Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Pacaran setelah menikah


__ADS_3

Keduanya lantas saling hanyut dan tenggelam dalam pusaran yang entah, Aksa maupun Yasmin pun tak mampu mendeskripsikan. antara rasa nyaman, semangat, dan juga sebuah keinginan yang menuntut.


Sebagai remaja yang beranjak dewasa dengan emosi yang labil, tak mungkin bagi Aksa mau pun Yasmin tak memiliki keinginan untuk saling menuntut dan memiliki. Keduanya seolah lupa dengan apa yang menjadi tujuan mereka.


"Harusnya kita turun dan seger masuk ke dalam Aksa, bukan justru begini." Yasmin menghentikan ciuman Aksa dan memalingkan wajahnya karena malu. Suara Gadis itu terdengar lirih, lemas dan tak memiliki tenaga untuk sekedar mendorong Aksa menjauh. Astaga, rasanya Yasmin ingin sekali mengutuk dirinya sendiri.


"Maaf. Apa... apa kau marah?" Aksa bertanya dengan ragu. Andai pun Yasmin tidak siap untuk disentuh dan tidak bersedia menerima Aksa sebagai suaminya, Aksa tak keberatan. Pemuda itu bisa menunggu sesabar mungkin untuk kesiapan istrinya.


"Aku... Ah sudahlah, aku juga........ emm aku juga..."


"Menikmatinya? Apa kau suka?" tanya Aksa yang blak-blakan tanpa filter sama sekali.


Sejenak Yasmin terdiam, masih tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Bahkan apa yang Aksa katakan, Yasmin tidak mendengarnya langsung. Yasmin terdiam dan melamun.

__ADS_1


"Jika kau tak suka tak apa, Yasmin. aku akan browsing untuk mencari tau, bagaimana berciuman yang nikmat dan bersensasi." Ungkapan Aksa, sontak membuat pipi Yasmin Merina merah karena malu.


"Hentikan, Aksa. Jangan suka menyela pembicaraan. Kurasa itu tak baik sama sekali." Mendengar ungkapan Yasmin, Aksa tertawa di tempatnya. Andai saja saat ini tak ada Aksa, ingin rasanya Yasmin melompat ke laut saja, siapa tau berhasil.


"Ya sudah, maaf, lain waktu mari kita bahas dan kau berhak merajuk. Ayo kita masuk sebelum mengusik ayah dan ibu yang tengah terlelap."


Yasmin diam tak bereaksi. Tapi ia merasa ingin sentuhan Aksa secara lebih. Tapi sudut kewarasannya yang lain mengharapkan ia tak sampai berbuat lebih dengan Aksa. Yasmin bimbang.


Aksa tersenyum simpul, senyum yang tak sampai hingga ke matanya. apakah itu artinya Yasmin mulai menerima dirinya sebagai seorang suami?


Keduanya lantas turun, memasuki rumah dengan pelan dan sedikit mengendap usai menutup pintu kembali. Hingga memasuki kamar, Yasmin segera berganti piyama tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Aksa yang berbaring menghadap pada langit-langit ruangan kamar.


Jantung Aksa seolah memompa dengan cepat. Gemetaran akibat menahan sebisa mungkin api gairahnya yang mulai tersulut akibat pakaian yang Yasmin kenakan.

__ADS_1


"Aksa, kau baik-baik saja?" tanya Yasmin yang tak menyadari, bahwa ia telah memancing Aksa untuk melakukan hak yang lebih padanya.


"Kau.... aku ingin dirimu." Yasmin mengerjakan matanya beberapa kali, menatap Aksa dengan tatapan yang sulit ia artikan.


"Ak-aku.... aku sebenarnya aku tidak siap, Aksa. Kau tau bahwa kita sama-sama muda dan juga.... masih, masih sekolah." Yasmin gugup. Benar saja apa yang menjadi ketakutanmta tadi, Aksa meminta jatahnya.


"Jadi, kau tak siap untuk melayaniku? Sebagai suamimu?" Aksa tersenyum lirih, sembari tangannya merapikan anak rambut Yasmin yang sedikit berantakan.


"Bukan, bukan begitu. Tapi, ini menurutku terlalu terburu-buru. Bisakah andai nanti kita ya, anggap saja kita pacaran. pacaran selepas menikah." Aksa terkekeh mendengarnya.


"Kau tau, Yasmin? Bahkan banyak seseorang yang berpacaran namun berakhir kandas di tengah jalan setelah mereka melakukan tindak amoral. Bukankah itu artinya, pacaran versi yang sama, juga akan memiliki sensasi yang sama pula? Ya sudah, mari kita tidur.


*"

__ADS_1


__ADS_2