
Tanpa terasa, sebulan telah berlalu begitu cepat. Aksa dan Yasmin kini tengah berada di rumah Yasmin yang sebagian besar telah
banyak berubah karena Dion merenovasinya.
Sepasang suami istri muda itu tengah menunggu kedatangan kakak Yasmin yang kabarnya Dion menjemputnya dari asrama. Entah bagaimana caranya, Yasmin sangat gugup menantikan momen ia akan bertemu dengan kakaknya.
Ini adalah sebuah fakta yang sulit Yasmin terima sebenarnya. Tapi sebagai putri Dion, mau tak mau ia harus menerima Marcel juga, bukan? Lagi pula, hidup kesepian tanpa memiliki saudara untuk saling berbagi, rasanya sangat membosankan.
"Hei, kau gugup?" Aksa bisa merasakan jemari istrinya yang basah oleh keringat dingin.
"Ya. Aku rasa aku sangatlah gugup sekarang. Bolehkah bila seandainya, aku makan dulu." Tanya Yasmin, yang berhasil membuat Aksa tertawa keras.
"Kegugupan seseorang, biasanya akan di tutupi dengan melakukan kegiatan lain atau mengalihkan pikiran agar lebih rileks dan enjoy. Tapi lihatlah dirimu. Mengapa kau akan makan saat gugup begini?" Aksa tak habis pikir dengan tingkah wanitanya itu.
"Aku, aku kalau gugup begini memang harus makan untuk membuang atau mengurangi rasa gugupku." jawab Yasmin.
"Bagaimana jika nanti kau gendut?" tanya Aksa. Yasmin hanya memicingkan matanya sambil mulut mungilnya berdecak kesal.
__ADS_1
"Apa kau akan meninggalkan aku bila nanti aku gendut?"
"Tentu saja. Banyak gadis lain yang akan mengantri untuk tidur denganku jika mereka tahu aku kesepian."
"Dan itu tak akan pernah terjadi!" jawab Yasmin sambil menendang kaki Aksa dengan keras. Tentu saja hal itu membuat Aksa mendesis kesakitan.
"Ya ampun, sayang. Kumohon jangan begini. Astaga, kau lebih garang dari Tante Ridha rupanya. Kupikir kau selembut Tante Aluna."
"Sudahlah. Aku rasa kau tak perlu banyak omong."
Baru saja Aksa hendak bicara untuk menimpali, Mobil Dion menderu di halaman, pertanda ia dan Inora telah tiba membawa serta Marcel.
"Marcel, dia adikmu, dan yang berdiri di sampingnya itu, adalah suaminya. Namanya Aksa." Inora bertutur lembut. Wanita itu melihat mata anak-anak dan menantunya begitu berbinar.
"Yasmin, Aksa, ini adalah Marcel. Usianya dua puluh tahun, menjelang dua puluh satu tahun. Tiga bulan lagi kakak kalian akan berulang tahun yang ke dua puluh satu. Ayo, beri salam." Dion menimpali lembut. suaranya yang khas dan senyumnya yang kebapakan, membuat suasana kian hangat.
"Hai, kak. Aku Yasmin." Yasmin menyapa Marcel.
__ADS_1
"Hai, adik. Kau cantik dan lembut." Mata Marcel berbinar,
"Aku Aksa, kak. Senang bertemu denganmu."
"Hai, Aksa, adik ipar. Senang juga bertemu denganmu."
Begitulah suasana hangat yang tercipta dalam keluarga Dion. Mereka tengah saling melakukan pendekatan dan menyambut baik kedatangan Marcel. Hingga mereka tak menyadari, ada sesosok tinggi menatap ke arah mereka dengan perasaan yang tak menentu.
Alex berdiri di tepi jalan dan mengintip rumah Dion yang pagarnya masih belum rampung terpasang.
Mata lelaki itu tak henti-hentinya menatap ke arah Marcel, Marcel yang memiliki perawakan hingga wajah yang samar-samar seperti sama dengannya. Hanya saja, Alex tak berani mendekat.
Wajah Alex memucat tanpa sadar. Lelaki itu terpaku dan membuktikan sendiri apa yang pengawalnya katakan tempo hari, bahwa Inora memang Sengaja menyembunyikan Marcel darinya, agar dia dan Aridha tetap tenang Tania terusik.
Dengan langkah kaki limbung, lelaki itu menaiki mobilnya kembali.
"Nora . . . sejahat itukah aku selama ini padamu? Kau bahkan rela menderita sendirian dibawah bahagiaku bersama istriku? Astaga, Tuhan . . . apa yang sudah aku lakukan pada Inora?"
__ADS_1
Alex tak kuat menahan sesak di hatinya. Lelaki itu lantas pulang, dan tak tahu harus bagaimana. Bagaimana menebus dosanya terhadap Inora setelah ini?
**