
Hari ini adalah hari pertama Aksa berangkat ke sekolah bersama Yasmin. Meski tampaknya mereka seperti sepasang sahabat, namun bagi Yasmin sekarang, ia adalah seorang istri bagi Aksa.
Bangun pagi-pagi sekali, Yasmin membantu ibunya memasak usai membersihkan tempat tidur. Aksa tengah mandi dan Yasmin hanya bisa menyiapkan secangkir susu untuk sementara. Tak banyak menu yang Inora masak. Namun sepertinya Aksa seperti tengah menyukai aroma khas masakan yang menyeruak di sepenjuru rumah.
"Selamat pagi, Aksa. Mau berangkat sekolah?" Dion bertanya pada menantunya itu. Meski Aksa tergolong seperti lelaki muda yang telah berkarier, namun wajah dan perawakan Aksa seperti remaja pada umumnya Manis dan rupawan.
Tak hanya itu, tubuh Aksa dari ujung kaki hingga ujung kepala, terlihat sangat sempurna meski Aksa hanya akan pergi ke sekolah. Pantas saja Yasmin takjub dengan Aksa. Dion pikir, Aksa memang memiliki aura yang mendominasi dan juga cukup unik.
"Iya, ayah. Maaf, Aksa bangun keuangan. Akibat pulang terlalu larut semalam, membuat Aksa seperti keenakan tidur dan sulit bangun." ungkapnya sembari mengakrabkan diri pada ayah mertuanya itu.
"Tak masalah. lain waktu, jika pulang ke kediaman opa dan Oma mu, lebih baik menginap saja jika terlalu malam. Ayah dan juga ibu tidak akan marah kada kalian." Dion menatap Aksa seperti Dion menatap Yasmin.
__ADS_1
"Oh ya, Ayah. Nanti siang sepulang sekolah, Aksa diminta opa untuk ke kantor memberi penjelasan sesuatu. Kemungkinan cukup malam dan ya, jangan terlalu bingung jika Aksa tak pulang." Ungkap Aksa kemudian. Ia hanya tak mau jika nanti Aksa berakhir di salah-salahkan, karena ia terlambat membawa Yasmin pulang.
"Ya, tak mengapa." Baik Dion maupun Aksa, mereka sama-sama diam dan berjalan beriringan menuju dapur. Andai saja ada pelayan yang siap sedia melayani Aksa, Aksa biasanya meminta pelayan untuk membuatkan menu apa saja yang di suka. Namun kali ini, Aksa merasa ia tak akan menolak apa pun yang Yasmin dan ibunya masak.
"Selamat pagi, Aksa. Duduklah dengan santai dan nikmati sarapanmu." Inora muncul dari arah dapur. "Sejanak ibu sangat penasaran bagaimana sosokmu, Aksa. Tapi rupanya Tuhan memang sudah mengirim lelaki yang cocok untuk Yasmin." ungkap Inora sambil tersenyum hangat.
"Selamat pagi, bu. Maaf jika nanti Aksa banyak kekurangan. Terima kasih juga karena ibu sudah baik hati menerima Aksa sebagai bagian dari keluarga ini." ungkapnya lagi.
"Ya, tak mengapa. Oh ya, bagaimana dengan hari ini. Apakah sepulang sekolah nanti, akan segera pulang atau bagaimana?" tanya Inora sembari. duduk. "Jangan khawatir, Bu. Opa sebenarnya sedang meminta Aksa untuk pergi ke kantor. Dan ya, Aksa ingin pamit bahwa Yasmin akan ikut Aksa ke kantor ini.
"Maaf, tapi aku sendiri ada kegiatan di luar."
__ADS_1
"Ya sudah, tak masalah. Hanya saja, ayah sudah menyerahkan putri ayah padamu. Tolong jaga Yasmin untuk ayah."
"Iya, ayah."
Suasana sarapan pagi kali terasa nikmat dan suasana berjalan hangat. Meski menu yang tersaji tak seperti menu biasanya yang tersaji di meja makan keluarga Praja Bekti, namun rasanya cukup nikmat.
Usai sarapan, Aksa segera pamit berangkat sekolah bersama istrinya. Kedengarannya aneh, tapi tak bisa dipungkiri, bahwa keduanya tampak seperti pasangan yang serasi.
"Yasmin. Aku harap, kau mencium punggung tanganku seperti istri-istri kebanyakan. Bagaimana?" ucap Aksa dengan raut wajah jenaka.
"Astaga, aku harap kau juga bisa mengecup pelipisku sebelum kau memasuki kelas." ucap Yasmin asal.
__ADS_1
Sayangnya, sejurus kemudian, Aksa benar-benar mengecup mesra pelipis Yasmin di lorong menuju kelas mereka. Ya Tuhan, beruntung suasana sekolah masih pagi kali ini. Bila tidak, Yasmin pasti akan kesetanan karenanya. Aksa benar-benar keterlaluan.
**