
Aksa demikian bahagia hari ini, apa yang ia rencanakan, akan segera terealisasikan. Senandung lirih nya terdengar ketika bel tanda istirahat berbunyi.
Perjalanannya ke kantin kali ini terasa ringan tanpa beban. Mungkin, kesepakatan dangkal bersama Yasmin sebentar lagi, akan segera terjadi.
Setibanya di kantin, pandangan mata Aksa beralih pada seorang gadis yang duduk sendiri di sudut kantin. Meski suasana kantin ramai akan kasak-kusuk para siswi yang membicarakan Aksa, sama sekali tidak membuat Aksa terganggu.
Di belakang Aksa, Tomy dan Rafa tengah mengamati keadaan sekitar. Sebagai sahabat, dua orang itu lah yang mendapat kepercayaan Aksa dan orang paling dekat dengan Aksa di seluruh Antero sekolah.
Dengan langkah anggun bak predator liar yang mengintai mangsa, Aksa menuju bangku dimana Yasmin berada. Senyum tipis terukir di bibir Aksa ketika Yasmin menatapnya judes dan penuh kewaspadaan.
Andai Yasmin orang kaya dan tak bergantung pada beasiswa penuh, Aksa yakin pastilah gadis ini akan menentangnya habis-habisan tanpa negosiasi.
Sejenak, Yasmin mengakui bahwa pesona Aksa, sangatlah sulit di tolak. Namun tidak, bagi Yasmin, Aksa tidak lebih dari sekedar orang yang akan memanfaatkan situasi apapun dan bisa mengendalikan apapun dengan uang.
Mungkin kah semua orang kaya sama saja?
Yasmin tak tau pasti.
Tatapan mata Yasmin terpaku pada mata Aksa yang setajam elang putih, sedalam Palung laut, dan sederas arus gelombang laut yang menghanyutkan.
Dan Yasmin kehilangan kesadarannya sesaat ketika mata mereka saling bersirobok.
"Ku harap kau tidak kehilangan kewarasan mu karena terlalu dalam hanyut dalam pesona mataku.
Ini hanya mata, Yasmin. Belum sepenuhnya yang ada pada diriku".
Aksa menatap Yasmin dan tersenyum mengejek dengan menaikkan satu alisnya.
Yasmin yang tersentak dari lamunannya segera mengembalikan mode judesnya seperti sedia kala.
"Kau jangan terlalu percaya diri tuan muda Praja Bekti yang terhormat. Kau hanya menilaiku dari permukaan".
Dan gelak tawa Aksa terdengar. Tawanya demikian anggun hingga membuat siapapun terpana.
"Oh benarkah? Tapi liurmu hampir saja menetes tadi".
"Jangan mencoba memojokkan aku saat.......".
"Ya sudah terserah padamu saja. Aku tak peduli".
Aksa mengibas telapak tangan kanannya tanda tak peduli.
"Aku hanya ingin kau menjadi pacar sewaan ku.
Berhubung hanya kau yang mampu bersikap judes dan mampu memasang mode horor dan seram luar biasa".
__ADS_1
"Sialan, kau. Apa yang kau pinta dariku?"
Kena kau gadis kecil.
Aksa tersenyum tipis di sertai bisik batinnya yang culas. Hatinya meneriakkan kemenangan ketika dengan gusar, Yasmin menekankan kalimatnya.
"Satu bulan. Satu bulan kau akan menjadi pacar sewaanku."
"Mengapa harus pacar sewaan?".
"Memangnya kau mau jadi pacar sungguhan ku?".
Seluruh Saliva Yasmin seolah membentuk gumpalan dalam tenggorokannya yang sulit di telan.
"Tidak".
Yasmin menggeleng tegas.
"Ikuti saja apa yang menjadi perintahku".
Tegas Aksa tak Sudi di bantah. Sifat Radhi dan Kara yang teguh pada pendirian, benar-benar menurun padanya.
"Lalu, imbalan yang aku dapatkan?".
Aksa tersenyum sinis mendengar tanya yang Yasmin lontarkan. Dari sini Aksa menyimpulkan, bahwa semua yang wanita kejar, hanya sebatas uang.
"Apa yang kau pinta?".
"Aku tak meminta apapun. Aku hanya ingin tau pasti, apa yang kau jadikan barternya?".
"Apapun yang kau minta asal aku dan opa ku bisa memenuhinya".
