan putraku. Andai sedikit saja ia tergores, akan ku pastikan nyonya besar Praja Bekti lah yang akan membantaimu"


"Ya, tentu saja."


Sambungan telepon di matikan sepihak oleh Dita.


Demi ambisinya, ia telah tega melibatkan dan mengorbankan perasaan banyak orang di sini.


Dita mendesah panjang.


Betapa ia telah jauh melangkah. Mewujudkan obsesinya yang penuh dengan kegilaan.

__ADS_1


🍁🌻🌻🌻🍁


__ADS_2