Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Luka menganga


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Hanum?".


Radhi baru saja tiba. Di sisinya, Kara tersenyum dengan wajah Sendu.


"Sudah sadar, hanya saja ia masih kembali tertidur akibat pengaruh obat yang dokter berikan. Tidak ada luka parah yang akan berakibat fatal."


"Bagus.".


Hening.


Sejenak mereka larut dalam keheningan.


"Pa, mengapa berita menyebar bahwa kondisi Hanum kritis?".


"Ini rencana mama mu".


"Untuk apa?"


"Memancing siapapun di balik celaka yang di alami istrimu".


Wajah Kara menggelap.


"Apa mama mencurigai seseorang?".


"Ya".


"Katakan siapa? Karna aku mencurigai Dita lah dalangnya".


"Ya. Tapi berjanjilah bahwa kau tak akan bertindak gegabah kali ini. Biar mama mu yang mengurus".


"Baiklah, pa. Aku berjanji"


Rahang Kara seketika mengeras. Ada kemarahan yang jelas terpancar dari mata indahnya.


Kara adalah orang yang sangat totalitas. Bila ia berjanji, maka pantang baginya untuk mengingkari. Segala sesuatu yang ia janjikan, adalah bagian dari harga dirinya.


Sudah bisa di pastikan, Kara dapat di pegang janjinya.


Baiklah, kali ini Kara akan diam saja dulu dan menyerahkan pada mamanya. Tapi tidak menuntut kemungkinan, suatu hari bila ia menemukan kembali Dita mencelakai Hanum, maka tak akan pernah ada ampun untuknya.


"Bagaimana keadaan kak Riana?".


Sejenak kara mengalihkan rasa emosinya terhadap Dita. Ia tak ingin bila kemarahannya memuncak hingga berujung pada ketidak mampuannya mengendalikan Diri.


"Baik. Bayinya perempuan. Kau ingin menjenguknya?".


Radhi tersenyum bangga. Ada rasa bahagia saat ini, jelas ia tak bisa menyembunyikan rona itu di wajahnya.


"Ya, tentu saja. Tapi aku tak bisa untuk saat ini. Nanti setelah Hanum telah pulih, aku akan mengajaknya. Aku berjanji".


"Baiklah".


Radhi berlalu pergi.


Berbagai rencana tersusun di otak Kara.

__ADS_1


Demi tuhan, hanya dia dan Tuhan yang tau apa yang sedang Kara persiapkan.


*****


Di sebuah kamar yang cukup megah, Dita tengah mempersiapkan diri untuk pergi. Pergi adalah alternatif terbaik saat ini.


Sungguh, ia tak bisa membayangkan bila harus menikah dengan pria yang selama ini ia benci mati-matian.


Tidak banyak yang ia bawa. Beberapa dokumen penting serta beberapa step baju. Tak lupa pula sejumlah uang cash yang akan ia gunakan untuk biaya hidupnya.


Suatu saat, Dita akan kembali untuk memperjuangkan rasa yang ia miliki untuk Kara. Biarlah andai semua orang menjulukinya jalang. Ia tak mau bila terus menderita di sepanjang hidupnya bila harus menghabiskan sisa hidupnya bersama Daniel yang selalu ia benci.


Pernikahan telah di siapkan. Chandra juga telah mengumbar berita pernikahan sederhana Dita dan Daniel pada pelayan dan pengawal rumah kediaman Adi Prama.


Sungguh, Chandra benar-benar memutuskan pernikahannya secara sepihak.


Dita merasa dirinya juga berhak bahagia, berhak menentukan jalan hidupnya, berhak memutuskan bersama siapa ia akan menghabiskan seluruh waktunya.


Bahkan yang lebih menjengkelkan bagi Dita, Chandra tak membiarkannya untuk kembali ke apartemen.


"Hallo.... Sudah kah kau persiapkan semua?".


"...."


"Bagus. Aku tak mau bila ada yang curiga".


Dita memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Sungguh, kali ini Dita benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih kali ini.


Dita pergi di waktu dini hari untuk mengurangi resiko ketahuan. Meski was-was, namun tekadnya demikian kuat.


Dita tak mau kalah oleh keadaan.....


Dita tak mau menyerah pada kenyataan.....


Dita tak mau mati konyol karna hidup dengan pria se brengsek Daniel.


Tidak..... itu tak akan pernah terjadi.


*****


"Mas.....mas Chandra ......"


Dewi berteriak lancang menggaungkan nama suaminya. Nafasnya memburu menahan emosi dan kecewa. Takut pun kemudian juga ikut andil dalam menyusupi hati Dewi.


"Ada apa?"


Chandra muncul dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Pagi buta kau sudah berteriak-teriak".


"Di-di....Dita tak ada di kamarnya, mas. Dita pergi. I...ini...."


Dewi lebih memilih segera menyerahkan sepucuk surat yang Dita tinggalkan dari pada melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Peluh dingin membanjiri pelipisnya.


"Bagaimana ini, mas? Bagaimana bila Daniel....."


"Aku akan mengurus semuanya. Kau tunggulah disini".


Chandra bergegas keluar dengan langkah-langkah lebarnya. Aura wajahnya menggelap.


"Pengawal....!!"


Semua pengawal berlari menghampiri Chandra yang berteriak.


"Apa pekerjaan kalian hingga tak ada yang tau Dita pergi dari rumah, hah??"


Raut terkejut tentu tercetak jelas di wajah para pengawal. Mana mungkin Dita berhasil pergi sedang keamanan rumah telah diperketat hingga sedemikian rupa.


Dengan langkah berani, Kepala pengawal segera maju dan menunduk.


"Maaf, tuan. Saya rasa, ada yang membantu nona Dita pergi. Dengan keamanan seketat ini, mustahil nona Dita bisa lolos begitu saja bila tak ada yang membantunya melarikan diri."


"Aku tak mau tau, Cari dan temukan Dita!!".


Chandra marah.....


Chandra murka.....


Chandra kalap.....


Chandra tak bisa menahan dirinya.


Ia tak tau apa yang akan ia katakan pada Daniel nanti bila Dita tak juga di temukan. Bahkan Chandra telah menjanjikan pada Daniel untuk Dita di jadikan istri.


Bila Dita pergi begitu saja, bukankah nama Chandra akan tercoreng karna hanya menjanjikan sebuah omong kosong?


Nama baik Adi Prama taruhannya.


"Wi....."


"Ya mas"


"Perketat penjagaan Hana. Aku tak mau Dita memiliki celah sedikitpun untuk membawa lari Hana serta. Ingat...... Aku tak akan segan mencoretnya dari hak ahli waris bila ia tak bisa menjaga nama baik Adi Prama.


Aku sudah berbaik hati memungutnya dari sampah, dan ia tetap menunjukkan nilainya sebagai sampah.


Aku tak habis pikir, Ia sama bobroknya dengan Mona dan....."


"Dan juga sama bobroknya dengan dirimu di masa lalu".


Dewi berbalik dan berlalu pergi.


Luka lama itu, kembali menganga.


Menaungi sisi hatinya yang remuk redam saat mengingat Chandra pernah berpaling darinya.


🍁🌻🌻🌻🍁

__ADS_1


__ADS_2