Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Kecemburuan


__ADS_3

Suara tangisan bayi terdengar nyaring menggema ke seluruh ruangan kediaman Praja Bekti. Jelita dengan telaten mengayun pelan dan mendendangkan lagu bayi dengan syahdu.


Wajahnya yang terbiasa garang dan berbahaya, kini memendarkan sorot kelembutan.


Beberapa saat kemudian, suara deru mobil terdengar dari luar, suara yang Jelita yakini, adalah suara mobil yang di pakai suaminya. Jelita lantas melangkah anggun dengan kedua tangannya masih menggendong Aksa. Senandung lirih tak juga usai ia dendangkan.


Derap langkah Radhi terdengar.


"Sayang, kau di sini?"


Sapanya, Jelita lantas menyambut sang suami dengan senyum yang tak juga luntur.


"Ya. Lihat, aku sedang bersama cucu kita".


Jemari Radhi lantas terulur mengusap pelan pipi cucu pertamanya itu setelah sebelumnya, ia mencuci tangan di depan.


"Apa dia rewel?"


Tanya Radhi pelan.


"Sedikit. Mungkin ia merindukan papa dan mama nya".


Mereka lantas berjalan pelan menuju ke dalam kamar utama.


"Dari awal aku sudah katakan, Sebaiknya Aksa di ikut sertakan saja dengan mama papanya."


"Dan Aksa akan melalui perjalanan jauh?


Tidak, aku tidak mau cucuku sakit setelahnya".


Mendengar ini, tentu Radhi mendesah lirih. Jelita memang keras kepala dan begitu posesif terhadap cucunya.


"Jangan terlalu memanjakan Aksa. Aku ingin mendidiknya menjadi kuat di masa depan. Dia harus tau berbagai macam intrik dan mempelajari kekuatan.


Keluarga Praja Bekti tidak boleh lemah".


"Apa aku memanjakan nya?".


"Ya, tentu saja".


Setelahnya, mereka tiba di lantai atas. Sayup-sayup, mereka mendengar suara Aridha yang tengah berdebat dengan suaminya.


"Anak itu, selalu seperti ini setiap hari".


Gumam Jelita. Radhi tersenyum tipis menanggapinya.


**


"Aku mau sekarang, mas. Kau tidak dengar ya?"


Suara Ridha menggema ketika mereka telah tiba di ruang keluarga di lantai atas.


Mereka tak menyadari, bahwa Radhi dan Jelita sudah ada di sana.


"Ya Tuhan, Ridha...... Sayangku cintaku....


Aku..... aku tidak bisa masak. Bukankah di sini.... banyak pelayan?"


Alex memohon dan mengiba sekali lagi.


Seharian ini, sedari pagi Aridha merengek untuk di buatkan nasi goreng oleh Alex. Entah apa yang terjadi pada pengantin yang masih terbilang baru itu.


"Mas. Kau bilang kau mencintaiku. Mana buktinya?"

__ADS_1


"Apakah pembuktian cintaku masih kurang? Perlukah aku memasak untuk pembuktian cinta? Itu konyol, sayang... Aku...."


"Ya. Kau perlu memasak untukku.


Cepatlah, mas. Aku sudah tidak sabar. Air liurku seperti mencair dan mudah menetes.


Aku tidak menerima alasan apa pun.


Tadi pagi, Kau beralasan meeting dan tak bisa di tunda. Sekarang, kau bilang...."


Aridha tak melanjutkan kalimatnya. Wajahnya sudah di liputi kegusaran. Alex hanya bisa pasrah dan mengalah. Belakangan ini, Ridha sering meminta banyak hal yang terasa aneh. Alex terkadang di buat kelimpungan sendiri.


"Baiklah, Jangan menangis, ayo......"


Alex lantas mengusap pelan kepala istrinya, menggamit lengan istrinya dan menuntunnya untuk segera turun di dapur.


Dalam hati, Alex bingung tentang bagaimana caranya memasak.


"Oh Selamat sore, mama....papa...."


Sapa Alex saat berpapasan dengan Radhi dan Jelita yang sedang menggendong bayi mungil yang berusia empat bulan itu.


"Sore, nak. Kau sudah pulang dari kantor, rupanya?


Bagaimana harimu? Apa semua berjala baik?"


Sahut Radhi. Tatapan matanya melembut.


Senyum kecil selalu terukir di bibirnya.


Setelan linen hitam, semakin mempertegas wibawa dan kharisma yang melekat pada dirinya.


"Baik, pa."


Jelita bertanya pada putrinya yang cemberut.