Yasmin terperangah..
"Sebenarnya, apa rencanamu?".
"Aku di kira seorang gay oleh saudara-saudariku. Dan aku ingin menyangkal semua itu.
Aku bukan gay. Selama satu bulan ke depan, keluarga Praja Bekti akan memiliki banyak acara. Dan aku akan membawamu untuk sering-sering datang menghadiri berbagai acara keluarga Praja Bekti, sebagai pasanganku".
Ungkap Aksa ringan dan datar. Mata Yasmin yang tadinya menyipit penuh kewaspadaan, kini berubah melotot menyeramkan. Aksa diam-diam terkekeh geli dalam hati. Namun, ia mampu menahan emosinya dengan sangat sempurna.
"Gay? Memang nya mengapa semua keluargamu mengira bahwa kau seorang gay?"
"Ya. Karena aku selama ini tak pernah bermain dengan teman wanita. Hanya Tomy dan Rafa yang suka ku ajak ke kediamanku. Dan keluarga ayahku, menganggap ku gay karenanya".
__ADS_1
"Pasti mereka memiliki rasa ketidak sukaan bila kau terus bersikap demikian? Mengira kau tidak normal karna tak pernah membawa teman perempuan ke kediamanmu.".
"Aku tak suka di repotkan oleh makhluk yang namanya wanita. Meski banyak saudaraku yang berjenis perempuan, juga bibi ku dari ayahku pun perempuan, tapi aku belum siap berkomitmen apalagi menjalani sebuah hubungan."
"Jadi, kau belum pernah pacaran?".
Selidik Yasmin dengan berjuta rasa ke ingin tahuannya.
"Katakanlah, aku anak baik-baik yang tidak suka melenceng dari norma yang di tetapkan".
"Hei..... pacaran bukan hal yang melanggar norma masyarakat. Itu.... wajar saja di lakukan pemuda-pemudi. Bukankah banyak gadis yang suka padamu?"
"Sayangnya, aku suka kebebasan. Wanita kebanyakan yang menyukai ku, adalah jenis wanita yang justru suka mengekang bila sudah menjalani komitmen bersama seseorang".
"Terserah kau saja".
Yasmin memutar bola matanya.
"Baiklah. Ku anggap kita sepakat. Bila kau memiliki masalah finansial, kau bisa datang padaku kapan pun. Aku pasti membantu. Lagi pula, tidak lama sandiwara ini akan berjalan. Hanya sekitar satu bulanan".
"Bagaimana bila aku menolak?"
"Maka kupastikan kau akan segera hengkang dari sini. Lihat saja"
Aksa bukanlah type pria yang Suak bermain-main dengan ucapannya. Apa yang menjadi keputusannya, sulit untuk siapapun merubah dan menentangnya.
Bahkan terkadang Hanum dan Kara selaku orang tua, mereka kewalahan dalam membujuk Aksa bila sudah memutuskan suatu keinginan.k
Yasmin diam sejenak, ada rasa gamang dalam hatinya. Sejujurnya, Yasmin enggan terlibat dalam urusan apapun dengan Aksa, siswa yang begitu banyak di gilai para siswi-siswi di sekolah tersebut.
Tapi ia tak memiliki pilihan lain selain menerima kesepakatan dangkal tersebut.
Ia tak mau saja bila nanti tiba-tiba di keluarkan dari sekolah dan berujung pada kekecewaan kedua orang tuanya.
Menggigit bibir bawahnya dengan kuat, Yasmin mencoba menghalau keraguan dalam hatinya. Meyakinkan dirinya sekali lagi, bahwa menerima kesepakatan ini, adalah keputusan yang benar.
Lagipula ia tak memiliki pilihan lain. Toh hanya sebulan, bukan?
Setelahnya, Yasmin bisa bebas melakukan apapun yang ia mau. terlebih melepaskan diri dari Aksa yang bersifat otoriter dan menang sendiri.
Menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian Yasmin mengangguk dan menerima tawaran Aksa dengan terpaksa.
"Baiklah... aku menerima kesepakatan yang kau tawarkan. Asal kau tidak menindasmu selama sebulan ke depan".
Yasmin tak tau saja, beberapa waktu ke depan, akan banyak kejadian yang membuat nya nyaris gila.... oh tidak, bahkan nyaris mati karena Aksa.
__ADS_1
🍁🌻🌻🌻🍁