Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti

Elang Putih Sang Praja Bekti , Aksa Gavin Praja Bekti
Bertemu Radhi


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang cukup luas, Aksa tengah fokus dengan pekerjaannya. Lelaki itu mulai terjun pelan-pelan ke perusahaan, sebagai karyawan biasa, dengan jam kerja yang hanya dua hingga tiga jam per hari.


Beberapa hari lagi, Aksa juga harus berangkat ke LA untuk menempuh pendidikan disana. Lelaki itu hanya berharap, Yasmin akan tetap baik-baik saja saat ia tak berada di rumah. Hari-hari Aksa, tentu K diwarnai kerinduan nanti.


"Hai, Aksa. Apa kabar?" Hana tiba-tiba muncul di ruangan Aksa.


"Hai, Hana. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Aksa bertanya balik, lalu kembali fokus pada tabel angka pada layar laptopnya.


"Aku baik. Aku belum makan siang hingga sore begini, maukah kau menemani aku untuk makan siang?" Tanya Hana penuh harap. Entah mengapa, ia sangat merindukan Aksa. Rasa ingin memiliki dalam hatinya kian meronta kuat.


"Oh, maafkan aku, Hana. Kali ini aku tak bisa kemana-mana. Kau bahkan tahu, bahwa jam kerjaku seperempat jam kerja normal." Aksa tersenyum, menatap sekilas pada Hana, sebelum kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.


"Yah, semenjak kau menikah, kau selalu sibuk dan tak bisa memberiku waktu sedikit saja untuk berbincang." Keluh Hana.


Dalam hati Aksa, masa bodoh dengan Hana. Pemuda itu bahkan sangat tak sabar untuk mengerjakan pekerjaannya lebih cepat agar segera bertemu dengan sang istri.

__ADS_1


"Maaf, tapi memang aku harus menaruh waktuku, untuk mulai kuliah sebentar, sebelum berangkat ke LA. Kurasa kau harus memaklumi itu." Jawab Aksa kemudian.


"Aksa, aku . . . sebenarnya aku ingin bicara sesuatu hal padamu. Hanya saja, kau tak memberiku celah waktu. Aku janji, tak akan lama." ucap Hana seperti mengiba.


"Ya, akan aku beri kabar nanti jika ada jadwal kosong." Jawab Aksa, untuk menghindari pembicaraan dengan Hana.


"Terima kasih, Aksa. Kau bisa menghubungiku, nanti." Ungkap Hana, sambil berlalu pergi begitu saja.


Hati wanita itu terlanjur bahagia dan bersorak girang. Dengan langkah ringan, Hana melangkah keluar dari sana, menuju ke arah pintu lift. Sayangnya, suara seseorang membuat Hana terkejut, dan refleks menghentikan langkahnya.


"Oh, em, aku, aku sendirian, eyang." Hana menjawab dengan gugup.


"Ikutlah denganku, aku akan bicara sesuatu hal yang penting denganmu."


Syarat Radhi yang penuh wibawa dan berkharisma, membuat Hana merasa ngeri sendiri.

__ADS_1


Sejauh yang Hana kenal, Radhi adalah sosok lelaki yang sangat lemah lembut, namun mendominasi. Sejauh kabar yang Hana dengar, rumornya Radhi adalah orang yang tenang, namun bisa menghanyutkan. Membayangkan ia akan berbicara dengan Radhi, membuat nyali Hana menciut. Padahal Radhi hanya sebatas ingin bicara.


Seumur hidup Hana, ia tak pernah menyangka bahwa ia akan memasuki ruangan paling luas, milik orang nomor satu di perusahaan ini. Sebuah perusahaan Nugraha yang digabung Radhi dengan perusahaannya sendiri semenjak Nugraha, meninggal.


Ruangan yang di dominasi warna putih dan coklat tua itu, memperkuat kesan tegas yang dimiliki Radhi.


"Bersama siapa tadi kau datang, nak? Apakah diantar sopir?" Tanya Radhi, ketika Hana baru saja ia persilahkan untuk duduk di sofa.


"Iya, eyang. Hana diantar sopir kantor tadi. Maaf kalau, mengganggu. Tapi sungguh, Hana ditugaskan untuk mengantar sebuah dokumen atas perintah opa Chandra." Jawab Hana pelan.


"Baiklah. Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu. Dengar, kau harus mengambil pelajaran dari kisah yang akan aku ceritakan padamu." Ucap Radhi


Hana hanya mengangguk, mencoba untuk bersikap pasif. Hening menyelimuti keduanya, hingga kemudian Radhi membuka percakapan yang membuat bulu kuduk Hana merinding.


**

__ADS_1


__ADS_2