"Aku ingin makan nasi goreng buatan mas Alex, ma".


"Ya sudah. Lakukan apapun sesuka kalian. Mama akan ke kamar membawa Aksa"


Alex dan Aridha menatap jelita dan Radhi yang berlalu beriringan menuju kamar utama.


Lantas, sepasang suami istri itu berlalu menuju dapur.


Dengan arahan beberapa pelayan yang ada di dapur, Alex dengan gerakan kaku mengaduk nasi goreng.


Aridha hanya terkikik geli memperhatikan dari meja makan. entah mengapa, bibirnya sangat ingin makan masakan Alex.


**


Alex memperhatikan istrinya uang dengan lahap makan nasi goreng buatannya. Dalam hati, Alex bahkan tak pernah melihat Aridha makan selahap ini.


Dulu, Aridha adalah wanita anggun yang tertata cara makannya. Tapi sekarang..... Alex benar-benar di buat geleng-geleng kepala.


"Sayang, pelan-pelan makannya?".


Aridha lantas menghentikan kunyahannya, menatap suaminya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Pria yang satu matanya tertutup itu lantas tersenyum kikuk. Tatapan Aridha kali ini, seperti tatapan yang serupa ancaman.


Mungkinkah kalimatnya salah?


"Aku sudah pelan."

__ADS_1


Tukas Aridha kemudian, lantas melanjutkan makannya.


Tak lama, Aridha usai makan. Mereka masih duduk di meja makan ketika telepon pintar Alex berbunyi pelan.


Aridha yang memang duduk bersebelahan dengan suaminya, seketika menyambar ponsel Alex dan memeriksa pesan masuk.


Sebuah pemberitahuan akan di adakannya reuni dengan kawan-kawan sekolah seangkatannya dulu.


Aridha lantas bertanya pada Alex.


"Mas.... Ada pemberitahuan reuni, mas mau datang?"


Alex lantas memeriksa ponsel yang ada dalam genggaman istrinya.


"Bila kau mengijinkan. Kalau tak keberatan, ikut lah denganku. Tapi kalau kau tidak mau, aku juga tak akan datang".


Senyum Alex nampak menawan di mata Aridha.


"Kau tak malu bila datang? Emh... maksudku...?"


"Memangnya kenapa malu?"


"Itu... apa mas tidak malu datang, sedang mata mas...."


Alex tersenyum kecil mendengarnya.


"Untuk apa malu? Aku tidak buta".


Pandangan Ridha berubah sendu secara tiba-tiba. Rasa bersalah kemudian membersamai hatinya.


Andai dulu ia tidak di liputi amarah hingga menyebabkan kecelakaan, mungkin sekarang, mata Alex akan tetap utuh tanpa di donorkan padanya.


Aridha merutumi kebodohannya di masa lalu.


"Jangan sedih. Semua akan baik-baik saja."


"Mas tidak akan menyesal?"


"Tidak. Semua dan apapun yang aku lakukan untukmu, tidak akan pernah ku sesali. Apapun itu. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Dan kau segalanya untukku. Jadi untuk apa aku menyesali pemberianku yang berwujud mata?


Jangankan mata, andai ada sebuah pilihan, aku harus mati demi mempertahankan mu untuk tetap hidup, akan aku lakukan".


Alex benar. Selama ini, apa yang tidak Alex lakukan demi wanitanya? Bahkan, Kara yang notabenenya Kakak iparnya, memberikan tantangan untuk menstabilkan perusahaan anak cabang yang sedang pailit, Alex melakukannya dengan cepat. Hanya dalam jangka waktu dua setengah bulan, semua kondisi keuangan perusahaan berubah stabil seketika.


Ini sungguh di luar kendali. Alex mampu melewati tantangan apapun yang Radhi dan Kara berikan untuknya, hanya demi Aridha.


Sekali lagi, Aridha begitu tersentuh dengan kebaikan Alex. Namun, saat euforia itu menggelora dalam hati Aridha, tiba-tiba sebuah notifikasi kembali berbunyi.


~Apakah Alex akan datang?~


Sebuah nama yang tertera di atas pesan tersebut, membuat kecemburuan Aridha bangkit dan menggelora.


Inora.


"Siapa Inora? Dia menanyakan mu."


Alex mengerutkan kening, seperti mendengar nama yang begitu familier ketika Aridha menyebutnya.


"Awas saja kalau dia berani menggodamu. Ku pastikan ia akan kehilangan satu tangan dan satu kakinya sebagai hukuman!!".


Alex memelototkan matanya.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2